10 Tahun bukan hanya waktu

10 1 0
                                        

Sepuluh tahun.

Jika hanya melihat angkanya, mungkin itu hanyalah rentang waktu.

Namun bagiku, sepuluh tahun bukan sekadar angka di kalender.

Sepuluh tahun adalah perjalanan.

Perjalanan untuk belajar memahami rasa takut.

Belajar menerima bahwa tidak semua hal memiliki jawaban.

Belajar bahwa menjadi manusia ternyata jauh lebih rumit daripada yang pernah kubayangkan.

Ketika pertama kali mengalami berbagai hal yang sulit kujelaskan, aku pernah berpikir bahwa suatu hari nanti aku akan menemukan semua jawabannya.

Aku percaya bahwa semakin banyak aku belajar, semakin banyak misteri yang akan terpecahkan.

Namun waktu mengajarkanku sesuatu yang berbeda.

Semakin banyak aku belajar, semakin aku menyadari betapa sedikitnya yang benar-benar kuketahui.

Dan ternyata, itu bukan sesuatu yang harus kutakuti.

Justru di sanalah aku belajar untuk menjadi lebih rendah hati.

Aku tumbuh.

Dari seorang anak SD yang sering kebingungan dengan apa yang kualami, menjadi remaja di bangku SMP dan SMK, lalu beranjak ke dunia kuliah, bekerja, dan bertemu dengan banyak orang.

Hidupku masih sama.

Aku tetap menjalani hari-hari seperti orang lain. Bekerja, tertawa, lelah, mengejar mimpi, dan sesekali merasa ingin menyerah.

Perbedaannya hanya satu.

Cara pandangku.

Dulu aku takut pada apa yang tidak kupahami. Aku ingin menjauh, lalu mencoba berteman dengannya, seolah semua itu bisa dijalani begitu saja. Namun waktu mengajariku bahwa tidak semua hal harus didekati, dan tidak semua pengalaman harus dikejar. Ada saatnya menerima, ada saatnya menjaga jarak, dan ada saatnya berdamai dengan keadaan.

Hal-hal yang tidak sempat kuceritakan sebenarnya masih sangat banyak. Bukan karena aku ingin menyembunyikannya, melainkan karena tidak semua cerita adalah milikku untuk diceritakan. Ada orang-orang yang hidup berdampingan dengan pengalaman mereka sendiri. Ada yang akan marah, ada yang akan sedih, ada yang akan kecewa, bahkan ada yang mungkin tidak siap mendengarnya. 

Tapi kebanyakan dari mereka memilih diam, dan aku menghormati pilihan itu. Bahkan ada yang pernah berkata kepadaku, "Jangan jadi aku." Kalimat sederhana itu membuatku sadar bahwa tidak semua luka perlu dipertontonkan agar dianggap nyata. Sejak saat itu, aku belajar bahwa kejujuran juga membutuhkan kebijaksanaan.

Ketika pertama kali memberanikan diri menulis semua ini, perasaanku justru lega. Untuk pertama kalinya aku merasa bisa bercerita tanpa harus takut dianggap mengada-ada. Rasanya seperti meletakkan beban yang selama bertahun-tahun kupikul sendirian.

Namun ternyata bercerita juga memiliki konsekuensi. Semakin banyak orang mengenalku, semakin banyak pula yang mengenali orang di balik cerita-cerita itu. Ada bagian yang akhirnya harus kusensor. Ada nama yang harus kusamarkan. Ada pengalaman yang harus kusimpan kembali. Bukan karena ceritanya berubah, tetapi karena aku belajar bahwa menjaga orang lain kadang lebih penting daripada memuaskan rasa penasaran pembaca. Dan aku yakin, kalian bisa memahami alasannya.

Pernah juga ada masa ketika aku benar-benar berhenti menulis. Bukan karena kehabisan cerita, tetapi karena hidup sedang mengajariku sesuatu yang jauh lebih besar. Saat itu aku hanya ingin bertahan menjalani hari demi hari. Syukurlah, Allah masih memberiku kesempatan untuk melewatinya hingga akhirnya aku bisa kembali menulis hari ini. Mungkin suatu saat nanti aku akan menceritakan kisah itu. Mungkin juga tidak. Dan itu tidak apa-apa.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 13 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

AKU INDIGO ???Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang