Chapter 8 (bersama alvan)

69 11 0
                                        

Pagi ini sindy kembali kesekolah inilah rutinitas yang tak boleh ia tinggalkan jika kelak ia ingin menjadi orang sukses, moodnya pagi ini cukup baik mungkin karena semalam ia bersama rendy, seketika saja bayangan tentang rendy muncul lagi diingatannya namun secepat kilat ia tepis ia takut jatuh dilubang yang sama, tiba - tiba ada seseorang yang menyapanya

"Hay sin" sapa orang tersebut

"Eh hay kak" balik sindy menyapa

"Aku anter kekelas ya" ajak orang tersebut

"Tapi kan kelas aku lewatin kelas kak alvan" yah orang tersebut adalah alvan

"Nggakpapa kok sekalian olahraga aja" balas alvan diiringi kekehan

"Yaudah deh kak" ucap sindy lagi

"Ayo" ucap alvan lagi dengan menarik tangan sindy, banyak orang yang selalu menduga kedekatan mereka adalah berstatus pacaran serta banyak yang irih karena alvan dikenal sebagai lelaki yang sangat dingin namun itu semua berubah ketika bersama sindy, tapi salah karena mereka hanyalah berteman dan tidak lebih dari seorang kakak dan adik walau sebenarnya alvan sangat ingin jika gadis yang ada disampingnya ini menjadi miliknya

"Yaelah van pake dianter segala"

"Van kelas lo kelewatanni"

"Cie yang nganter calon"

Seperti itulah suara teriakan teman - temannya dari koridor kelas alvan termasuk bobby dan martin mungkin hanya rendy yang diam ada rasa yang tidak mengenakkan didirinya mungkin saja cemburu

"Eh si alvan kok deket ya sama sindy?" kini rendy sudah angkat bicara sedari tadi ia ingin menanyakan hal tersebut

"Yaelah ren gue lupa lo kan siswa baru ya, itu udah satu sekolahan yang tau kalau si raja es alvan tuh bakal cair kalau sama si sindy aja" jelas bobby

"Heran gue" tambah martin

"Jadi ceritanya mereka saling suka?" tanya rendy dengan sedikit takut mendengar jawaban dari para sahabatnya

"Sebenarnya sih harus gitu tapi yah kenyataannya nggak alvan aja yang cinta kalau sindy sih nggak" ucap bobby lagi dengan suara dilebay - lebaykan

"Ohh" ucap rendy dengan berjalan masuk kedalam kelas ada perasaan lega dalam dirinya ketika mengetahui jika sindy tidak memiliki perasaan untuk alvan, namun ada juga perasaan khawatir jika suatu waktu sahabatnya tau jika lelaki yang membuat sindy menjadi seperti sekarang adalah dirinya khususnya alvan, rendy pasti akan jujur tapi tidak untuk sekarang ini

"Eh buset ganteng - ganteng jawabannya cuman ohh doang" ucap bobby dengan suara semakin dilebay - lebaykan sedangkan martin jangan ditanyakan lagi ia sudah terpingkal - pingkal tertawa melihat ekspresi bobby yang sangat menjijikkan baginya

"Ada apaan kok pada ketawa?" tanya alvan yang sudah ada didepan mereka

"Itu tuh kelakuan sibobby lagi" ucap martin dan alvanpun tanpa dijelaskan sudah mengerti, ia pun hanya mengangguk dan kembali berjalan masuk kedalam kelas diikuti oleh martin yang ada dibelakangnya dan jika bertanya bagaimana dengan bobby ia kembali tercengah melihat reaksi sahabatnya itu yang sangat cuek

"Ya tuhan kok mereka pada cuek semua yah, untung sayang" ucap bobby dan juga ikut masuk kedalam kelas.

Jam pelajaran telah habis untuk hari ini sindy sudah bersiap untuk pulang hari ini iya akan naik angkot karena tadi pagi iya terlambat bangun dan akhirnya takut terkena macet terpaksa ia harus naik angkutan umum, dan inilah sindy yang sedari tiga puluh menit yang lalu menit yang lalu menunggu bus untuk pulang namun sedari tadi pun tak kunjung ada bus yang lewat tak lama terdengar suara deruman motor

"Sin belum pulang?" tanya alvan

"Hehehe kakak bisakan liat sendiri" ucap sindy dengan tertawa sedangkan alvan dibuat tercengah mengapa ia sangat bodoh menanyakan hal tersebut

"Eh iya ya, yaudah aku anter pulang ya" alvan menawarkan pada sindy

"Makasih kak tapi kayaknya nggak usah deh aku nunggu busnya aja datang" balas sindy

"Udah mau sore sin nggak baik belum pulang, nanti juga pasti dicariin sama mama kamu" ajak alvan lagi

"Iya sih, hmm yaudah deh kak" balas sindy lagi, sepanjang perjalanan keduanya hanya bungkam hingga akhirnya alvan angkat bicara

"Sin mau makan dulu nggak? Kita singgah ya" tanya alvan

"Terserah aja" jawab sindy dan akhirnya alvan memasuki sebuah cafe minimalis yang cukup terkenal dijakarta

"Mau pesan apa?" tanya alvan

"Aku ini aja deh kak" jawab sindy dengan menunjukkan sebuah makanan yaitu nasi goreng seafood dan sebuah minuman sedangkan alvan memesan humberger dan juga minuman

"Oke deh, waiters" panggil alvan kepada salah satu waiters direstoran tersebut, setelah memesan dan kini makanan keduanya telah datang suasanapun kembali hening  mereka hanya fokus pada makanan masing - masing sesekali sindy melirik ponselnya siapa tahu mamanya menelfon atau membalas pesan darinya sebab sedari tadi sindy mengirim pesan pada mamanya bahwa ia ada urusan sebentar namun pesannya pun tak kunjung dibalas oleh mamanya mungkin mamanya sedang sibuk disebabkan papanya belum pulang dari singapur sejak keberangkatannya kemarin, setelah selesai makan alvan kembali angkat bicara

"Sin ada yang ingin aku bicarain" ucap alvan

"Hmm apa kak bicara aja" ucap sindy, namun setelahnya ia menegang disaat alvan menarik kedua tangannya dan menggennggamnya erat

"Sin aku mungkin bukan lelaki yang kamu inginkan, aku nggak sesempurna yang kamu mau sin, tapi entah apa  yang buat aku nggak bisa jauh terus sama kamu sin aku nyaman sama kamu sin, aku mau jadi pelindung kamu dari dunia yang tak selamanya aman ini, sin izinkan aku menjadi lelaki yang bisa buka hati kamu yang udah lama tertutup itu, sin will you be my girlfriend?" ucap alvan dan sindy hanya tercengah dengan pengakuan alvan barusan ia hanya menganggap alvan seperti kakanya tidak lebih tapi kenapa laki - laki itu malah berharap lebih padanya jika begini apa yang akan dia jawab untuk pertanyaan itu

"Kak, kakak taukan aku udah anggap kakak seperti kakak sindy sendiri aku juga gak nyangka kalau perasaan kakak ternyata lebih ke aku" ucap sindy terus terang

"Hmm yasudah, segitu besarnya ya pengaruh mantan kamu itu" ucap alvin dengan nada seolah tidak terima

"Aku juga nggak tau kak" ucap sindy sedikit frustasi

"Iya aku paham, yaudah kita pulang sekarang atau gimana?" tanya alvan kembali

"Kita pulang aja deh kak" jawab sindy

"Yaudah kita pulang" balas alvan, akhirnya keduanyapun bergegas pulang selain tidak ada lagi yang ingin dibahas waktu memang begitu cepat jam yang melingkar dipergelangan tangan sindypun telah menunjukkan pukul empat sore mungkin mamanya telah menunggunya dari tadi, tidak lama diperjalanan keduanya telah sampai dipakarangan rumah sindy

"Mau mampir dulu kak?" tanya sindy pada alvan

"Hmm kayaknya nggak usah deh sin, aku pulang dulu ya" ucap alvan dengan senyuman tulus

"Oh yaudah hati - hati kak" ucap sindy membalas senyuman alvan yang tak kalah manis iapun berjalan masuk kerumah ada perasaan bersalah yang menghinggapinya namun apa boleh buat ia tak mau memaksakan perasaannya, mungkin ini memang bukan jalannya.

Maaf yah kalau masih ada typonya, jangan bosen dulu, ikuti terus ceritanya, salam sayang dari author....

And We Meet Again (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang