Uji Coba Berakhir

14 2 2
                                        

Pertandingan terus berlanjut hingga set ketiga menjadi penentuan, meskipun uji coba tapi semangat bertanding mereka luar biasa. Kali ini Nicol ikut andil dalam pertandingan, pelatih tak mau menurunkan Nizar terus menerus. Perandingan terjadi begitu sengit hingga akhir set dan kemenangan berhasil di raih oleh SMA Harapan.

Semua terlihat lesu begitu juga dengan Rendy yang tadinya bersemangat seolah semangatnya luntur begitu saja. Semua kembali berkumpul di pinggir lapangan setelah memberi selamat pada lawan, meski bagaimanapun mereka harus sportif. Kalah ataupun menang dalam permainan atau pertandingan sudah biasa, tidak bisa semua tim menang.

Pelatih hanya tersenyum kearah mereka seperti bukan senyum kekecewaan tapi senyum bangga. Dan memberikan jempolnya ke arah mereka lalu pergi.

"Hah, apa-apaan itu pelatih kenapa bisa sesantai itu?" kata Yoga heran.

"Maksudnya pelatih itu, meskipun kita kalah kita tetap terbaik, semua sudah berusaha." Kata Mahfud sedikit menghela nafas. Semua menatap kearahnya.

"Loh, lo kok jadi paham maksud pelatih gini? Jangan-jangan lo udah mulai peka sama pelatih ya? Udah mulai lengket?" kata Bayu meledeknya.

"Apaan sih, gue ngerasain juga kok gimana kita main. Udah bagus Cuma entah mereka emang kuat aja. tapi di turnamen nasional nanti gue yakin sih kita bakal menang lawan mereka." Lanjut Mahfud.

"apanih? Padahal tadi mukanya pesimis gitu tapi sekarang jadi optimis gini?" tanya Rivan. Mahfud menatap Rivan yang seolah tersenyum mengejek.

"wow, sekarang Kapten sudah peka sama pelatih ya. Kapan ya dia peka sama perasaan orang lain?" ledek Bayu dan beranjak pergi.

"Peka sama siapa bay?" tanya Rivan penasaran.

"Kagak ada dia mah bisanya Cuma ngeledek bae. Udah mending ganti yuk." Ajak Mahfud sambil merangkul pundak Bayu agar berhenti bicara yang tidak-tidak. Rivan semakin penasaran dan berusaha mendesak Bayu namun kini Bayu berada di ketiak Mahfud.

"Eekk...bisa mati gue kalau kaya gini woy." Teriaknya. Pemandangan itu sering terjadi akhir-akhir ini, Rivan merasa seperti ada yang Mahfud sembunyikan.

Yuda berjalan dengan lunglai menuju ruang ganti disusul oleh Yoga yang tahu kenapa sahabatnya menjadi semakin tak bersemangat itu. Resta dan Vanya membereskan semua peralatan yang telah digunakan.

"Heuh pada kemana sih orang-orang bukannya bantuin." Teriaknya kesal saat di gedung itu hanya ada dirinya dan Vanya. Vanya yang ikut membereskan hanya tersenyum.

"Mungkin pada sibuk dengan urusannya masing-masing, udah mending kita beresin dulu terus susul mereka." katanya lembut.

"Kak, berarti selama ini saat nggak ada gue kak Vanya beresin ini sendirian?" tanya Resta dengan suara pelan.

"Nggak juga sih, kadang ada yang siap bantuin gue kapan aja." dan ucapan itu membuat Resta penasaran siapa orang yang dimaksud.

"Terus kemana dia? kenapa nggak bantuin? Apa karena kita kalah terus pada sedih gitu pada melakonis gitu?"

"Dia dan timnya sering kalah kok walapun kalah dia nggak pernah absen bantuin gue, hem mungkin sekarang memang ada urusan aja." katanya lalu menghela nafas berat.Resta seperti meliat ada sesuatu yang ditutupi dan beban berat.

"Kak, berarti dulu SMA Pemuda sering kalah?" tanya Resta.

"Iya, bahkan kita ikut turnamen nasional tapi Cuma sampai babak kualifikasi aja. kita kekurangan pemain bagus."

"Bukannya ada kak Rivan, Rendy, Bayu, Nicol?" mereka bagus kan?" tanya Resta penasaran.

"sebelum mereka masuk kita nggak bisa menyentuh babak kualifikasi tapi setelah mereka masuk kita bisa masuk kualifikasi, gue rasa tahun ini kita bisa lebih kalau lihat permainan mereka yang bagus." Jelas Vanya sambil membereskan bola-bola yang masih berserakan. "Dulu kapten hanya bermain sendirian, maksudnya dia kaya Cuma berjuang sendirian sementara yang lain seperti tak mau ikut andil makanya kami jarang menyentuh babak kualifikasi, sejak ada Rivan, Rendy dan Nicol mereka bermain kompak tapi ya mental juang mereka belum terasah." Lanjutnya.

Let's Go Do It!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang