Kenapa anak kecil lebih peka ?

18 1 0
                                        

Ada satu pertanyaan yang sering muncul ketika seseorang membicarakan pengalaman melihat sesuatu yang tidak semua orang bisa lihat.

"Kenapa anak kecil sering dianggap lebih peka?"

Ada yang mengatakan bahwa anak kecil lebih peka karena mereka masih suci.

Ada juga yang mengatakan bahwa semuanya hanyalah karena anak kecil memiliki imajinasi yang lebih kuat dibandingkan orang dewasa.

Menurutku, semua sudut pandang itu memiliki alasan masing-masing yang lahir dari pengalaman dan keyakinan yang berbeda-beda.

Karena manusia selalu mencoba memahami sesuatu berdasarkan cara mereka melihat dunia.

Seseorang yang lebih percaya pada ilmu pengetahuan mungkin akan mencari penjelasan melalui psikologi dan neurologi.

Seseorang yang memiliki keyakinan spiritual mungkin melihatnya dari sisi jiwa dan keberadaan alam yang tidak terlihat.

Sedangkan seseorang yang pernah mengalami sesuatu secara pribadi mungkin memiliki cara pandangnya sendiri.

Dan menurutku, memahami pengalaman manusia tidak selalu harus dimulai dengan memilih salah satu dan menolak yang lain.

Kadang kita perlu melihat dari berbagai sisi.

Karena manusia sendiri adalah makhluk yang kompleks.

Dari sisi psikologi, anak kecil memang memiliki cara berpikir yang berbeda dengan orang dewasa.

Mereka belum melihat dunia dengan batasan yang sama.

Bagi orang dewasa, sebuah ruangan hanyalah ruangan.

Sebuah kursi hanyalah kursi.

Sebuah bayangan di dinding hanyalah bayangan.

Namun bagi seorang anak, dunia jauh lebih luas daripada itu.

Sebuah boneka bisa menjadi teman.

Sebuah pohon besar bisa terasa seperti memiliki kehidupan.

Sebuah suara kecil di malam hari bisa menjadi sesuatu yang sangat besar dalam pikirannya.

Bukan karena mereka berbohong.

Bukan karena mereka ingin mencari perhatian.

Tetapi karena otak mereka sedang dalam proses memahami dunia.

Masa kanak-kanak adalah masa ketika imajinasi berkembang sangat cepat.

Anak-anak belajar melalui permainan, cerita, dan pengalaman.

Mereka menciptakan dunia di dalam pikiran mereka.

Tidak sedikit anak yang memiliki teman khayalan.

Mereka berbicara dengannya.

Bermain dengannya.

Bahkan merasa kehilangan ketika teman khayalan tersebut tidak ada lagi.

Bagi sebagian orang dewasa, hal itu terlihat aneh.

Namun dalam perkembangan anak, hal tersebut adalah bagian dari cara mereka belajar memahami hubungan, emosi, dan lingkungan sekitar.

Mereka sedang belajar membedakan mana yang ada dalam pikiran dan mana yang berada di dunia nyata.

Karena itu, ketika seorang anak berkata, "Aku melihat seseorang di sana."

Menurutku, respons pertama orang dewasa seharusnya bukan langsung memberikan kesimpulan.

Jangan langsung berkata, "Itu hantu."

Tetapi jangan juga langsung berkata, "Kamu bohong atau hanya berimajinasi."

AKU INDIGO ???Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang