36. The propose

2.9K 401 40
                                        

Oh ya, mau bilang dulu sebelum kalian baca ini. Aku lupa bilang kalau chapter yang sebelumnya itu sudah di tahun keempat Seokjin kuliah ya. Jadi umur pacaran mereka udah tiga setengah tahun. Waktu yang matang untuk Namjoon melamar Seokjin, uwu.
              
           
        
[*]
            
             
         
Taehyung baru kembali dari rumah Jungkook setelah satu minggu 'diusir' Namjoon karena Seokjin menginap di apartemen mereka. Masih berbalut baju tidur sembari membawa segelas kopi, Taehyung menatap Namjoon yang sibuk bergerak seperti setrika di atas baju, ke kiri dan ke kanan. Ponselnya tergenggam erat di kedua tangan dengan kedua bahu terangkat. Namjoon terlihat bingung sekaligus cemas dengan rencananya.

Taehyung sama sekali tidak pernah melihat Namjoon secemas ini dibandingkan saat akan menghadiri sidang tesisnya. Dia tidak pernah sebingung ini dibandingkan menjawab pertanyaan akademik dari professor asing. Namjoon itu sempurna, tapi entah kenapa yang membuat kesempurnaannya tidak terlihat sama sekali.

"Ada apa hyung?" tanya Taehyung akhirnya. Dia sudah tak bisa membendung rasa penasarannya.

Namjoon langsung berhenti bolak-balik dan langsung menghadap Taehyung yang duduk di sofa single tak jauh darinya. "Aku mau melamar Seokjin, Tae."

"Oh--APA?" Taehyung melotot kaget sampai punggungnya menegak. "Melamar siapa katamu?"

"Melamar Jeon Jungkook." Taehyung langsung cemberut mendengarnya. "Kim Seokjin dong! Pacarku, kan, dia."

Taehyung pun menyandarkan punggungnya kembali ke punggung sofa. Dia mencebik mulut sembari menggumam rendah. "Aku hampir memukul kalau saja dia tidak membenarkan kalimatnya di akhir."

Namjoon mendengarnya, tapi dia tidak ambil pusing. Sekarang yang lebih penting adalah lamaran itu. "Bantu aku. Seokjin ingin lamaran secara resmi, tidak hanya aku yang mengatakan aku ingin menikahinya saja."

"Memangnya apa yang hyung katakan pada Seokjin sebelumnya?"

"Aku bilang aku ingin tinggal bersamanya lalu bilang 'menikahlah denganku'. Kupikir dia mau, tapi katanya dia ingin lamaran yang resmi, dengan persiapan. Tidak hanya dengan kata-kata karena kedengarannya seperti aku sedang main-main. Apa terdengar seperti itu?"

Taehyung terdiam, tampak berpikir. Kemudian dia menggeleng. "Menurutku tidak, hyung. Tapi sepertinya lamaran resmi dengan cincin sambil bertekuk lutut itu sedang tren. Jungkook juga bilang ingin lamaran seperti itu saat aku mengatakan aku ingin menikahinya dalam waktu dekat."

Namjoon langsung membentuk huruf 'uu~' memuji keberanian Taehyung, kemudian dia mengambil tempat untuk duduk di atas sofa panjang di depan Taehyung.

"Aku tidak menyangka kau serius juga dengan Jungkook sampai ingin menikahinya. Apa ini saatnya mengucapkan selamat tinggal pada Si Casanova Kim Taehyung?" ledek Namjoon sembari tersenyum miring.

"Aku tak perlu mengatakan alasan kenapa aku ingin menikahinya, bukan? Pokoknya dia berbeda dengan orang-orang yang sebelumnya, hyung." Taehyung tertawa rendah, terdengar bangga sekali bisa menjadi orang yang berbeda, tidak bajingan seperti yang sebelumnya. "Jadi kau bagaimana, hyung? Kenapa Seokjin?"

Ucapan Taehyung membuat alis Namjoon terangkat sebelah. "Apa maksudmu dengan 'kenapa Seokjin'? Kau membuatku hampir tersinggung."

"Oh, maaf, hyung. Aku tak bermaksud seperti itu." Taehyung mengangkat kedua tangannya di sejajar dengan kepala dengan mata membulat merasa bersalah. "Aku bertanya karena aku tak pernah mendengar kau menyanjung Seokjin dan tiba-tiba hari ini aku mendengar kau ingin melamarnya. Wajar bukan kalau aku bertanya alasan kau ingin menikahinya?"

Taehyung benar.

Namjoon sadar dia jarang membicarakan Seokjin pada sahabatnya itu. Meski dekat, Namjoon tidak sepenuhnya terbuka pada Taehyung. Persahabatan mereka hanya dipenuhi dengan pembicaraan hobi, kesukaan, aktivitas, pekerjaan, dan sedikit perbincangan tentang keluarga masing-masing. Sedangkan topik mengenai Seokjin? Hampir tidak sama sekali.

[END] His Smile  |  NamjinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang