Yudi POV
Ketika aku menuruni tangga kamar. Kulihat istri ku sedang asyik mengobrol dengan Bik Salam. Entah apa yang mereka bicarakan kelihatannya asyik sekali. Hingga tak menyadari kedatanganku.
"Lagi ngobrolin apa sih...asyik banget..."
"Ini..yang...Bik Salam lagi nyeritain masa kecik kamu, bandelnya luar biasa"Istriku tertawa renyah.
"Yaahh..bibik..bongkar rahasia" kataku pura-pura manyun. Kataku sambil mengecup pipi Ima
Mereka berdua tertawa melihat tingkahku. Kemudian kami melanjutkan obrolan ringan kami.
DUKKK...
Terdengar suara pintu dibuka kasar.
"Baru datang kau anak durhaka..??"
Suara yang ku kenal mengagetkan kami semua. Dia, Yuda kakakku dan di sampingnya ada seorang wanita yang ku kenal sedang menggelendot manja yaitu Cindy, wanita yang dulu dijodohkan denganku. Cindy mengenakan dress ketat merah, lipstiknya yang berwarna merah memberikan kesan angkuh pada nya.
Kulihat wajah istriku berubah ketika melihat mereka.
"Kemana saja selama ini kau anak durhaka..??"
"Bang Yuda, kenapa bicara seperti itu?"
"Yudi, sekian tahun papa dan mama mencarimu kenapa baru sekarang kau datang kembali, asal kau ingat aku tak akan menyerahkan harta warisan ini padamu"
"Bang...aku tahu aku salah, tapi aku kemari bukan untuk meminta warisan padamu. Aku hanya ingin nyekar ke makam mama dan papa. Mengenai harta warisan yang kau maksud. Silakan ambil semuanya, aku tak akan menuntut sepeserpun dari mu. Segeralah urus surat menyuratnya semua aset silakan kau balik nama atas namamu, aku sudah cukup bahagia dengan keluargaku saat ini"Terlihat wajah terkejut dari bang Yuda setelah mendengar perkataanku. Mungkin ia tidak menyangka kalau aku akan menyerahkan bagian warisanku kepadanya.
"Kalau itu mau mu, baiklah akan ku urus semuanya. Jangan pernah kau menyesalinya"
"Tidak bang, aku tidak akan menyesali keputusan yang sudah ku buat ini"
"Baik..secepatnya aku urus surat-suratnya"
"Iya bang, baiklah karena urusan kami sudah selesai izinkan kami pulang, aku harap bang Yuda cukup amanah menjaga warisan yang telah papa berikan dan aku harap bang Yuda nanti tidak salah pilih dalam mencari pendamping hidup"Terlihat kilatan marah dari mata Cindy setelah mendengar perkataanku. Aku sejak lama sudah mengenal Cindy sehingga aku tahu bagaimana tabiat dan perangainya. Ia hanya wanita yang haus kekuasaan dan harta. Rupanya setelah ia tidak berhasil menikah denganku ia kemudian memacari bang Yuda.
Aku berpamitan dengan Bik Salam, setelah aku berjanji akan sering-sering menelponnya. Ketika aku pamit dengan abangku. Ia melengos tak peduli. Seakan aku bukan saudaranya.
