Jam istirahat dimulai dan Natly teman sebangkunya sibuk mengumpulkan tugas di kelas. Resta yang melihat itu segera menghampirinya dan berniat mengajaknya ke kantin.
"Nat, lo ngapain ngumpulin tugas anak-anak?" tanya Resta
"Halim yang nyuruh gue buat naro ini ke meja Pak Samsul."
"Ih, ketua kelas nggak bertanggung jawab ngapain sih nyuruh orang lain."
"Dia lagi ada urusan penting katanya jadi gue di mintain tolong, lo mau bantuin nggak?" tanya Natly yang membereskan buku tugas milik semua siswa di kelas. Resta yang merasa kasihan dengan temannya itu hanya menghela nafas dan ikut mengambil setumpuk buku. Mereka membaginya menjadi dua. Resta baru mengenal Natly namun seperti sudah mengenal lama, mereka sangat dekat. Mungkin karena mereka adalah teman satu meja. Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah menuju kantor guru. Awalanya tak ada percakapan sedikitpun diantara mereka hingga Natly membuka obrolan.
"Tadi kak Vanya kenapa nyariin lo?" tanyanya sedikit tersenyum, itu adalah ciri khas Natly. Bahkan Resta tak pernah melihat Natly marah.
"Lo kenal dia?"
"Iya tahu aja, kan dia manajer tim voli dan sekaligus murid yang populer karena prestasi dan parasnya yang cantik." Sunguh Resta terkejut Natly mengetahui orang yang tak Resta tahu. Bahkan ia juga memuji orang lain, ah Natly memang orang baik.
"Jadi dia orang terkenal ya." Gumam Resta lalu di balas dengan lirikan seolah Natly ingin jawaban bukan gumaman. "Oh, itu dia minta gue gabung di tim voli jadi sama kaya dia manajer." Lanjut Resta karena sadar akan tatapan Natly.
"wah seru dong." Kali ini Natly terlihat gembira.
"Gue aja kaya males buat gabung, masalahnya gue nggak paham yang begituan." Kata Resta malas.
"Jangan gitu lah, ntar lo juga tahu gimana tugasnya dan kenal sama banyak orang." Natly masih bersemangat.
"Hem, gue masih mikir-mikir Nat."
"Kenapa nggak langsung diterima aja?"
"Ya karena gue nggak paham dan nggak suka."
"Ini kesempatan lo belajar banyak hal, jadi jangan sia-siain ya walaupun lo Cuma sebagai manajer bukan pemain kalau lo bisa ambil kesempatan pasti kedepannya bakal bagus."
"Sok bijak lo, lagian yak kalau gue terima itu juga karena gue di suruh milih ekskul." Resta merasa kesal entah kenapa dia melihat Natly yang justru bersemangat bukan dirinya bahkan dirinya seperti tak punya semangat sama sekali untuk bergabung. Tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya dari arah depan membuat semua buku yang ia pegang berjatuhan kelantai. Begitu juga dengan dirinya yang ikut terjatuh, dan orang itu juga terjatuh bersamaan dengan topi yang ia kenakan.
"Aduh, lo tuh ya bisa nggak sih jalan lihat-lihat udah tahu ada orang main tabrak aja." kata Resta kesal sambil memegangi sikunya yang sedikit lecet. Sementara orang itu hanya mengambil topinya dan berdiri.
"Sorry ya gue nggak sengaja." Katanya tersenyum sambil memakai topi yang tadi terjatuh lalu beranjak pergi tanpa merasa berdosa. Melihat hal itu Resta semakin jengkel dan mengomel tanpa henti. Natly hanya tersenyum sambil memunguti buku yang berserakan.
"Dasar cowok aneh, slengekan, nggak jelas nggak tahu sopan santun, nggak bertanggungjawab." Resta terus mengomel sambil mengumpulkan buku-buku. Tiba-tiba seseorang datang dan berjongkok di dekat Resta.
"Maafin temen gue ya, emang orangnya suka aneh-aneh tapi sebenarnya baik." Katanya tersenyum sambil membantu memunguti buku. Resta terkesima dengan orang yang ada di dekatnya ia justru menjadi diam canggung. Lelaki itu memberikan buku yang sudah ia pungut kepada Resta.
"Sekali lagi sorry ya." Katanya sambil tersenyum manis.
"Eh iya." Resta ikut tersenyum. Ia seperti terhipnotis oleh senyum orang yang barusan membantunya dan sekarang sudah pergi. namun Resta masih bengong menatap udara kosong.
"Namanya Kak Rivan, Kelas XI IPA A orangnya emang baik banget dan ramah." Mendengar suara Natly lamunan Resta buyar dan kembali tersadar. Ia sadar sedari tadi ia hanya membuka mulutnya beruntung tak ada lalat masuk. Dan sekali lagi Natly tahu orang yang tak Resta tahu.
"Beda banget kan sama yang satu lagi, namanya kak Rendy mereka sahabatan bahkan sekelas tapi karakternya beda banget yang satu tengil, usil dan kelihatan nggak pernah serius sementara yang satu kelihatan adem, tenang dan ramah." Sekali lagi Resta dibuat bengong oleh penjelasan Natly yang tak sedikitpun Resta ingin bertanya namun sudah di jelaskan. Ia heran mereka sama-sama murid baru di sekolah ini tapi kenapa Natly lebih mengetahui banyak hal dibanding dirinya.
"Udah yuk biar bisa ke kantin gue laper." Kata Resta setelah melihat mulut Natly yang hampir mangap karena ingin menjelaskan sesuatu. Mereka segera memasuki runag guru dan mencari meja pak samsul. Tidak butuh waktu lama untuk mencari karena kebetulan mejanya tidak jauh dari pintu dan sudah jelas terlihat ada plakat namanya. Namun tidak hanya itu ternyata pak samsul ada di sana juga bukan di mejanya tapi di ruangan yang lain. Melihat ada dua siswa berada di dekat mejanya ia segera menghampiri.
"Kalian sedang apa di meja bapak?" tanyanya.
"Ini pak kami mengumpulakan tugas yang tadi bapak perintah."
"Lho ketua kelas kemana?" tanyanya.
"Sibuk mungkin pak." Sahut Resta malas membahas sang ketua kelas.
"baiklah terimakasih sudah mau mengumpulkan." Kata Pak Samsul tersenyum. Mereka lalu pamit dan beranjak pergi. namun langkah mereka terhenti kembali.
"Kamu Resta ya?" tanyanya dan Resta hanya mengangguk, "saya ingin bicara dengan kamu sebentar." Katanya lagi membuat Natly harus menunggu di luar.
Natly yang menunggu sedikit khawatir takut kalau Resta berbuat salah dan akan di hukum. Pak samsul selain seorang guru matematika ia juga seorang wali kelas mereka. jadi Natly mulaiberpikir kalau Resta telah melakukan kesalahan hingga harus menghadap wali kelas. Selang beberapa lama Resta keluar dengan wajah yang tak bisa di baca oleh Natly.
"Ada apa?" tanya Natly hati-hati. Sementara itu yang ditanya hanya menggeleng dan juga melangkah menuju kantin.
***
Terimakasi yang sudah membaca, boleh komen dan vote uga kok bebas.
Aku masih bingung nanti lebih ke kehidupan di luar Voli atau lebih ke teknik-teknik voli, pengennya sih dua-duanya tapi apalah aku yang nggak paham teknik voli.
Sumber Gambar: http://rajapena.org/persahabatan-lintas-agama/
KAMU SEDANG MEMBACA
Let's Go Do It!
Teen FictionJika kau ingin melakukan yang terbaik, lakukanlah sekarang. Jika kau ingin menyerah, menyerahlah sekarang. Tapi aku yakin kau tak akan mau melakukan itu. ~~~ Cerita ini hanya fiktif meskipun banyak nama tokoh yang di gunakan adalah nama pemain voli...
