Tak apa, ku anggap kau bukan akhir bahagia ku.
•••
Cia menyesap frappucino hangatnya, lalu meraup marshmallow yang ada disana. Mengunyahnya pelan dengan tatapan keluar jendela, tatapannya terkesan datar dan tenang, dengan senyum tipis yang terlukis indah di wajah nya Cia terlihat begitu manis dan anggun. Gadis itu mengalihkan tatapannya ke ponsel yang bergetar. Meraih ponsel itu lalu mengetik sesuatu dengan senyum mengembang.
Gaganteng
Bi, dimana ngobrolnya?
Kamu jangan lupa makan kalau lapar
Atau sama aku aja? Terserah.
Obrolin semua nya sampe kelar ya
Aku sayang kamu banget bi
Di Cafe Blue Area
No, aku mau makan sama kamu
Hahaha lucu nya
Me too Ga!
Cia mengalihkan tatapannya ke pria yang sejak tadi diam sambil menatapnya, tak tau kenapa senyum Cia menipis. Ia berdehem singkat, meletakkan ponselnya di atas meja. Disebelah ponsel Erwin juga.
"Mau sampai kapan diem terus?" tanya Cia sarkas namun masih dengan senyum.
Erwin menaikkan sebelah alisnya lalu terkekeh kecil. "Ternyata salah, lo sudah berubah"
Cia juga ikut terkekeh mendengar itu. "Itu bukan sesuatu yang buruk bukan?"
Pria yang kini memainkan gelas dengan memutar itu mengedikkan bahu.
"Bukan, lo terlihat lebih kuat dan berpendirian"
Dengan cepat Cia menjawab. "Ga kaya SMA bukan? gue keliatan lemah dan labil"
Erwin tersenyum manis ke arah Cia, senyum itu bahkan masih mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Pesona Erwin Handika Putra memang tak bisa dibantah, semakin dewasa Erwin terlihat semakin berkarisma, dan pria itu sempat ia miliki, dulu.
"Oh ya? lo berpendapat seperti itu? gue ga tau sih, yang gue tau lo cewe gue yang gemesin tentang apapun itu," mendengar ucapan Erwin, Cia ikut tersenyum. Manisnya ucapan Erwin, tapi ucapan aja ga cukup bukan?
Cia mengangguk kecil. "Bagaimana kabar Quincy?"
Erwin yang tadinya memutar-mutar gelas menjadi membeku, dia menelan ludahnya susah payah, pupilnya menajam, dan rahangnya mengeras. Cia yang melihat itu memudarkan senyumnya perlahan, perubahan ekspresi Erwin terlalu jelas dan sangat terlihat. Cia sampai mengerjapkan matanya, memastikan tatapan Erwin, ia bertanya-tanya, ada apa sebenarnya?
Quincy? memangnya salah Cia menanyakan calon tunangan Erwin sendiri? Erwin takut Cia sakit hati? oh tenang saja semua nya sudah Cia ikhlas kan, kepergian Erwin, janji yang teringkar, tipuan manis, semua sudah Cia maafkan.
"Quincy... she was gone," bisik Erwin begitu serak dan dalam. Cia terbelak, apa?
"M-maksud lo?" tanya Cia terbata-bata.
Erwin menatap Cia dalam. "Dia udah ga ada!"
Cia terbelenggu, otaknya langsung berfikir keras, keningnya berkerut semakin dalam, memori yang sudah lama ia arsipkan terasa kembali keluar, seolah dibacakan ulang, memaksanya untuk mengingat lagi apa yang harusnya memang ia lupakan. Tentang bagaimana Cia dan Erwin bertemu, tabrakan di Koridor, Erwin yang terus mengajak Cia jadian dan selalu Cia tolak berakhir pemaksaan. Tentang seberapa possesive nya Erwin dulu, pembatas segalanya untuk Cia, melarang nya ini-itu, Gior dan Salsa, Wahyu, Arya, semuanya terputar acak seperti kaset rusak. Alexa, Angga, Quincy, semua nya membuat kepalanya mendadak pusing. Prom night, tentang Erwin yang meninggalkan dirinya begitu saja. Lalu nyanyian Erwin dimalam prom night lewat CD yang diputar di sana menggunakan layar tancap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive
Novela Juvenil[akan direvisi besar-besaran, silahkan segera tamatkan novel ini, atau tunggu hasil revisinya, trims] Erwin Handika Putra, cowo ganteng yang memiliki sifat keras dan terkesan bossy. Benci di tolak dan selalu ingin nomor satu. Ia tak pernah mengenal...
