Industri entertainment horor sekarang

21 2 0
                                        

Aku ingin bercerita, aku pernah ditawarkan untuk masuk industri yang berbau horor, tapi aku menolaknya.

"Kalau memang bisa melihat, kenapa tidak sekalian ditelusuri?"

"Kenapa tidak dijadikan 'mata pencarian'?"

"Kenapa tidak dicoba komunikasi lebih jauh?"

Setiap kali mendengar pertanyaan seperti itu, aku hanya tersenyum.

Karena jawabannya sebenarnya sederhana.

Kalau mereka sudah datang sendiri, kenapa harus dicari?

Orang sering membayangkan kemampuan melihat makhluk gaib sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Seolah-olah setiap hari penuh petualangan. Penuh misteri. Penuh pengalaman luar biasa.

Padahal yang kurasakan justru sebaliknya. Sering kali melelahkan.

Bayangkan saja, kamu sedang makan bakso. Lalu tiba-tiba ada seseorang berdiri di samping meja memperhatikanmu tanpa berkedip.

Kamu sedang mengerjakan tugas. Ada yang mondar-mandir di belakang kursimu.

Kamu sedang berjalan pulang. Ada yang mengikuti dari kejauhan.

Lama-kelamaan, semua itu bukan lagi sesuatu yang menarik.

Melainkan sesuatu yang ingin segera selesai. Karena itu, ketika ada orang berkata, "Ayo masuk rumah kosong."

Aku justru bertanya balik. "Untuk apa?"

Kalau memang di sana ada sesuatu, bukankah lebih baik tidak mengganggunya?

Kalau ternyata tidak ada apa-apa, bukankah kita hanya membuang waktu?

Aku tidak pernah memahami kenapa sebagian orang begitu senang menguji keberanian dengan cara seperti itu.

Mungkin karena mereka penasaran.

Atau mungkin karena mereka ingin membuktikan sesuatu.

Sedangkan aku...

Aku sudah cukup sering bertemu tanpa harus mencari.

Jenny pernah bertanya kepadaku. "Kenapa kamu selalu menghindar?"

Aku tertawa kecil.

"Karena capek."

"Capek?"

"Iya."

"Capek melihat?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Capek pura-pura tidak melihat." Jenny tertawa.

Mungkin itu pertama kalinya dia mendengar jawaban seperti itu. Tetapi memang begitulah kenyataannya.

Orang sering berpikir kemampuan seperti ini membuat seseorang menjadi istimewa.

Padahal justru sebagian besar waktuku dihabiskan untuk berpura-pura biasa saja.

Berpura-pura tidak mendengar. Berpura-pura tidak melihat. Berpura-pura tidak sadar.

Bukan karena aku sombong. Melainkan karena aku ingin hidup senormal mungkin.

Ada satu kejadian yang membuatku semakin yakin untuk tidak pernah mencari mereka.

Waktu itu beberapa teman mengajakku melewati sebuah bangunan tua yang sudah lama kosong.

Konon katanya tempat itu angker. Ceritanya bermacam-macam. Ada yang katanya mendengar suara tangisan. Ada yang melihat bayangan. Ada pula yang mengaku pernah dipanggil namanya.

AKU INDIGO ???Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang