Jangan keluar magrib !!!

14 1 0
                                        

nabok mbak kunti pas diboneng kak  novi.

"Cepat pulang sebelum magrib, jangan main di luar lagi."
Itu kalimat yang selalu diulang ibuku, waktu aku berusia belasan tahun. Dulu aku gemar bermain petak umpet bersama teman-temanku di kampung.

Sore itu, langit sudah berwarna jingga kemerahan. Azan magrib sebentar lagi berkumandang, tapi Raka masih bersembunyi di balik pohon besar dekat kebun kosong. Teman-temannya satu per satu sudah berhenti main, pulang karena dipanggil orang tua mereka. Namun aku, yang merasa belum ketahuan, justru tertawa kecil sendirian.

"Aku pemenangnya lagi," gumamku bangga.

Ketika aku mengintip dari balik batang pohon, suasana sekitar tiba-tiba terasa berbeda. Suara anak-anak yang biasa riuh mendadak hilang. Suara burung pun lenyap. Hanya ada desau angin dingin yang menusuk kulitnya.

Aku keluar dari persembunyiannya. Jalanan kampung sudah sepi. Langit gelap cepat sekali, padahal tadi masih senja. Ia melangkah tergesa menuju rumah. Baru beberapa meter berjalan, ia mendengar suara kaki kecil berlari di belakangnya.

Duk-duk-duk.

"Eh, siapa itu?" Raka menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Jalan kosong, hanya bayangan pepohonan memanjang.

Tiba-tiba terdengar suara anak kecil tertawa lirih, "Hihihihihi..."

Aku tercekat. Suara itu datang dari arah kebun kosong yang gelap. Jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba berlari, tapi langkahnya terasa berat.

Di sudut mataku melihat sesuatu: seorang anak kecil sebaya dirinya berdiri di bawah pohon besar. Wajahnya pucat, mata hitam pekat tanpa bola mata. Anak itu tersenyum lebar, terlalu lebar hingga pipinya robek.

"Ayo main lagi..." bisiknya serak.

Aku menjerit, tapi suaraku seperti tercekik. Tubuhnya membeku di tempat. Anak itu mendekat perlahan, kakinya tidak menapak tanah, melayang pelan menuju Diriku.

Tiba-tiba, azan magrib berkumandang dari masjid kampung. Suara muazin menggema, memecah keheningan. Sosok menyeramkan itu berhenti, menoleh dengan ekspresi marah, mukanya pucat, cukup cantik untuk ukuran hantu, maksudnya tak ada darah, pembusukan, berulat, cukup mulus lah, hanya sedikit bawah mata yang kehitaman, lalu lenyap begitu saja dihembus angin dingin.

Aku jatuh terduduk, tubuhnya gemetar. Aku berhasil bangkit dan berlari sekuat tenaga pulang ke rumah.

Ibuku sudah menunggu di teras dengan wajah cemas. "Kamu ke mana saja? Ibu sudah bilang, jangan keluar waktu magrib!"

Aku hanya bisa tersenyum pucat sambil memeluk ibunya erat. Sejak malam itu, aku tak pernah lagi berani bermain di luar menjelang magrib.

Karena aku tahu, bukan hanya manusia yang berkeliaran saat senja tiba. Ada yang lain, yang menunggu anak-anak keras kepala untuk diajak "bermain" bersama mereka.

Apakah itu membuatku jera untuk tidak keluar magrib saat dewasa ? 

Tentu tidak. Tapi memang aku keluar magrib karena terpaksa ya, jadi aku akan menceritakannya. 

Hari itu sebenarnya aku berangkat masih siang, sekitar jam empat sore. Ada keperluan mendadak yang memaksaku keluar rumah, dan kupikir akan pulang sebelum azan magrib. Jalanan kampung masih ramai, suara anak-anak main bola terdengar di lapangan, dan ibu-ibu masih sibuk menjemur cucian.

Tapi entah kenapa, urusanku jadi molor. Matahari cepat sekali tenggelam, dan saat aku hendak pulang, adzan magrib sudah berkumandang.

Aku dibonceng kakakku dengan motor metik tuanya. Angin malam berhembus dingin, jalanan sepi, hanya lampu jalan yang jaraknya berjauhan membuat bayangan panjang di kanan kiri. Aku berusaha menunduk, tidak menoleh ke mana-mana, tapi perasaanku sudah tidak enak.

Dan benar saja.

Dari kaca spion, aku melihat ada bayangan merah mengikuti. Semakin lama semakin jelas. Sosok perempuan dengan rambut panjang acak-acakan, wajah pucat penuh senyum menyeramkan, dan pakaiannya merah menyala seperti berlumuran darah.

Kuntilanak merah.

Suaranya lirih tapi terdengar jelas, "Heeeh... ikut akuuuu..."

Aku spontan merinding. Tanganku gemetar, tapi saking paniknya, aku refleks mengayunkan tangan ke belakang, menaboknya begitu saja. Kupikir kalau kutampar, makhluk itu hilang.

Dan ternyata aku salah besar.

Ketika kami sampai rumah. Kakakku masih bisa matiin motor dan masuk rumah, tapi dari caranya berjalan aku tahu ada yang gak beres. Jalannya kaku, matanya kosong, kayak orang linglung.

Di ruang keluarga, suasana masih ramai. Ada paman, bibi, sepupu—semua lagi ngobrol sambil nonton TV. Aku duduk di pojok, masih ngos-ngosan, sementara kakakku langsung nyelonong masuk tanpa salam. Semua orang langsung memperhatikan.

"Eh, kenapa itu? Kok kayak orang mabuk?" tanya pamanku.

Kakakku berdiri di tengah ruangan, diam. Nafasnya berat, bahunya naik-turun cepat, tangannya mengepal kencang. Aku merinding.

"Ibu... kayaknya ada yang ngikut," bisikku pelan.

Belum sempat ada yang bertanya lagi, tiba-tiba kakakku teriak keras banget—sampai lampu gantung bergetar. Suaranya bukan suara manusia normal, lebih mirip gabungan banyak suara sekaligus.

"HIHIHIHI... akhirnya pulang!"

Semua orang di ruangan langsung panik. Ada yang berdiri, ada yang lari ke belakang. Sepupuku yang masih kecil langsung nangis kejer.

Tubuh kakakku bergetar hebat, lalu jatuh ke lantai. Tapi bukan jatuh biasa—badannya kejang-kejang, lalu bangun lagi dengan posisi merangkak, kepalanya menunduk. Dari mulutnya keluar suara-suara yang saling tumpang tindih. Ada suara perempuan, laki-laki, bahkan suara anak kecil, sekitar berjumlah 6 makhluk berbeda.

"Mau makan," Kata kakakku dengan tiba-tiba. Lalu ayahku bertanya, "Mau makan apa ? "

"Darah ... hihihihihi..." Kulitku merinding sampai ke tulang. Wajah kakakku perlahan mendongak. Matanya putih semua, mulutnya tersenyum lebar. Dia menatap tepat ke arahku.

"Kamu yang menabok aku..." suara serak keluar dari tenggorokannya.
"Sekarang gantian giliranmu..."

Aku langsung bersembunyi di belakang ibuku yang sudah komat-kamit membaca doa. Pamanku coba mendekat, tapi kakakku tiba-tiba melompat ke arahnya dengan kekuatan gak masuk akal. Empat orang laki-laki dewasa sampai harus nahan badannya, tapi rasanya berat banget, kayak bukan manusia biasa.

Satu ruangan penuh jeritan, tangisan, dan bacaan doa yang bersahut-sahutan. Malam itu, ruang keluarga berubah jadi medan perlawanan antara manusia dan sesuatu yang jelas bukan dari dunia ini.

Kami akhirnya menyerah dan memanggil Ustadz. Ustadznya pun bahkan kewalahan. Hingga akhirnya nenekku yang sudah mulai tak panik mengusirnya. Kalau kata nenekku sebenarnya dia bisa, tapi dia panik karena menyangkut keluarga. Jadi dengan bantuan ustadz akhirnya dia bisa berfikir jernih kembali. Siapa yang yang panik jika cucumu sendiri tiba-tiba teriak tidak jelas karena kesurupan. 

Gak lagi-lagi deh, kapok. Bahkan ketika jam 4 atau jam 5 aku gak keluar lagi, sampai malam pintu dikunci rapat. Lalu kejadian seperti itu tak terjadi lagi.

AKU INDIGO ???Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang