[Time skip]
"Ah si Goblok, kenapa ambil bola tidak teliti sih? Ambil juga yang kempes dan sekarang tidak tahu dimana pompanya," gerutu seorang siswa berpakaian seragam olahraga sembari mengacak-acak pojokan gudang penyimpanan alat olahraga.
"Daripada ngomel terus mending cari yang benar. Ditunggu anak-anak nih," sahut Junhoe yang ikut membantu dan sedang menggeser papan lompat tinggi berharap ada pompa udara terselip di sana.
"Aku bawa bola lain saja deh, kau lanjutkan mencari ya Junhoe."
"Heh, mana bisa begitu! Aku ditinggal nih!?" Protes Junhoe.
"Nanti keburu anak-anak mengamuk. Kalau sudah ketemu pompanya bawa ke lapangan ya." Siswa itu mengambil bola sepak dari keranjang lantas ngacir begitu saja seolah tak mendengar teriakan temannya.
"Heh, pengkhianat! Tidak setia kawan! Balik kau! Teganya membiarkanku mencari sendiri! WOY KAMBING!" Junhoe mengumpat.
"Ah, dasar kuda! Berani-beraninya dia memperlakukan aku begini. Kalau Daniel pasti akan tetap di sini dan mau menemani sampai kapanpun, apalagi Mingyu. Sudah pasti dia mau-mau saja disuruh mencari sendirian," keluh Junhoe.
"Lagipula siapa sih yang menyimpan pompanya? Masa' daritadi dicari tidak ketemu? Tidak mungkin 'kan dipakai orang untuk memompa perut melalui pantat--" pemuda tinggi terdiam akan ucapannya sendiri. Dia mengerutkan kening.
"Memang bisa memompa perut lewat pantat? Ah, sepertinya otakku sudah tercemar Kim Mingyu," desis Junhoe.
"Biarkan sajalah! Orang sudah dapat bola bagus juga." Pelajar tersebut menyerah, menepuk-nepukkan kedua telapak tangan untuk mengurangi debu seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Baru ia sadari jika gudang peralatan olahraga adalah tempat temaram yang berantakan, kotor, hening, dan ... agak menakutkan.
Brak!
"KAMBING KUDA SETAN JANGAN GANGGU! YAH!"
Tiba-tiba terdengar benda jatuh membuat Junhoe langsung terlonjak kaget dan berteriak di tempatnya berdiri.
"Keluar ah, hiiy..." cicitnya kemudian buru-buru lari ke pintu sambil menahan merinding di sekujur tubuh.
Dalam perjalanan kembali ke lapangan, Junhoe mampir di kran air sebentar guna mencuci tangan dan minum beberapa teguk air segar. Dia perlu menyejukkan diri setelah terapi jantung barusan di gudang. Junhoe bukan tipe anak penakut, cuma kalau ditakuti ya dia grogi juga.
"Bukan, bukan yang itu. Bagaimana kau bisa salah ambil buku sih? Hahaha~" Dari tempat yang tidak terlalu jauh lamat-lamat terdengar suara beberapa gadis mengobrol. Junhoe iseng menoleh.
Oh, Junhongie? Mata tajamnya berbinar manakala langsung melihat sosok tinggi yang dia kenal lengkap dengan kibaran rambut sebahu, mata tenang, dan senyum manis di bibir.
Aku menoleh dan langsung melihatnya. Ini pasti jodoh! Junhoe mengenduskan napas bangga. Tapi di detik selanjutnya ia termangu.
Itu...Sewoon? Alis Junhoe mengerut melihat gadis yang bersama Junhong. Dengan tinggi standar, paha dan pipi chubby, lalu jemari tangannya nampak beberapa kali merapikan rambut yang menggantung pendek sebahu.
Eh? Dia potong rambut? Junhoe menelengkan kepala. Seingatnya saat terakhir melihat Sewoon, rambut gadis itu masih sepanjang tali bra dan sering digerai jika hari biasa atau diikat kuncir kuda waktu olahraga.
Manis juga rambutnya pendek. Seperti Junhongie, batin Junhoe.
.
.
Jam makan siang tiba, seperti biasa siapapun yang senggang wajib mencari meja dan kursi kosong di kantin untuk tempat makan. Itu adalah peraturan tak tertulis di grup Junhoe.
KAMU SEDANG MEMBACA
Young Daddy #2
Fiksi PenggemarBinHwan (Hanbin X Jinhwan) BNior (JB/Jaebum X Jinyoung) iKon GOT7 GS Buku lanjutan dari Young Daddy. Masih dengan seluruh kegemasan dan keseruan para ayah muda bersama balita mereka.
