21: Letting go

7.6K 454 9
                                        

Terdengar suara helaan nafas panjang dari seorang lelaki yang baru saja datang dengan wajah datar itu. Menyandarkan diri ke salah satu pohon yang menghadap langsung sebuah danau buatan di sana, Devan lagi-lagi berdecak.

Ya, disinilah tempat di mana Devan biasa menyendiri. Di taman sebuah danau buatan yang terletak tak jauh dari rumah sang kakek —Ayah dari mendiang ibu Devan.

Pikirannya terus tertuju pada Aldan yang menatapnya marah dan tangan mengepal saat mengetahui siapa yang menemuinya di belakang sekolah tadi.

Meskipun begitu, Devan masih bisa tersenyum tipis saat melihat tawa bahagia Shila di pinggir lapangan.

Mereka bahkan belum memiliki hubungan yang jelas. Kenapa Aldan terlihat sangat posesif? Apa Aldan benar-benar secinta itu pada Shila? Dan apakah cinta bisa dipaksakan seperti ini?

Kalau Shila memang lebih memilih Aldan, memang tidak ada pilihan lain bagi Devan selain mundur dan berusaha melepaskan perempuan yang menjadi pemilik hatinya itu. Tapi, Devan maupun Aldan saja tidak tahu apa isi hati Shila yang sebenarnya. Yang jelas, sifatnya berubah-ubah dan membuatnya tidak bisa menebak dengan bermodalkan prasangka.


Ia pernah membuat Shila menangis dan mungkin.. perempuan itu memiliki rasa benci padanya. Tidak ada yang tahu.

Perkataan Aldan kemarin yang menuntut agar ia membalas perbuatan baiknya selama ini dengan cara mengalah, kembali terngiang di telinganya.

Lucu memang saat Devan menyadari fakta bahwa di dunia ini, semua menginginkan balas budi.

Devan berusaha berpikir keras untuk sekedar menemukan titik terang. Tapi otaknya seperti buntu dan hatinya malah terus menyerukan satu kata yang sama.

Melepaskan.

Apakah Devan harus berusaha untuk melepaskan Shila? Agar dia menemukan kebahagiaan meskipun bukan bersamanya?

Haruskah?

"Tapi gue masih sayang sama lo, Shila."

***

"Kamu belajar sendiri bisa kan, Shila? Soalnya Devan bilang langsung sama saya nggak bisa ngajarin kamu lagi."

Perkataan Bu Siska beberapa saat yang lalu itu terus terngiang di telinga Shila, entah kenapa.

Rasanya ada yang aneh saat Devan tiba-tiba mengatakan tidak bisa menjadi guru dadakannya lagi, tanpa alasan.

Minggu depan sudah ujian, nilai Shila yang dipertaruhkan. Bahkan Bu Siska terus mengancam akan memberi hukuman jika nilai ujiannya dibawah tujuh.

Shila menghela nafas kesal. Ingin marah tapi tidak tahu kenapa.

Kenapa nggak bilang langsung aja?

Satu pertanyaan itu tiba-tiba muncul dibenaknya. Berbagai macam opini mulai bermunculan diotaknya. Apalagi kemarin Rendy mengatakan bahwa Devan seolah menghilang. Hanya muncul di sekolah dan setelah itu... entah pergi kemana dan dengan siapa.

Padahal saat tim mereka memenangkan pertandingan tiga hari yang lalu, Devan sempat melempar senyum manis kearahnya.

Setelah itu, mereka belum sempat saling berbicara lagi karena Devan selalu menyendiri di perpustakaan saat jam istirahat.

Dear My ExCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang