Aku masih ingat jelas bagaimana hari-hariku di masa kecil dipenuhi dengan keajaiban dan ketegangan. Ketika aku pertama kali menyadari bahwa aku adalah anak indigo, kehidupanku berubah secara drastis. Teman-teman jin, terutama Jenny, selalu ada di sampingku, membantu dan menemani dalam berbagai situasi. Mereka adalah bagian dari hidupku yang penuh warna dan misteri.
Namun, waktu berlalu. Seiring dengan beranjaknya aku ke dunia dewasa, aku terjebak dalam rutinitas perkuliahan dan dunia kerja yang sibuk. Teman-teman jin yang dulu begitu dekat denganku perlahan-lahan memudar dari ingatanku. Aku menjadi semakin sibuk dengan tugas kuliah, pekerjaan, dan berbagai tanggung jawab lainnya. Aku mulai merasakan jarak yang semakin lebar antara dunia yang ku jalani dan dunia gaib yang dulu kukenal.
Aku melangkah ke dunia dewasa dengan penuh harapan dan ambisi. Kuliah di universitas ternama dan mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar merupakan cita-cita yang ku perjuangkan. Tugas kuliah yang menumpuk, pertemuan dengan dosen, dan deadline pekerjaan yang terus mendekat mengisi hari-hariku. Aku tidak lagi memiliki waktu untuk sekadar duduk dan berbicara dengan teman-teman gaibku seperti dulu.
Setiap kali aku berusaha meluangkan waktu untuk beristirahat, pikiranku selalu tertuju pada pekerjaan yang belum selesai. Aku merasa tertekan dan lelah, dan dunia gaib yang dulu begitu akrab terasa semakin jauh. Jenny dan teman-teman jin yang pernah menghiasi hariku tampaknya hanya menjadi kenangan belaka.
Hingga suatu malam, ketika aku berada di rumah setelah hari yang panjang di kantor, aku merasakan kehadiran yang familiar. Suara lembut yang dulu sering ku dengar, suara Jenny, mulai terdengar samar-samar di telingaku. Aku mencoba mengabaikannya, tetapi suara itu semakin jelas. "Aku di sini, mengapa kau tidak mempedulikanku?" suara itu terdengar penuh kesedihan.
Aku terkejut dan menoleh ke arah suara tersebut. Namun, tidak ada apa-apa yang ku lihat. Aku mencoba untuk kembali fokus pada pekerjaan yang menunggu, tetapi suara itu semakin keras dan semakin jelas. Rasa bersalah dan ketidaknyamanan mulai menggerogoti diriku. Aku merasa seolah-olah aku telah mengabaikan sesuatu yang sangat penting.
"Apa yang kau inginkan, Jenny?" aku akhirnya bertanya dengan nada yang penuh keputusasaan. Aku merasa malu karena sudah lama tidak menghubunginya. Suasana ruangan terasa semakin dingin, dan aku bisa merasakan kehadiran Jenny dengan lebih jelas.
"Kenapa kau mengabaikanku?" suara Jenny terdengar dengan penuh emosi. "Kau tahu betapa pentingnya persahabatan kita. Kami semua merindukanmu, tetapi kau terlalu sibuk dengan dunia manusia untuk menyadarinya."
Aku merasa tertekan dan tidak bisa mengabaikan perasaan bersalah yang semakin mendalam. Aku memikirkan kembali semua waktu yang telah berlalu, bagaimana aku begitu terfokus pada dunia kuliah dan kerja hingga melupakan teman-teman jin yang pernah begitu penting dalam hidupku. Jenny bukan hanya sekadar teman imajinasi; dia adalah bagian dari kehidupanku yang lebih dalam, sesuatu yang tidak bisa ku lupakan begitu saja.
"Aku minta maaf, Jenny," aku akhirnya berkata dengan penuh rasa sesal. "Aku terlalu sibuk dengan kuliah dan pekerjaan hingga melupakanmu dan teman-teman jin lainnya. Aku tidak berniat untuk mengabaikanmu."
Setelah beberapa saat, suasana di ruangan mulai terasa lebih hangat. Jenny tampak sedikit lebih tenang, meskipun aku masih bisa merasakan kesedihan dan kemarahan di dalam suaranya. "Kami hanya ingin kau ingat kami. Kami di sini, menunggu dan merindukanmu."
Saat itu juga, aku mulai merasakan kehadiran teman-teman jin lainnya. Mereka muncul dalam bentuk bayangan dan cahaya samar di sekitar ruangan. Aku bisa melihat wajah-wajah yang familiar, meskipun mereka tidak berbicara seperti biasa. Mereka menunjukkan rasa kecewa dan kesedihan, seolah-olah menunggu penjelasan dari diriku.
Aku duduk di tempat tidurku, merasa hancur dan bingung. "Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki semuanya?" aku bertanya dengan tulus. "Aku merasa terjebak dalam rutinitas dunia manusia, dan aku tidak tahu bagaimana cara menghubungkan kembali dengan kalian."
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU INDIGO ???
Non-Fiction[#100 HOROR 2017]. [#3-10 TRUESTORY 2017-2019]. [#5 INDIGO 2018]. [#2-10 HOROR 2019]. [#1-10 TRUESHORTSTORY Agustus 2019-September 2020]. [#1-100 TRUESHORTSTORY 2016-2022] Ini bukan novel atau pun cerita fiksi tetapi ini adalah pengalaman sang penul...
