05

2.3K 98 2
                                        


Netra biru milik Vana terus mengedarkan pandanganya kebawah.
Saat ini dia sedang berdiri di balkon Roftoop. Menikmati Angin yang berhembus dan mengusap Wajahnya yang Cantik.

Orang orang sangat takjub dengan manik mata milik cewek itu. Warnanya berbeda. Ya memang, Vana adalah keturunan dari keluarganya. Ayahnya menikah dengan ibunya orang Belanda. Sampai akhirnya mempunyai seorang anak yaitu Vana.

Menghembuskan nafasnya pelan. Membiarkan rambutnya yang terurai terbang kesana kesini terteka angin.

Dia benci hidup. Semuanya sudah diambil. Kebahagiaanya, senyumnya, bahkan masa depanya. Hidupnya sudah suram. Berkali kali dia memikirkan untuk mati saja.

Tatapanya kosong. Membayangkan jika dirinya sudah tiada. Tidak ada lagi yang perlu dicemaskan. Tidak ada hal yang menjadi beban saat dia sudah mati. Dia juga tidak perlu menghindari semua orang seperti sekarang. Karna dia yakin saat di akhirat nanti, dia juga akan sendiri. Dia hidup sendiri tanpa perhatian orang tua. Tidak ada yang peduli denganya.

Vana tertawa gila.

"Bener! Harusnya gue mati aja!" Perlahan Kaki Vana terangkat menaiki pembatas balkon. Pikiranya kosong. Lagi lagi dia tertawa.

Saat ini dia sedang duduk diatas balkon. Detik selanjutnya dia akan meloncat dari sana, tapi seseorang memeluk tubuhnya dari belakang dan menariknya kembali.

"LO MAU APA HAH!!" Suara tegas milik seseorang terdengar. Vana berbalik, dan menemukan Brian.
Dengan sigap dia menjauh.

"Mau apa lo!" Tanyanya.

"Lo yang mau apa?! LO MAU BUNUH DIRI HAH!! Gila ya lo!"

Vana cekikikan, membuat Brian yang menatapnya ngeri.

"...GUE EMANG GILA! TERUS LO MAU APA HAH!? PERGI! gue nggak mau liat muka lo yang brengsek itu!"

"WOY! LO ITU MASIH PUNYA MASA DEPAN. KALO ADA MASALAH MENDING SELESAIN. TAPI CARANYA NGGAK GINI GOBLOK!"

Lagi lagi Vana tertawa,"masa depan? Gue nggak punya masa depan. Itu gara gara lo! Lo ambil semuanya dari diri gue. Masa depan gue udah suram. Terus apa gunanya gue hidup?" Ucapnya.

Brian menautkan kedua alisnya bingung.

"Gara gara gue? Lah salah gue apa. Gue aja nggak kenal sama ni cewek!" Gumamnya.

Vana meneteskan air mata. Dia benar benar malu dengan dirinya. TIDAK BERGUNA!

"PERGI! JANGAN TEMUIN GUE. GUE VANA ARLOJI, BAKAL JADIIN LO MUSUH DIHIDUP GUE!" semprotnya.

"Dan lo..harusnya lo juga nganggep gue sebagai musuh lo!" Vana mendesis, kemudian berbalik ingin melanjutkan aksinya.

Brian khawatir cewek itu kenapa napa. Dia kembali menarik lengan Vana.
Dengan cepat Vana tepis, detik selanjutnya dia meraih kayu yang ada diruangan itu, dan memecahkan kaca yang ada disana.

Prang!

Suara dentingan Kaca terdengar keras, membuat Brian menutup kedua telinganya.
Vana meraih pecahan itu, dan mengarahkanya pada perut Brian.

"Jangan deketin gue, atau lo mati!" Desisnya.

Brian tidak merasa takut sedikitpun, dia malah mendekati Vana. Menjauhkan jarak diantara mereka. Vana mundur.

"JAUH JAUH DARI GUE!!" Teriak Vana. Brian tak mendengar, cowok itu tambah mendekat. Dan

Srek!

Vana menggoreskan kaca itu pada lenganya sendiri. Darah keluar dari persembuyianya, sangat banyak.

The Cruel Girl [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang