Kim Namjoon
5 tahun yang lalu...
Tak pernah kuharapkan menjadi incaran para mahasiswi di kampus ketika melamar pekerjaan sebagai tenaga pengajar di fakultas bahasa ini. Mungkin karena title-ku sebagai professor muda, entah kenapa pandangan para mahasiswi menjadi berubah. Banyak professor dan dosen yang bilang padaku ketika aku yang masuk ke kelas mereka, suasana kelas berubah menjadi menyenangkan dan tidak membosankan sekali. Padahal yang aku ajarkan tidak jauh berbeda dengan materi yang diajarkan oleh pendidik lain. Bahkan materinya terbilang rumit, misalnya seperti Semantic Pragmatic dalam Sastra Kuno.
Tak pernah kuharapkan juga mendapat banyak kelas tambahan setiap semesternya. Membludaknya mahasiswa baru tiap tahun menyebabkan banyaknya kelas yang dibuka agar bisa menampung semuanya. Tak terkecuali kelasku yang menjadi semakin banyak. Biasanya aku hanya mengajar tiga kelas dalam sehari, kini aku harus mengajar dari pagi sampai sore setiap harinya. Bahkan aku diminta untuk membuka kelas musim panas di semester pendek.
Ingin sekali meminta pembatasan kelas, tapi jawaban yang kuterima dari beberapa dosen yang kuceritakan selalu sama.
"Pak Kim, kan, masih muda. Masih mampu lah untuk mengajar. Kami yang sudah tua ini bahkan tak sanggup lagi berdiri lama-lama di depan kelas. Rasanya tulang mau patah saja," kata mereka yang diakhiri dengan mentertawai diri sendiri yang malah terdengar menyebalkan di telingaku.
Seperti mereka saja yang menderita sakit tulang karena mengajar. Aku bukannya tak suka pekerjaanku. Aku malah senang sekali bisa membagikan ilmu yang kudapat selama belajar pada orang lain lewat mengajar. Hanya saja jika mereka mengatakan hal itu tanpa mengatakan terima kasih, alih-alih merendahkan diri demi terlihat kasihan, aku jadi tak bisa bersimpati sama sekali. Mereka membuatku berada di posisi sulit di kampus.
"Ah, dosen menyebalkan itu terus-terusan menyulitkanku!" desahku terdengar lelah sambil menyenderkan punggung pada sofa. Hari yang sulit akhirnya terlewati. Tapi besok masih ada hari yang harus dijalani dan itu akan sangat sulit lagi. Memikirkannya saja sudah membuatku ingin libur saja.
"Eiy, semangat dong, hyung. Ini kan pekerjaan yang kau inginkan semenjak kuliah. Ayo semangat!" seru Taehyung dari arah dapur sambil membawa dua kaleng bir dingin yang kemudian diberikan satunya untukku.
Dia itu aktor dan juga sahabatku sejak kuliah. Kami bertemu saat aku mengajukan naskahku untuk dia pakai sebagai pementasan teaternya di festival tahunan kampus kami. Saat itu aku menjadi penulisnya, dan dia aktor utamanya. Lalu setelah pementasan, aku pikir kami akan lupa dan kembali pada rutinitas sehari-hari. Tapi nyatanya kami malah semakin dekat dan menjadi sahabat sampai sekarang.
Taehyung itu orangnya baik sekali dan mudah bergaul dengan siapapun. Meski terkadang dia aneh, tapi itu yang menjadikan dia unik dengan ciri khas Kim Taehyung. Dia juga dulu mendekatiku dengan caranya sendiri. Seperti mengatakan betapa bagusnya naskah Namjoon sampai dia membacanya berkali-kali bahkan setelah pementasan, bahkan sampai sekarang. Padahal itu tidak ada apa-apanya dengan naskah penulis film
"Hyung, kau punya salinan untuk ini? Aku butuh yang baru," ujar Taehyung sambil melempar bundelan naskah usang ke atas meja.
Itu naskahku yang sudah tak punya cover depan dan memiliki pola lipatan di pinggirnya. Sudah tidak pantas lagi digunakan tapi ajaibnya Taehyung masih menyimpannya.
"Kau masih membacanya? Ini sudah lama sekali dan kuno. Tidak ada lagi yang memakai tema ini di drama manapun. Berhentilah membacanya, Tae. Bacalah naskah dramamu yang lain." Malu sekali rasanya tahu kalau Taehyung masih membaca karyanya itu.
"Kau tahu? Kalau aku lelah aku suka membaca ini. Entah kenapa rasanya lelahku hilang setelah membaca naskahmu. Jadi, berikan aku salinannya. Biar aku yang mencetaknya." Taehyung bersungguh-sungguh dengan kata-katanya sampai kedua matanya membola agar aku mau memberikan salinan naskahnya.
Aku pun mengalah dan berjanji akan mengirimnya nanti lewat email. Setelah itu, Taehyung banyak bercerita tentang pemotretan hari ini. Dia bilang dia bertemu dengan model baru yang ternyata dari agensinya sendiri. Katanya dia ingin sekali bermain di satu drama dengan Taehyung meski hanya sebagai pemeran sampingan. Kemudian dia bilang kalau bertemu dengan orang baru itu bisa merubah suasana hati. Lebih bagus lagi kalau orang yang ditemui itu bisa membawa cerita baru dengan warna yang beragam. Bukan ide buruk sih.
"Tapi aku tak punya waktu mencari teman baru, Tae. Kelasku padat sekali," keluhku sedih.
"Tak perlu dicari, hyung. Dia akan datang dengan sendirinya. Kau hanya perlu lebih terbuka kepada siapapun. Seperti yang selama ini kau lakukan." Taehyung tersenyum, berusaha meyakinkanku (lagi).
Dia pandai sekali mempengaruhi orang dengan ekspresi wajahnya. Tak heran menjadi aktor sangat cocok untuknya.
"Siapa tahu kau malah dekat dengan mahasiswamu kan? Aku ingin melihatmu membawa pacar ke apartemen." Taehyung malah merengek sesuatu sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
Dia membuatku tertawa. "Kau terdengar seperti ibuku. Akhir-akhir ini dia sering bertanya tentang pacar."
"Sudah saatnya kau punya pacar, hyung. Umurmu tidak lagi muda tahun depan. Sudah seharusnya kau berhubungan dengan manusia, bukan hanya dengan buku-buku saja. Mau kucarikan manusia untukmu?"
"Untukmu saja. Aku masih mau berhubungan dengan buku-buku. Selamat malam, Kim Taehyung."
Kupikir, dengan mengatakan itu aku benar-benar akan menjomblo sampai tua. Aku akan terus membaca sendirian tanpa ada yang menemaniku. Aku jadi menyesal mengatakannya karena yang aku tahu ucapan itu adalah doa. Semalaman aku khawatir dengan masa depanku, dan paginya aku bertekad akan lebih terbuka pada siapapun dengan harapan bisa mendapat pacar.
Aku juga ingin merasakan kasih sayang dari orang lain, tahu :(
Saat kukatakan begitu pada diriku sendiri, secara tak sengaja seperti takdir, mataku langsung terpaku pada seorang pria tinggi berwajah manis, berbahu lebar, dan memiliki tinggi yang tak jauh berbeda denganku. Dia manis sekali sampai aku penasaran dari jurusan mana dia berasal.
Kemudian aku bersyukur dia ternyata adalah salah satu mahasiswaku sendiri yang mengambil kelas dipertengahan semester karena suatu alasan. Dia tampak sangat istimewa di antara puluhan mahasiswa di kelasku, sampai mataku terus terpaku padanya ketika aku sedang mengajar.
Aku terus-terusan menyebut namanya, memintanya untuk bicara karena aku suka mendengar suaranya yang lembut itu. Bahkan saat dia tidak mengangkat tangannya, aku terus menunjuknya.
Sampai-sampai dia kesal padaku dan merengek hampir marah untuk berhenti memanggilnya setelah kelas berakhir. Pun kukatakan begini padanya sambil tersenyum yang entah kenapa kurasa itu senyuman paling tampan yang pernah kuberikan pada orang lain.
"Kamu yang katanya mau tamat tepat waktu, kan? Mau saya bantu? Gampang. Jawab saja pertanyaan saya tiap kelas, nanti saya bantu skripsinya."
Siapa yang menolak bantuan sebesar ini bukan?
Kim Seokjin tentu berterima kasih. Dia langsung lupa akan kekesalannya dan mengangguk penuh semangat tanpa ragu sedikit pun.
Hari itu seharusnya aku yang berterima kasih padanya. Berkat dirinya, aku jadi terus menantikan kelas ini agar bisa bertemu dan mendengar suaranya itu, suara seorang mahasiswa bernama Kim Seokjin yang secara perlahan menjadi pemberi warna cerita hidupku yang membosankan ini.
[*]
Guys, kita pelan-pelan aja. Nggak usah terburu-buru mendekatkan mereka berdua. Aku berusaha untuk realistis meskipun ini hanya fiksi. Meskipun begitu, jangan lupa voment ya. Thank you^^
P.s:
If you still confused with their age, this is the order:
Namjoon - Taehyung - Seokjin - Jimin.
Sebenernya, yg Tae ama Jimin nggak perlu dipikirin sih siapa yg lebih tua. Soalnya mereka cuma sampingan aja. Will not appear very often like two main characters. Pokoknya, Seokjin yg lebih muda dari Namjoon. I prefer Namjoon as a Daddydom, if you want to know^^
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] His Smile | Namjin
Fanfiction⚠️⚠️⚠️ NAMJIN IS A COUPLE IN THIS STORY!!!! IF YOU ARE A HOMOPHOBIC, LEAVE THIS AND GO AWAY!!!! (forgive me for any mistakes, bcs this is my first time writing BL's story^^) alpakakoala, 2019
![[END] His Smile | Namjin](https://img.wattpad.com/cover/192931901-64-k179324.jpg)