5. The report

5.4K 697 13
                                        

Kim Namjoon
   
    
   
Seharusnya aku tak usah menaruh banyak harap pada Seokjin.

Kupikir setelah aku mengajaknya secara tiba-tiba kemarin, dia akan langsung mengiyakan dan esoknya datang ke kantorku seperti mahasiswa yang patuh. Nyatanya, tidak seperti itu.

Masih ingat sekali bagaimana wajah Seokjin yang kebingungan dan terkejut bercampur menjadi satu. Dia langsung keluar dari kantorku setelah aku mengucapkan satu ajakan yang kubilang sangat lancar untuk orang yang tidak pernah berkencan sepertiku ini. Dan sialnya, aku tidak bisa bertemu dengannya hari ini karena aku tidak punya kelas dengannya. Aku harus menunggu minggu depan agar bisa bertemu dengannya lagi.

Sekarang aku menyesali ucapanku kemarin. Sangat menyesal.

Mau ditaruh dimana wajahku setelah ini, Ya Tuhan?

Aku pun keluar dari kantorku di jam setengah enam. Sebenarnya aku sudah bisa pulang jam empat tadi. Tapi karena janjiku itu, aku jadi harus menunggu dulu. Dan hasilnya, Seokjin tak muncul-muncul sampai sekarang.

Wajar, sih kalau dia tidak datang. Dia pasti sudah menganggapku aneh karena mengajaknya pergi. Bahkan aku sudah mengira dia akan menganggapku aneh semenjak hari pertama aku menaruh minat padanya. Dia pasti risih karena aku selalu memanggilnya, dan sekarang aku malah mengajaknya makan malam. Hal yang tak mungkin seorang professor yang sibuk sepertiku bisa meluangkan waktu untuk mahasiswanya. Tapi, nyatanya aku punya banyak luang dan Seokjin tak menganggapnya begitu.

Aku pun pulang ke apartemenku dan menemukan Taehyung sudah ada di sana dengan baju tidurnya. Kutebak dia baru saja bangun tidur, dilihat dari rambutnya yang berantakan. Aku dan Taehyung memutuskan tinggal bersama karena dia yang mengajakku. Dia bilang, ada bagusnya tinggal bersama orang yang sudah dikenal lama agar tidak kesepian.

Saat Taehyung melihatku, dia langsung membulatkan mata dan menunjukku dengan telunjuk kanannya.

"Namjoon hyung? Kau bilang mau pergi makan malam dengan Seokjin. Kenapa jam segini sudah pulang?" tanyanya sambil sekilas melirik jam dinding.

Aku jadi tak bersemangat menjawab pertanyaan Taehyung yang jawabannya sudah bisa dia tebak sendiri. Tapi aku tetap menjawabnya agar dia berhenti penasaran. "Dia tidak datang, Tae. Aku sudah menunggunya tapi dia tidak datang."

"Kau tidak bertanya kenapa?" tanyanya menghampiriku.

"Aku tidak bertemu dengannya hari ini karena kami tidak ada jadwal kelas yang sama," jawabku malas sambil melepaskan dasiku.

"Jangan bilang kau tidak punya nomornya."

Sontak aku membeku. Tebakannya tepat sekali. Malu mengakuinya tapi aku memang tidak punya nomor Seokjin. Bukannya tidak mau, tapi selalu lupa untuk memintanya.

Taehyung langsung bisa menyimpulkan jawabannya dari bagaimana aku bereaksi. Dia bersedekap di depan dada dan menatapku datar sekali. Seolah-olah aku adalah penjahat yang sudah melakukan kejahatan besar yang tak bisa diampuni lagi.

"A-aku lupa! Kau tahu kalau aku ini sibuk, kan? Setiap harinya ada saja yang harus kuurus, tahu!" sanggahku cepat dengan nada dramatis yang dibuat-buat.

Taehyung tidak menjawab sama sekali. Dia masih pada posisinya. Entah kenapa aku bisa mendengar dia bicara seperti ini di dalam hatinya:

Kalau aku jadi kau, aku akan meminta semua akun media sosialnya dia hari pertama bertemu. Ckck, dasar lamban!

"Kau bilang apa?" tanyaku menyipit kesal padanya.

"Aku tidak bilang apa-apa," jawab Taehyung acuh sambil mengangkat bahunya.

"Terserah kau. Tapi kuyakin dia akan datang besok. Mau taruhan?"

Taehyung lantas tersenyum miring, merasa sudah menang bahkan sebelum hari esok datang. "100 ribu won."

Aku pun tersenyum lebar, tak mau kalah dengan rasa percaya dirinya itu. "Kuberikan 200 ribu kalau aku dapat nomor teleponnya juga."

"Jangan terlalu percaya diri, Prof. Aku tidak bertanggung jawab untuk taruhan ini, tapi kuyakin kau tidak akan mendapatkannya besok. Seokjin tidak semudah itu, asal kau tahu."

Oke, Taehyung sialan itu terlalu sering membuatku berpikir banyak. Aku selalu jatuh pada kata-katanya sampai aku khawatir sepanjang hari, takut kata-katanya itu terwujud. Aku bahkan tidak berselera untuk memeriksa tugas para mahasiswa yang harus kukembalikan dua hari lagi. Kepalaku sudah terlalu penuh dengan nama Kim Seokjin, sosok Kim Seokjin, dan tingkah Kim Seokjin.

Kuremas rambutku dengan gusar. Nyatanya hanya dengan menghela napas berkali-kali tidak mampu membuang semua kecemasan dan segala prasangkaku tentang anak itu. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting bermunculan silih berganti sampai rasanya takut kalau di antara pertanyaan itu ada yang memiliki jawaban.

Apa aku terlalu berlebihan padanya?

Apa aku terlalu jelas menunjukkan minatku padanya?

Apa aku terlalu menyebalkan?

Apa jangan-jangan Seokjin membenciku?

Oh Tuhan, tolong jangan jawab yang pertanyaan terakhir. Aku tak siap.

Tiba-tiba pintu ruanganku diketuk. Orang itu membuka pintunya dan masuk. Agaknya kecewa mendapati orang yang mencariku bukan Kim Seokjin. Yang datang adalah mahasiswa yang menjabat sebagai ketua himpunan mahasiswa. Dia datang dengan membawa laporan akhir kegiatan yang katanya harus kutanda tangani. Aku baru ingat kalau kali ini aku ditunjuk lagi sebagai penanggung jawab acara mahasiswa, untuk kesian kalinya....

"Kim Seokjin mengisi sesi musik di malam hari, Pak. Dia akan menutup acara dengan bernyanyi sambil bermain gitar." Dia melaporkannya langsung setelah memberikan laporannya padaku, seolah itu yang aku tunggu-tunggu dari laporannya.

Aku berusaha untuk tidak tertarik dan memilih untuk terus membaca laporannya meski pura-pura. "Kim Seokjin yang mahasiswa tahun pertama itu?" tanyaku acuh tak acuh.

"Ya, Pak." Dia menjawab sambil mengangguk.

Aku hanya berdehem lalu menanda tangani kolom milikku di awal proposalnya. Kemudian memberikan itu kembali padanya untuk dibawa ke rektor. Kuberikan senyum sambil mengangguk saat dia mengucapkan terima kasih sambil membungkuk. Anak itu pun melesat pergi meninggalkanku.

Aku pun kembali memeriksa tugas-tugas mahasiswa yang sempat terhenti tadi. Baru membaca tiga kalimat esainya, perhatianku langsung buyar karena teringat kata-kata anak tadi.

Kim Seokjin menyanyi?

Wow. Hal yang sangat baru. Tak kusangka dia punya bakat menyanyi.

Aku jadi tak sabar menunggu acaranya tiba. Membayangkan bagaimana indahnya Seokjin menyanyi sambil memetik gitar di bawah lampu sorot yang hanya menerangi dirinya sendiri di atas panggung. Selama sepuluh menit menjadi pusat perhatian seluruh mahasiswa yang datang. Pasti dia akan digilai. Cemburu sih dia akan jadi impian banyak orang, tapi memangnya aku ada hak apa melarangnya?

Kalau begitu, aku harus buru-buru ambil tiga langkah lebih maju daripada orang lain.

Sekilas kulihat tadi acaranya akan diselenggarakan minggu depan, hari sabtu dari siang sampai malam. Berarti sebelum hari acara tiba, dia akan sibuk dengan latihan dan gladiresik bersama pengisi acara lainnya. Yang artinya lagi, Seokjin pasti sulit punya waktu luang untuk pergi makan malam bersamaku.

Tiba-tiba di sela jeda diamku, sekelebat ide brilian mendadak muncul di kepalaku. Kupastikan kali ini Seokjin takkan bisa menolaknya.
     
     
[*]
    
    
   
Namjoon dan kegigihannya. Ckck.

[END] His Smile  |  NamjinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang