Kim Namjoon
"Pagi, Pak..............prof?"
Taehyung mendadak mengerutkan keningnya saat melihatku sudah berada di dapur dengan celemek biru di pinggang. Kerutannya bertambah banyak saat melihat meja makan sudah penuh dengan beberapa piring lauk di dalam piring-piring kecil.
Aku memutar setengah badanku ke belakang dan mendapati sahabatku sudah bangun dengan masih memakai piyama. Lantas tersenyum dan kembali mengaduk sup ayam yang sudah hampir matang.
"Pagi, aktor Kim! Tidurmu nyenyak?" tanyaku riang lalu mengambil satu mangkuk melamin di dekatku dan menuangkan sekatel sup ke dalamnya.
"Sepertinya aku masih di dalam mimpi. Tolong bangunkan aku jika alarmku sudah bunyi ya, hyung." Dia memutar badannya dan hendak pergi setelah meninggalkan satu ejekan tentang kelakukanku pagi ini sebagai sebuah mimpi buruk.
"Aku mau memberikan setengah makanannya pada Seokjin, Tae."
Tiba-tiba anak itu sudah balik badan dan duduk di kursi makan di depanku. Menimbulkan bunyi ricuh antara kaki kursi yang diseret ke belakang dan ke depan dalam sepersekian detik. Matanya membola, mempertanyakan keseriusan ucapanku yang mengejutkan itu.
"Sekaget itu kah?" tanyaku mempertanyakan tingkahnya yang sering tiba-tiba itu.
"Aku disini sedang mempertanyakan keseriusanmu dalam memasak untuk pacarmu, hyung," jawabnya masih dalam mode terkejut dengan badan membatu seperti patung.
"Bukan pacar," sanggahku cepat karena malu. "Tapi bagus juga. Hehe."
"Apanya yang hehe? Aku sekarang sedang menentangmu untuk memberikan makanan ini pada Seokjin," protesnya bersungut-sungut dengan kening mengkerut.
"Coba dulu!" perintahku kesal sambil menyodorkan sendok di depan wajahnya.
Taehyung pun mengambil sendoknya setelah beberapa detik hanya memandang bergantian antara sendok dan ekspresi wajahku.
Tangannya secara acak menyendok sup yang baru saja aku tuang dari pot di atas kompor. Jantungku langsung berdetak cepat saat anak itu memasukkan sendoknya ke dalam mulut dan mengecap-ngecap sampai ke langit-langit mulut.
Kemudian dia mengangguk tanpa ekspresi kemudian mengambil sesendok sup lagi untuk dimasukkan ke mulutnya kembali. "Tidak buruk."
Aku langsung menghembuskan napas lega. "Kau yakin?"
"Ya. Kemampuanmu sepertinya sudah meningkat. Tapi tetap saja kau harus memotong wortelnya dalam bentuk kecil. Tidak seperti ini." Taehyung memprotesi wortelnya yang tak berbentuk seperti wortel di sendok sambil menatapku dengan tatapan malas.
"Yah, setidaknya kau bisa makan itu, kan?" ucapku sambil nyengir kuda. "Habiskan tanpa sisa, oke?"
Berbekal keyakinanku akan pendapat Taehyung tentang masakanku, aku pun membawa semua makanannya di dalam wadah bertutup. Jadi saat makan siang, aku langsung menyuruh Seokjin untuk datang dan makan bersamaku di kantor. Dia bahkan terkejut dan bertanya tiga kali apakah aku yang membuat makanan ini sendiri, bukan membelinya. Ekspresinya yang tidak percaya itu terlalu menggemaskan, sampai-sampai aku ingin mencubit pipinya sambil mengatakan, "Pacarmu ini yang membuatnya, Kim Seokjin."
Tapi aku tidak melakukannya. Takut dimusuhi lagi.
"Saya memang tidak pandai memasak, tapi kali ini saya berusaha untuk melakukan yang terbaik dan memakai bahan-bahan terbaik."
Seokjin mengangguk saja. Sepertinya masih belum percaya kalau aku yang membuatnya. Tapi tangannya antusias sekali memegang sumpit sembari matanya memilih makanan apa yang seharusnya dimakan terlebih dahulu.
"Saya rasa tidak ada masalah kalau membuat telur dadar," ujar Seokjin mengomentari sembari menyumpit sepotong kecil telur dari wadah ungu. Kemudian dia masukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Mengunyahnya dalam diam beberapa kali.
Tak disangka-sangka Seokjin ternyata menyukainya. Matanya yang membulat dan mulutnya yang terus mengatakan 'uwaah~' saat memasukkan makanan dan mengunyah. Dia bahkan memberikan jempolnya padaku dan mengangguk-angguk. Reaksinya benar-benar membuatku lega sekaligus senang.
"Lain kali saya yang membuatkan bekal makan siang ya, Pak," ucap Seokjin saat kami selesai makan.
Bodoh kalau aku tidak mengerti ucapannya. Tapi aku senang dia menghabiskannya.
"Kau masih ada kelas setelah makan siang?"
Seokjin menggeleng. "Tadi kelas yang terakhir, Pak."
"Kalau begitu mau minum kopi dulu sebelum pulang?"
"Boleh."
Jawabanku membuatku terlonjak dan berdiri dari kursiku dengan semangat. "Yuk!"
Perlukah kukatakan kalau senyuman Seokjin itu yang terbaik dari yang terbaik?
Sejak hari dimana dia menceritakan bagaimana dirinya bersama teman sekolahnya dulu dan bagaimana dia menyukaiku, dia jadi terus menerus tersenyum. Seperti sedang menggodaku dengan senyumannya itu. Membuatku tahan hanya untuk melihat wajahnya saja meski hanya diam sekalipun.
Menatap wajahnya dalam jarak sedekat ini, berjalan berdampingan, dan mendengar suaranya ketika bicara dan tertawa, membuatku bahagia. Tanpa sadar aku memuja dirinya dalam diam, lalu ikut tersenyum dan tertawa setiap kali dia melakukan itu. Dia benar-benar membuatku terpengaruh akan tingkahnya.
Bisakah aku mencium pipinya yang bulat itu disini? Di lorong kampus?
Tahan dirimu, Joon. Kau hanya perlu berjalan lebih cepat ke tempat parkir dan masuk ke dalam mobil. Ya. Hanya itu tempat paling aman kalau mau mencuri satu ciuman kilat di pipinya nanti.
Tapi sepertinya aku harus menahannya lebih lama. Seorang pria yang kemarin ketemui--mantannya Seokjin--tanpa diharapkan malah datang ke fakultas. Dia berdiri menatap pintu masuk seolah sedang menunggu kedatangan Seokjin dari sana dan sesekali melongokkan kepalanya untuk mengintip dari jauh.
"Sepertinya kau harus benar-benar menyelesaikan masalah kalian sekarang, Jin," kataku dan mendapati keraguan di wajahnya yang menatap lurus ke arah mantan gebetannya yang berada di luar fakultas.
"Saya tidak menyukainya lagi, Pak," ujar Seokjin lirih.
Aku malah tergelak dan tersenyum tipis. Tapi mataku terlihat sangat sedih meski ada senyum di bibir. Tidak, kau masih menyukainya, Seok.
"Aku tahu. Jadi, sekarang kau harus menemuinya dan bicarakan semuanya. Aku tidak mau ada orang lain di antara kita lagi."
Seokjin masih terlihat ragu. Dia ingin sekali menghampiri pria itu, tapi dia juga tak mau pergi meninggalkanku. Karena dia tahu sesaat setelah langkahnya bergerak pergi, artinya tidak ada kopi hari ini. Tidak ada kata sebentar untuk menyelesaikan salah paham. Apalagi bersama dengan orang yang dulunya paling disayang.
Aku sadar. Aku melihatnya keraguannya itu.
"Tidak apa-apa. Kopinya bisa menunggu. Nanti malam kita bisa keluar, bukan?" ujarku berusaha meyakinkannya kalau aku tidak apa-apa.
Seokjin menolehkan kepalanya ke arah pria itu. Bibirnya dia gigit ke dalam, bimbang dengan pilihan yang harus dia ambil. Lalu dia menoleh ke arahku lagi yang masih memberikan senyuman seperti orang bodoh.
"Maaf, Pak. Saya permisi dulu."
Seokjin membungkuk dalam dengan cepat kemudian berlari meninggalkanku ke arah pria itu. Mataku tak bisa lepas dari dirinya yang kini sudah berada di depan pria itu. Bisa kulihat wajah sumringah di wajah pria asing itu dan kemudian mereka pergi berjalan beriringan meninggalkan area fakultas, entah kemana.
Meninggalkan aku yang masih setia berdiri di tempat, dan mendesah pelan. Pun tertawa miring kepada diriku sendiri, mengejek kebodohanku yang dengan mudahnya membiarkan si kupu-kupu pergi, tanpa tahu kapan dia akan datang kembali, atau malah tidak akan kembali.
Cih. Bodoh.
[*]
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] His Smile | Namjin
Fanfiction⚠️⚠️⚠️ NAMJIN IS A COUPLE IN THIS STORY!!!! IF YOU ARE A HOMOPHOBIC, LEAVE THIS AND GO AWAY!!!! (forgive me for any mistakes, bcs this is my first time writing BL's story^^) alpakakoala, 2019
![[END] His Smile | Namjin](https://img.wattpad.com/cover/192931901-64-k179324.jpg)