Natly melihat ke arah temannya yang hanya menyandarkan kepalanya di meja. Ia seperti melihat beban yang berat di punggung temannya itu, sehingga tak bisa lagi untuk berdiri tegak.
"Mau jus anggur?" tanya Natly menyodorkan sekotak jus anggur. Resta hanya menoleh, menghembuskan nafas dan mencoba duduk tegap lalu menggeleng. Ia kembali menaruh kepalanya seperti semula.
Seseorang melempar spidol ke arahnya dan tepat membuatnya terkejut sekaligus kesakitan, Resta segera bangkit dan melihat siapa yang melakukan itu. Sosok yang membuatnya selalu kesal dan marah tertawa puas di depan kelas.
"Haliiiiimmmm.... sini lo gue hajar." Kata Resta kesal dan berlari mengejarnya si pembuat masalah pagi ini.
"Wek, nggak kena. Hahaha.." Halim terus saja mengelak. Natly yang melihat itu hanya tersenyum begitu juga Hadi mereka berdua saling pandang dan tersenyum seperti mengisyaratkan sesuatu.
"Halim berhenti!" teriak Resta sementara Halim terus berlari sambil meledeknya, membuat Resta semakin kesal. Hingga tak di sangka ia menabrak pintu kelas saat berjalan mundur.
"Hahaha...rasain makanya jangan usil." Kata Resta sambil menghampiri Halim dan pukulan mendarat di punggung orang itu berkali-kali membuatnya kesakitan.
"Eh, ngapa lo mukulin gue? Gue tuh Cuma mau ngasih tahu tugas lo belum di kumpulin tuh." Kata Halim membuat Resta berhenti memukulinnya. Ia teringat tugasnya belum ia kumpulkan. Ia segera berlari menuju tasnya dan mencari bukunya untuk di kumpulkan. Beruntung tugas penting itu tak tertinggal, sebenarnya semalam pulang dari minimarket ia langsung merebahkan badannya dan tidur bahkan ia tak mengecek jadwal hari ini. Tapi keberuntungan berpihak padanya.
"Nih, kalau mau ngasih tahu yang baik-baik apa, benjol nih kepala gue gara-gara lo."
"Biar lo nggak tidur mulu."
"Apaan, gue nggak tidur harusnya lo tuh begitu sama si..." ucapan Resta terhenti saat akan menunjuk Nizar yang tadi duduk di mejanya kini sudah tak ada. entah kemana perginya orang itu, padahal jam pelajaran akan dimulai.
"Siapa? Nizar maksud lo? Dia udah ngumpulin dan dia izin ke UKS." Kata Halim sambil mengambil buku Resta dan kembali ke tempat duduknya. Pikirannya tentang Nizar mulai muncul lagi, tentang kemampuan Nizar dan rasa tidak percaya dirinya, kesempatannya dan orangtua nya menyikapi itu.
***
Nicol berjalan di lorong kelas menuju kantin sambil bersendau gurau dengan teman-temannya. Melihat tingkah konyol teman-temannya membuatnya tertawa lepas. Mungkin itu adalah hal yang nanti akan ia rindukan, ia tak mau memikirkannya lebih ia hanya mau menikmatinya saja.
"Nic, lo kapan perginya?" tanya seseorang berambut keriting.
"Ngapa lo? Pengen gue buru-buru pergi?" tanya Nicol dengan senyuman mengejek.
"Apaan sih gue nanya doang, kita-kita pengen ngabisin waktu bareng lo sebelum lo pergi."
"Haha, baper lo gue gituin doang melow. Paling nanti sebelum turnamen."
"Lo nggak mau ngikut turnamen nasional?"
"Hem, kalau bisa gue ikut."
"Eh Nic, tu bukannya cewek yang ada di eskul lo ya?" kata seorang yang mengenakan topi menunjuk ke arah perempuan yang berjalan mendekat. Sontak semua mata tertuju pada objek yang di tunjuk.
"Wah iya, manis juga tuh cewek. Ngapain yak ke kelas XI." Sahut temannya yang berpakaian kurang rapi.
"Jangan-jangan nyariin lo Nic, ciee." Seru seorang berbada cukup tegap.
"Hem, paling nyariin Rivan." Sahut Nicol. Mereka yang awalnya hanya berhenti kini berjalan seperti biasanya mendengar nama Rivan di sebut oleh temannya itu. Memang Rivan adalah salah satu murid paling populer di sekolah itu, selain tampangnya yang di elu-elukan prestasinya juga menjanjikan. Banyak yang minder terhadapnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Let's Go Do It!
Teen FictionJika kau ingin melakukan yang terbaik, lakukanlah sekarang. Jika kau ingin menyerah, menyerahlah sekarang. Tapi aku yakin kau tak akan mau melakukan itu. ~~~ Cerita ini hanya fiktif meskipun banyak nama tokoh yang di gunakan adalah nama pemain voli...
