Kim Namjoon
Seokjin pikir hanya dengan menjawab semua pertanyaanku di kelas sudah lebih dari cukup. Dia hanya perlu diam dan aku akan memanggil namanya selama di kelas. Tidak. Dia salah besar. Dia tidak tahu kalau aku salah satu orang yang gigih akan tujuan. Dan tujuanku sekarang adalah mencari tahu sebanyak mungkin tentang Kim Seokjin.
Anggap aku tertarik padanya. Ya, memang, sih. Saking tertariknya pada anak itu, aku terus menyuruhnya untuk mengumpulkan tugas-tugas mahasiswa kemudian dia antar ke ruanganku.
Anggap aku pilih kasih padanya. Ya, terlihat seperti itu, sih. Tapi bukannya itu hal yang baik untuk mahasiswa lain? Mereka tidak perlu datang ke kantorku setiap menit dan memberikan tugas yang terkadang telat diberikan. Hanya perlu menitipkan pada Seokjin dan semua urusan beres. Bukankah itu bagus?
Ini seperti aku membuat kesepakatan simbiosis dengan mahasiswaku yang lain dengan Seokjin sebagai medianya. Yang mereka dapat adalah kemudahan, dan yang aku dapat adalah Kim Seokjin. Bagus untuk mereka yang malas sekali datang ke kantor dosen, dan bagus untukku yang butuh senyuman dan omelan Kim Seokjin setiap minggunya. Wow.
Bahagianya ketika aku tahu kalau Seokjin mengambil tiga kelas yang berbeda di semester ini. Artinya, aku bisa melihatnya tiga kali dalam seminggu. Bisa mendengar suaranya yang mengatakan:
"Ini tugas dari kelas A4, Pak. Saya permisi."
Hanya itu saja aku sudah senang. Rasanya seperti menyesap sebungkus kecil ekstrak ginseng merah ketika lelah. Benar-benar membangkitkan semangatku kembali.
Katakan aku menyeramkan karena terus tersenyum pada Seokjin sampai-sampai anak itu bergidik ngeri dan merapal doa ketika masuk dan keluar ruanganku. Taehyung sampai menggeleng-geleng dan meringis melihat kelakuanku yang menjijikkan itu.
Kim Taehyung si aktor itu nekat sekali datang ke kantorku tanpa memberitahu, sampai-sampai satu fakultas ramai karena dia.
"Kenapa kau kesini? Mengganggu saja," protesku sambil menudingnya dengan telunjuk lalu merebahkan punggungku pada kursi putar.
Taehyung duduk di sofa panjang dengan paha kiri di atas paha kanan, sementara jemari-jemarinya bertautan di atas lututnya. Menoleh ke arahku dengan kedua alis terangkat sambil menunjuk pintu kantorku.
"Itu tadi yang namanya Kim Seokjin?"
"Kenapa? Ada masalah?" tanyaku balik.
Taehyung malah tertawa mendengus dan menggeleng. "Tidak. Kalian terlihat cocok."
Tentu aku terkejut mendengarnya. Seorang Kim Taehyung mengatakan hal yang terdengar tulus, tidak mengejek seperti itu. Apalagi ini tentang orang yang akhir-akhir ini membuatku tertarik. Kata-katanya membuatku tertarik untuk mendengar pendapatnya tentang Seokjin.
"Menurutmu dia bagaimana?" tanyaku antusias. Punggungku ditarik dari kursi dengan postur tegak dan tangan yang menumpu di atas meja kerjaku. Oke, ini sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan kalau aku sedang mendengarkannya.
Kali ini Taehyung tergelak. "Aku perlu bertemu dan bicara dengannya secara langsung, hyung. Bukankah kau perlu lebih dari sekedar formalitas mengantarkan tugas agar bisa mengenalnya lebih jauh?" godanya.
Benar juga.
Ini sudah berjalan dua minggu tapi aku tetap tak tahu dia seperti apa. Padahal karakter manusia itu tidak hanya sebatas menjadi orang yang tenang dan penuh sopan santun saja. Aku perlu tahu lebih jauh bagaimana kebiasaan Kim Seokjin. Bagaimana dia makan, tertawa, mengutarakan protesnya, menguap, dan bahkan marah sekalipun.
Tapi aku sudah hapal, sih, bagaimana dia ngedumel dalam diam dengan mulutnya itu. Dia biasa melakukan itu ketika aku memanggilnya di kelas untuk mengumpulkan tugas atau ketika masuk ke dalam kantorku. Lucu sekali melihat bibirnya itu melengkung ke bawah, ditambah pipinya yang bulat menggemaskan itu.
"Ajak dia makan siang atau makan kue, hyung. Lalu selagi makan kalian bisa cerita apapun," kata Taehyung sambil menaik-turunkan alisnya dan tersenyum lebar.
Bukannya jalan keluar yang kulihat, malahan seperti sebuah saran yang tak mungkin akan terwujud. "Kau pikir Seokjin semudah itu dipancing dengan kue?"
Ekspresi Taehyung langsung berubah serius. "Terserah kau kalau tidak mau. Lakukan yang mau kau lakukan. Tapi ingat, hyung! Jangan terlalu banyak berpikir dan menganggap tingkahmu ini bisa bertahan lama. Setelah semester ini berakhir, bisa saja dia tidak mengambil kelasmu dan kau akan sulit bertemu dengannya. Cepat lakukan hal yang lain dan buat hubungan dekat dengannya."
Awalnya aku menganggap Taehyung itu berlebihan dengan peringatannya itu. Dia hanya tidak tahu kalau aku punya banyak kelas untuk mahasiswa tingkat dua, tiga dan empat. Rasanya tidak mungkin kalau Seokjin tidak akan mengambil kelasku, setidaknya satu kelas. Aku bisa saja bertemu dengannya semester depan.
Tapi sepertinya aku terlalu menganggap remeh segala hal.
Ketua Jurusan menghubungiku keesokan harinya kalau aku mendapat dua kelas setiap angkatan di semester depan. Itu artinya aku hanya bisa bertemu dengan Seokjin satu kali dalam seminggu. Itupun kalau dia mengambil kelasku. Kalau tidak, ya aku harus menunggu semester depan.
Pikiran itu membuatku cemas setiap harinya. Beberapa kali aku terlihat tak fokus bahkan saat Kim Seokjin datang ke kantorku untuk mengantar tugas. Mataku mengerjap ke arahnya, mendapati wajah manis itu menatapku penuh tanya. Pun penasaran dengan perubahanku yang tiba-tiba menjadi pendiam dan jarang memanggil dia dan anak-anak lain untuk menyampaikan pendapatnya di kelas.
Kupaksakan senyum ke arahnya lalu menarik tumpukan tugas itu ke hadapanku.
"Kau boleh pergi. Terima kasih, Seokjin," kataku tanpa memandangnya sambil membuka lembaran pertama tugas esai mahasiswa bernama Im Nayeon.
Kupikir Seokjin akan langsung keluar setelah kupersilahkan dia pergi. Tapi setelah tiga menit berlalu, dia ternyata masih di depan mejaku. Dia berdiri menatapku dengan kedua tangan di sisi kiri kanan tubuhnya. Aku mendongak dan langsung bertemu pandang dengannya.
"Apa ada sesuatu yang mau kau sampaikan?" tanyaku penasaran dengan nada yang lembut.
"Anda sedang sakit, Pak?" tanya Seokjin balik.
Pertanyaan pertamanya setelah tiga minggu. Sejenak aku tertegun. Bingung mau bereaksi apa untuk pertanyaannya itu. Apakah aku harus senang atau langsung menjawab saja.
"Tidak." Aku menggeleng. "Memangnya kenapa?"
"Kau terlihat tidak bersemangat tiga hari ini, Pak. Apa ada yang mengganggu anda? Apa karena kelas kami yang selalu telat memberikan tugas?" tanyanya beruntun tanpa henti.
Tiga detik lamanya aku hanya terdiam memandangnya, terkejut dengan pertanyaannya itu. Dia ternyata perhatian juga. Meski yang dia khawatirkan adalah tugas yang suka telat diberikan--takut nilainya turun--tapi kalimat pertama dan pertanyaan selanjutnya membuatku menghangat. Lucu juga mendapati dia tidak tahu apa-apa tentang kegusaranku, padahal yang mengganggu pikiranku hanyalah dia seorang. Kim Seokjin.
Aku tergelak, membuat Seokjin mengerutkan alis.
"Terima kasih sudah bertanya, Jin. Jangan khawatir. Ada beberapa urusan penting yang memang mengganggu saya akhir-akhir ini."
Faktanya, urusan pentingnya itu adalah kau, Jin.
Anak itu tersenyum kelewat lega dengan jawabanku. Membuatnya mirip seperti hamster yang terakhir kali kulihat di toko hewan dua hari yang lalu. Harusnya aku membelinya agar bisa melihat 'Seokjin' tiap hari.
"Kalau begitu, saya permisi, Pak."
Seokjin membungkuk empat puluh lima derajat dengan cepat kemudian pergi meninggalkan mejaku.
Baru hendak dia membuka pintu ruanganku, aku kembali memanggilnya.
"Jin, kalau kau tidak ada urusan besok sore, mau menemani saya makan malam?"
Seokjin mengangkat kedua alisnya, bingung sekaligus kaget dengan ajakanku. Aku tertawa menunduk melihatnya, dan kembali mendongak untuk menatapnya dengan senyuman lesung pipi.
"Katanya kau penasaran dengan film Parasite, bukan? Ayo kita bicarakan itu besok sambil makan malam. Tenang saja, saya yang membayar semuanya. Saya tunggu di kantor sampai jam lima. Kita pergi bersama."
[*]
Cuteness overload omg.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] His Smile | Namjin
Fanfiction⚠️⚠️⚠️ NAMJIN IS A COUPLE IN THIS STORY!!!! IF YOU ARE A HOMOPHOBIC, LEAVE THIS AND GO AWAY!!!! (forgive me for any mistakes, bcs this is my first time writing BL's story^^) alpakakoala, 2019
![[END] His Smile | Namjin](https://img.wattpad.com/cover/192931901-64-k179324.jpg)