21. Spoiled

4K 552 24
                                        

Prilly tahu ia telah melakukan kesalahan. Dulu, dari Prilly maupun Bio belum ada yang mengakhiri hubungan mereka. Tapi Prilly menganggap bahwa kepergian Bio adalah akhir dari semuanya. Pikir saja, bertahun-tahun Bio tidak memberi kabar, apakah seorang perempuan masih betah menanam kepercayaan pada pria semacam itu?

Tapi, ada sesuatu yang mengganjal dan membuat Prilly gelisah. Jantungnya berdetak tidak keruan seperti pertama kali ia jatuh cinta dengan Bio. Apa artinya ini? Apa Prilly masih menyimpan rasa untuk Bio? Ah tidak-tidak, sekarang cintanya hanya milik Alindra, dan Prilly begitu percaya kepada Alindra bahwa suaminya itu tidak akan pernah meninggalkannya seperti halnya Bio.

Lamunan Prilly pecah ketika sopir yang merupakan bodyguard Alindra berkata bahwa mereka telah sampai di rumah sakit. Sedari tadi ia terus memikirkan Bio, ah bukan, lebih tepatnya memikirkan mengapa Bio harus kembali diwaktu yang salah.

Bodyguard itu membukakan pintu mobil untuk Prilly, tak lupa Prilly mengucapkan terima kasih kepadanya dan juga menyarankan untuk tidak bersikap terlalu formal. Prilly mau apa adanya, tidak mau terlalu berlebihan meskipun itu atas perintah Alindra.

"Kamu tunggu di mobil aja ya, saya sebentar kok," ucap Prilly.

"Baik, bu!" sahutnya.

Prilly berjalan untuk mengambil nomor antrean, tak lama kemudian ia langsung dipanggil karena kebetulan sore ini rumah sakit tidak terlalu ramai. Prilly melempar senyum menyapa seorang dokter wanita paruh baya yang tengah duduk di sofanya, dan dokter itu membalasnya dengan senyuman lebar.

"Selamat sore, silakan duduk dulu. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.

"Ah iya, dok, terima kasih!" ucap Prilly sambil menjatuhkan pantatnya ke atas kursi. "Begini, dok, akhir-akhir ini saya merasa badan saya nggak enak semua, udah gitu kepala saya sering pusing," keluh Prilly.

"Baik. Mari saya periksa lebih dulu," katanya sambil mempersilakan Prilly merebahkan diri ke atas brankar untuk segera diperiksa. Setelah itu, Prilly juga melakukan tensi darah karena ada keluhan pusing yang sering ia alami akhir-akhir ini. Takut ada darah tinggi.

Selepas itu, Prilly kembali duduk ke kursi menunggu dokter wanita paruh baya itu. Hanya butuh waktu lima menit, dokter yang tadi memeriksa Prilly kembali dengan sebuah selembaran kertas hasil laboratorium.

Dokter itu tersenyum mengeluarkan hasil laboratorium tersebut dari dalam amplop, kemudian ia membacanya sebelum memastikan yang sebenarnya kepada Prilly.

"Tuh kan, saya benar hehehe," katanya.

"Benar apa ya, dok? Saya kurang paham," ujar Prilly.

"Pusing yang sering ibu alami itu wajar untuk kandungan yang baru berusia tiga minggu, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja ibu harus menjaga kesehatan dan jangan terlalu kelelahan, karena hamil muda sangat rentan sekali terhadap apapun,"

"Ha-hamil, dok?" tanya Prilly.

"Iya. Selamat ya, bu," wanita paruh baya itu mengulurkan tangannya kepada Prilly untuk memberikan ucapan selamat. Prilly tersenyum bahagia bukan kepalang, akhirnya yang Alindra dan Rohan impikan akan segera terwujud.

Prilly meninggalkan ruangan itu, matanya berkaca sewaktu melihat dengan jelas ada sepatah kata yang menyatakan bahwa ia positif hamil. Sekarang di dalam rahimnya ada kehidupan lagi. Perempuan itu akan kembali merasakan bagaimana direpotkan oleh bayi mungil yang menangis ditengah malam, menggantikan popok, dan juga menimang-nimang. Apalagi sekarang ada Alindra yang akan menemaninya, jauh lebih terasa sempurna.

Prilly menghapus bercak sisa tirta di sudut matanya. Ah, mengapa ia jadi cengeng? Tapi tak apa kalau menangis karena merasa bahagia, itu wajar dan tulus namanya. Kemudian, perempuan itu memasukkan amplop putih itu ke dalam tasnya.

SORRYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang