9. TERASA

1.8K 107 21
                                    

Happy Reading . . .

"Cuma hal-hal kayak gini, 'kan, yang bisa lo lakuin?" ujar Arion pada sosok yang baru saja menampakkan dirinya, setelah hampir setengah jam ia tunggui di dalam kamar Alysa.

"Lo di sini?"

Alih-alih kesal, Alysa malah kelihatan girang. Tampaknya gadis itu tidak benar-benar mendengar apa yang baru saja Arion katakan karena tengah disibukkan dengan melihat-lihat foto jaman dulunya pada kamera yang Arion hadiahkan pada Rangga--papanya.

Prak!
Arion merebut benda itu dari tangan Alysa lalu melemparnya.

"Persis seperti yang selama ini lo perbuat!" pungkas Arion, puas.

Ketika biasanya Alysa sulit untuk terlihat sedih, kini air matanya tiba-tiba lolos begitu saja. Melihat kamera yang kini terpisah menjadi beberapa kepingan itu jelas membuatnya begitu terpukul, bahkan Alysa masih belum puas untuk melihat banyak kenangan yang ada di dalamnya.

"Masalah lo apa?" Alysa menatap Arion nanar, lelaki yang sejak tadi melihatnya dengan penuh amarah.

"Banyak!" Arion maju satu langkah, membuat jaraknya dengan Alysa hanya menyisakan beberapa inci saja. "Sampai kapan lo akan terus jadi benalu dalam hidup gue? haa."

Arion meremas lengan Alysa kuat, tatapannya bahkan semakin tajam dan menusuk. Sudah lama sekali ia menahannya, menghadapi gadis itu dengan pemakluman, namun kali ini sangat melebihi batas, membuat Arion melupakan hubungannya.

"Kenapa lo selalu ke luar batas? apa nggak bisa lo bikin seolah diri lo itu nggak ada?"

Setelah perkataan Arion itu, secara tiba-tiba Alysa punya keberanian untuk membalas tatap Arion. Sebelah ujung bibirnya terangkat, menampilkan senyum smirk yang mnjadi andalannya.

"Selama gue bisa, kenapa nggak?" Alysa menghempaskan lengan Arion dari pundaknya.

Sama sekali tak ada sedikit pun penyesalan yang tersirat dari wajah Alysa. Sungguh, Arion muak dengan kelakuan gadis yang memiliki banyak wajah di hadapannya ini. Di depan orang tuanya Alysa merupakan sosok yang begitu manis, dan menggemaskan, namun di hadapannya hanya menjadi yang paling menyebalkan dan penyebab segala keruntuhan.

"Cabut kata-kata lo sekarang juga!" tekan Arion, "bilang sama papa kalo gue nggak harus kuliah ke luar, karena ..."

"Karena Kallista?" sambung Alysa, "gue nggak yakin sih papa bakalan setuju kalo penolakan lo cuma dikarenakan seorang..."

"Jangan bawa-bawa Kallista!" sela Arion. "Ini masalah lo sama gue. Lo yang mulai, dan lo juga yang harus selesaikan."

Alysa menghirup napasnya dalam-dalam. "Oke. Nanti gue coba ngomong ke papa."

"Terus tadi, ngapain lo nyamperin Kallista?"

"Kayaknya semua yang terjadi sama dia, lo tau semua, ya? kalian bener-bener temenan, atau.."

"Ngapain lo ke sana?" sela Arion, lebih mendesaknya dan tak mau berlama-lama.

"Tanya sendiri aja sama dia," balas Alysa, memutar bola matanya malas. Sekarang, ia lebih ingin memunguti kameranya rusak, daripada harus membicarakan gadis itu.

Arion ikut merendahkan tubuhnya, membuat adiknya itu kembali menghadapnya. "Tinggal jawab aja kenapa, sih?"

"Emangnya lo bakal percaya sama apa yang gue bilang?" delik Alysa, "yang lo percaya dari gue cuma hal-hal buruk tentang gue aja, 'kan?"

Alih-alih menimpali, Arion malah lebih memilih untuk segera pergi dari hadapan Alysa.

"Ck. Kasar banget, sih!" lenguh Alysa, menatap punggung lelaki yang kian menghilang di balik pintu kamarnya. "Nggak peduli sekasar apa pun lo, yang penting gue tau kalo sebenernya lo itu sayang sama gue," sambungnya, tersenyum simpul.

Fix, You! (completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang