Chapter 37 (CEO vs Sekretaris)

69 5 0
                                        

"good morning my love" teriak sindy turun dari tangga karena kamarnya berada di lantai dua rumahnya, nampaknya wajahnya sangat berserih terlepas dari pertemuannya semalam dengan Rendy kini sindy bersiap menjalani hari barunya menjadi wanita karier namun dia tidak memilih bekerja di perusahaan orang tuanya atau melanjutkan salah satu perusahaan ayahnya, sindy lebih memilih melamar pekerjaan di salah satu perusahaan besar di Indonesia yah tepatnya sindy diterima menjadi sekretaris CEO atau direktur utama perusahaan tersebut

"Morning sayang, sindy kamu ngapain kerja di perusahaan orang perusahaan papa kamu juga ada dimana-mana tinggal milih salah satunya" ucap mama sindy

"Sindy mau mandiri mah, sindy mau sukses karena usaha sindy sendiri bukan karena latar belakang keluarga kita" ucap sindy

"Tapi kan sayang kamu juga bisa kerja di perusahaan Abang kamu kalau emang nggak mau pegang perusahaan" lanjut mama sindy sedangkan sindy hanya tersenyum menurutnya ini keputusan yang tepat untuknya sedangkan papa sindy hanya menyimak pembicaraan dua perempuan kesayangan yang ada dihadapannya ini, bagi Atalarik ayah sindy semua ia serahkan pada anaknya baginya sindy sudah bisa memilih jalan hidupnya sendiri

"Selamat pagi sindy yah?" Tanya seseorang

"Iya nama kamu siapa?" Tanya sindy ramah

"Saya Anggi kamu yang sekretaris baru kan?" Tanya Anggi lagi dan sindy hanya mengangguk "kamu ditunggu sama direktur diruangannya"

"Oh gitu makasih yah aku kesana dulu" ucap sindy berjalan menuju lantai paling atas ruangan direktur tentunya ruangannya juga berada dilantai itu

"Eh sindy" teriak Anggi

"Kenapa ada yang salah?" Tanya sindy

"Cuma mau bilang hati-hati yah direkturnya dingin, kalau nggak ditanya nggak usah bicara" ujar Anggi serius karena sudah menjadi rahasia umum jika direktur perusahaannya sangatlah dingin melebihi es batu dan jangan tanyakan galaknya jika marah tak ada satupun yang berani menentang

"Tenang aja" balas sindy dan berbalik pergi menuju ruangan seorang yang memanggilnya.

Sindy sudah sampai dilantai 17 "duh kok tiba-tiba deg-degan gini sih kan jadi gugup" ujar sindy dalam hati sambil merapalkan basmalah

Tok tok tok (bunyi pintu yang diketuk) "permisi" ucap sindy

"Masuk" satu kata yang membuatnya lebih deg-degan sungguh suara bossnya ini sangatlah dingin dan menakutkan tidak terbayang ia harus menjadi sekretarisnya

Sindy pun melangkahkan kakinya masuk keruangan tersebut, terlihat bosnya sedang duduk dikursinya menghadap kebelakang

"Maaf pak saya yang sekretaris baru, katanya bapak manggil saya?" Ucap sindy berusaha senetral mungkin tanpa gugup tidak menunggu waktu lama seseorang dibalik kursi itu berbalik dan sungguh detik itu juga sindy mengutuk dirinya bisa-bisanya mereka bertemu lagi

"Hai sin" ucap Rendy, yah direktur tempat sindy bekerja adalah rendy

"Maaf tapi sepertinya saya salah ruangan, permisi" ucap sindy membalikkan badan bersiap keluar dari ruangan itu namun sayang seribu sayang Rendy jauh lebih cepat menahan tangannya

"Kamu mau kemana hmm?" Tanya Rendy

"Apa-apaan sih gue mau keluar Lo lepasin" ucap sindy dengan emosi yang tertahan

"Nggak sin kali ini kita harus bicara dulu" Rendy kekeh tak ingin melepaskan tangan sindy

"Nggak ada lagi yang perlu dibicarain, lepasin tangan gue" sindy kembali memberontak namun tanpa seizin sindy, Rendy malahan menarik sindy masuk ke pelukannya

And We Meet Again (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang