Setelah kepergian Saint, Perth memelih untuk membersihkan dirinya dan segera tidur.
Sebelum itu dia menghubungi temannya karena tak bisa berangkat ke sekolah.
"Shiaa!! Kau kemana saja?
Kami menunggumu dari tadi, sebentar lagi ujiannya akan di mulai. Tak biasanya kau melewatinya."
"Diamlah ai Pond.. aku tak bisa mengikuti ujian hari ini, tolong izinkan pada guru. Badanku terasa remuk, sekarang aku hanya butuh istirahat, dan untuk kalian jangan ganggu aku dulu."
"Tapi.. kau kenapa? Apa kau sakit? Bukankah tadi Mark bilang kalau kau sudah bersiap pergi ke sekolah?"
"Aku tadi memang sudah berangkat, tapi ada yang menghadangku di jalan tadi dan berakhir babak belur."
"Oke oke..!! istirahatlah.. nanti malam aku ke tempatmu."
"Hemb. Terimakasih ai Pond.."
Setelah itu Perth merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Menatap langit-langit kamarnya, menerawang entah kemana. Sampai dia tertidur dengan sendirinya.
Sesampainya di kampus Saint bergegas menuju kantin, karena sudah ada yang menunggunya.
"Apa kau sudah lama menungguku?" Saint mendudukan dirinya, beberapa orang terutama para gadis melihat kearahnya dengan tatapan memuja dan saling berbisik. Tapi Saint tak pernah menggubrisnya.
"1 jam." Jawab pemuda yang ada di depan Saint,dengan wajah yang sudah terlihat kesal. Sedangkan Saint hanya tersenyum mendengar jawaban pemuda itu.
"Oh... Hanya 1jam. Kenapa kau terlihat kesal sekali ai Tee? Apa Copter tak datang bersamamu?"
Tanya Saint sambil menoleh ke arah kanan dan kirinya. Mencari sosok pemuda imut dengan lesung pipit itu.
"Jangan tanyakan dia. Aku tak tau, dari semalam apartemennya kosong. Mungkin dia ada di tempat phi Kim."
"Oh."
"Kau dari mana saja? Aku hampir meninggalkan tempat ini kalau kau tak segera datang. Dan bahkan nomormu tak bisa aku hubungi."
"Oh. Aku lupa menghidupkan ponselku tadi sebelum berangkat. Hehe.."
"Ck. Kau yang menyuruhku untuk menemanimu di sini tapi malah kau yang datang terlambat. Menyebalkan."
"Jangan marah-marah nanti kau tak cantik lagi Tee.." Saint tersenyum menggoda pada sahabatnya itu.
"Aishh.. aku tampan bukan cantik Saint. Kenapa kau selalu bilang kalau aku itu cantik? Padahal wajahmu tak berbeda dariku. Malah kau lebih terlihat seperti perempuan."
Tee mencoba mengelak. Dan Saint hanya mengangguk, seolah menyetujui ucapan Tee.
"Yaa.. kau bisa berkata apapun sesukamu. Tapi yang pasti aku tak akan rela jadi yang di bawah seperti mu. Jika aku punya kekasih pria."
Mendengar ucapan Saint seketika itu wajah Tee memerah karena malu.
"Dan lihatlah wajahmu sekarang? Memerah seperti seorang gadis yang sedang kasmaran."
Saint menggeleng melihat tingkah laku sahabatnya itu. Dia selalu bilang kalau dia itu seorang laki-laki manly yang tampan.
Dan yaah memang banyak gadis yang ingin menjadi kekasihnya. Tapi ternyata dia lebih memilih untuk berkencan dengan seorang pria. Dan lebih parahnya dia rela menjadi seorang yg ada di bawah. Sungguh ironi menurut Saint.
Dan satu lagi sahabatnya yang berdimple itu sifatnya tak jauh berbeda dari Tee. Mereka sama-sama bertingkah seperti anak gadis saat bersamaan dengan kekasihnya.
Jadi di sini tinggal Saint seorang yang menurutnya masih normal.
Kalaupun nantinya dia berkencan dengan seorang pria, dia tak akan pernah mau menjadi yang di bawah. Melihat kedua sahabatnya setiap selesai liburan berjalan dengan aneh. Itu membuatnya bergidik ngeri.
Apakah sesakit itu? Pikir Saint. Dan kenapa kedua orang itu masih setia dengan pasangan mereka, kalau berakhir dengan sakit di pantat mereka.
Plak
"Hei apa yang kau pikirkan?
Kenapa wajahmu menjadi aneh begitu?" Dan datang juga pria menyebalkan menurut Saint.
Pria berdimple itu duduk di sebelah Saint.
"Apa tak bisa sekali saja kau tak memukul kepalaku? Kalau aku tiba-tiba bodoh bagaimana?"
Saint mengusap kepalanya yang di pukul tadi, sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ai Saint.. kau belum menjawab pertanyaanku tadi, kenapa aku bisa sampai menunggumu 1 jam di sini? Apa yang sedang kau lakukan?" Tee kembali mengintrogasi Saint.
"Aku hanya sedang menolong seseorang yang menangis di pinggir jalan." Jawab Saint santai.
"Au apa sekarang kau membuka panti sosial? Kenapa peduli sekali?" Copter menimpali ucapan Saint dengan nada mengejek.
"Aku bukan orang yang kejam, yang tidak peduli pada seorang anak SMA yang wajahnya banyak sekali luka lebam dan sedang menangis." Tee mengangguk mendengar jawaban Saint.
Copter yang melihat Saint sedang tersenyum menajamkan tatapannya pada Saint. Apa yang di pikirkan sahabatnya itu sampai dia tersenyum sendiri.
"Kenapa kau tersenyum sendiri hah? Apa kau senang menjadi malaikat penolong sekarang?"_Copter
"Apa dia menarik sampai bisa membuat seorang Saint yang sudah banyak menolak beberapa gadis cantik, jadi tersenyum seperti orang yang sedang jatuh cinta?"_Tee
"Mungkin." Jawab Saint singkat. Dan kedua sahabatnya itu hanya saling pandang seolah tak percaya pada ucapan Saint.
"Aku ingin bertemu dengannya lagi. Dia begitu manis dan tampan. Lain kali aku akan menunggunya di tempat itu."
Setelah mengatakan itu Saint pergi meninggalkan kedua sahabatnya yang masih heran dengan tingkah laku Saint.
______________________
___________________
________________
KAMU SEDANG MEMBACA
You are my world (End)
FanfictionRank #1 Saint 30/01/19 Rank #1 SonPin 30/01/19 Rank #1 Perth 06/02/19 "Bertemu denganmu merubah ke hidupkanku yg tadinya biasa saja berubah menjadi lebih berwarna, ke ceriaanmu yang menyimpan banyak luka, telah membuatku sadar.. bahwa aku tak hanya...
