Sabtu pagi ini, Jakarta dihiasi dengan hujan rintik. Tentu saja hal itu membuatku malas dan masih saja bergelut dengan selimut, walau aku ingat akan janji bertemu dengan geng sekolahku.
Ya, akhirnya setelah sekian lama April, salah satu dari geng kami akan menikah. Pertemuan hari ini seperti semacam perkenalan resmi calon suaminya dengan kami. Emang gitu sih kesepakatan kami, kalau saat kami semua akan menikah, calon suami kami ya kudu saling kenal dan temenan juga.
Pintu kamarku dibuka, Naya masuk dengan setengah berteriak. "Banguuuuun, Sa!"
"Hiish, berisik tau!" sahutku sambil bangkit dan duduk di tempat tidur.
"Weitts, udah rapi aja kamu, Nay!" ujarku lagi.
Naya yang sedang mematut diri di depan cermin besar, melirik ke arahku melalui cermin.
Naya menjawab,"Ya iyalah, emangnya kamu!"
Ia kemudian berbalik ke arahku dan pamit. "Udah ah, aku pergi dulu, ya! Udah kangen ama Damian!" seru Naya.
"Cie...cie yang udah enam bulan gak ketemu," ledekku.
Naya hanya menyambutnya dengan cengiran khasnya.
"Eh, kamu selamat bersenang-senang ya sama geng ancurmu itu," Naya berkata sambil berjalan keluar kamar.
"Aku pergi duluan ya, Sa!" teriaknya lagi dari luar.
"Ya, bye, Naya...salam buat Damian ya!" balasku setengah berteriak juga.
Aku pun bergegas mandi dan bersiap pergi. Hari ini sengaja aku menggunakan gaun santai dengan panjang setengah betis, jenuh rasanya menggunakan celana panjang.
Namun, aku teringat rencanaku yang akan mampir ke lokasi restoran Natasya setelah dari rumah April. Aku masih harus mengecek ulang ukuran masing-masing ruangan terkait dengan penggunaan wallpaper dan juga membuat list kelengkapan yang harus dibeli. Natasya terus mewanti-wanti agar kesan mewahnya sudah terlihat dari sejak pintu masuk. Menyiasati hal itu sepertinya aku memilih menggunakan style art deco dalam pengimplementasian konsep french style yang dipesan oleh Natasya. Supaya kesan mewah dan ciri khas Prancis terlihat jelas.
Oleh karena mau ke proyek itu, maka akhirnya aku kembali menggunakan celana panjang. Batal sudah rencana tampil feminim. Aku pun menggunakan celana palazzo seperti biasanya. Namun, kali ini aku menggunakan atasan blouse yang sedikit girly dengan sentuhan ruffle. Biar bisa tampil sedikit feminim.
Sebenarnya pikiranku lebih banyak tersita di proyek Natasya, tapi kalau aku tidak datang ke acaranya April, bisa-bisa aku didemo habis-habisan sama satu geng ancur itu. Apalagi banyak rencana yang akan kami lakukan menjelang pernikahan April, salah satunya adalah liburan bareng. Ya, semoga saja aku bisa cuti.
Terkait pekerjaanku pun, aku punya banyak rencana di kepalaku. Seperti senin ini, aku berencana untuk bertemu dengan klien keduaku. Harusnya pula, hari ini aku mulai menghubungi dia dan mengatur janji pertemuan. Tapi ada rasa enggan yang lebih didominasi takut untuk mulai menghubunginya.
Bagaimana jika ia benar-benar Berliana Kertadjaja yang membuat hidupku berantakan lima tahun silam?
Bagaimana aku bisa bekerja sama dengan seseorang yang memiliki sejarah buruk denganku?
Apa Berliana tidak akan besar kepala jika tahu bahwa aku yang menangani proyeknya?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggangguku, semenjak aku mengetahui nama klienku tersebut.
Malas sekali rasanya memikirkan hal itu, tapi mau bagaimana lagi kalau itu benar Berliana?
Itu mungkin artinya bahwa aku memang harus mengatasi luka lama dan berdamai dengan diriku sendiri.
Semoga dengan begitu, segala tingkah laku Berliana tidak lagi menimbulkan efek bagi diriku.
Kan, katanya kalau memaafkan itu berguna untuk diri kita sendiri, bukan hanya untuk orang yang menyakiti kita. Karena dengan begitu, kita akan menjadi lebih kuat.
Gawaiku berdering.
April memanggil.
"Sa, kamu bisa dateng kan?" tanya April.
"Iya, ini lagi siap-siap, Pril!" jawabku sambil meraih tasku.
"Bentar lagi aku otw," tambahku.
"Oh, oke. See you, Sa!" tutup April.
Aku segera berjalan keluar apartemen dan menuju lift.
Aku menepuk jidatku dan berbalik arah kembali ke apartemen.
Laptopku lupa dibawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rancangan Rasa
ChickLitBuat seorang Rasabrina Andrista, kepuasan klien atas hasil kerjanya adalah yang terpenting. Sasa selalu rela jungkir balik koprol agar proyeknya selesai seminggu sebelum deadline, sesuai budget awal dan sesuai ekspektasi klien. Maklum, Sasa punya si...
