"Cepat pulang sebelum magrib, jangan main di luar lagi."
Kalimat itu selalu diulang oleh ibuku ketika aku masih kecil. Hampir setiap sore beliau mengingatkanku dengan kalimat yang sama. Waktu itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar dan sangat gemar bermain bersama teman-teman di kampung. Permainan favorit kami tentu saja petak umpet. Kami bisa bermain sampai lupa waktu.
Sore itu langit mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Matahari perlahan turun di balik pepohonan. Dari kejauhan terdengar suara ibu-ibu memanggil anak-anaknya untuk segera pulang.
Namun aku masih bersembunyi di balik pohon besar dekat sebuah kebun kosong.
Aku menahan napas sambil sesekali mengintip dari balik batang pohon. Teman-temanku satu per satu sudah menghentikan permainan. Mereka pulang karena dipanggil orang tua masing-masing. Sedangkan aku masih bertahan di tempat persembunyian, merasa belum ditemukan.
"Wah... kali ini aku menang lagi," gumamku sambil tersenyum bangga.
Beberapa menit kemudian aku keluar dari balik pohon.
Aneh.
Suasana yang tadi masih ramai tiba-tiba berubah sunyi.
Tidak terdengar lagi suara anak-anak berlari. Burung-burung yang sejak tadi berkicau juga mendadak menghilang. Angin yang berembus terasa jauh lebih dingin dari biasanya.
Aku mulai merasa tidak nyaman.
Kulihat langit yang tadi masih berwarna jingga kini berubah gelap begitu cepat. Rasanya seperti waktu melompat beberapa menit tanpa kusadari.
Tanpa berpikir panjang aku memutuskan pulang.
Baru beberapa langkah berjalan, terdengar suara langkah kaki kecil mengikuti dari belakang.
Duk... duk... duk...
Aku berhenti.
Suara itu ikut berhenti.
Aku menoleh perlahan ke belakang.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Aku mencoba berpikir positif. Mungkin hanya perasaanku saja.
Aku kembali melangkah.
Duk... duk... duk...
Suara itu kembali terdengar.
Kali ini lebih dekat.
Jantungku mulai berdegup semakin cepat. Aku memberanikan diri menoleh sekali lagi, tetapi jalan kampung tetap terlihat kosong. Hanya bayangan pepohonan yang memanjang diterpa cahaya senja.
Belum sempat aku menarik napas lega, terdengar suara tawa lirih dari arah kebun kosong.
"Hihihihihi...."
Tawanya pelan, tetapi jelas sekali.
Tubuhku langsung membeku.
Perlahan aku mengalihkan pandangan ke arah suara itu berasal.
Di bawah pohon besar yang tadi menjadi tempat persembunyianku, berdiri seorang anak kecil.
Usianya tidak jauh berbeda denganku.
Tubuhnya kurus, kulitnya pucat, dan matanya hitam seluruhnya tanpa terlihat bola mata sedikit pun.
Yang paling membuatku merinding adalah senyumnya.
Senyum itu terlalu lebar.
Seolah kedua sudut bibirnya robek hingga hampir mencapai telinga.
Anak itu hanya berdiri sambil menatapku.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU INDIGO ???
No Ficción[#100 HOROR 2017]. [#3-10 TRUESTORY 2017-2019]. [#5 INDIGO 2018]. [#2-10 HOROR 2019]. [#1-10 TRUESHORTSTORY Agustus 2019-September 2020]. [#1-100 TRUESHORTSTORY 2016-2022] Ini bukan novel atau pun cerita fiksi tetapi ini adalah pengalaman sang penul...
