Omelette

1.7K 251 29
                                        

"Junie-ya!" Keras suara teriakan Jinhwan menggema ke seluruh penjuru rumah termasuk mengagetkan Hanbin yang sedang menggoreng omelette di dapur.

"Ada apa sih?" Desisnya heran. Bruk! Sebuah hantaman pada kaki panjangnya kembali membuat Hanbin terkejut hampir ikut berteriak. Dia menunduk untuk menemukan Junhoe sedang melingkarkan kedua lengan gemuk kuat-kuat pada betis ayahnya.

"Wae? Kau menakali Mama lagi?" Tanya Hanbin kalem seolah sudah terbiasa dengan keaktifan anaknya yang selalu membuat sang ibu kadang kalap.

"Ani," Junhoe mendongakkan kepala. "Cuni idak nakan. Ani."

Hanbin hanya berdecak menanggapi sembari tetap fokus pada adonan omelette yang hampir matang.

"Papa, itu apa?" Junhoe menunjuk wajan dengan penasaran.

"Ini? Omelette," jawab Hanbin.

"Oyet apa? Yihat. Cuni yihat (Junie mau lihat)." Junhoe melompat-lompat kecil.

"Tunggu sebentar." Hanbin mengecilkan api kompor, menarik sebuah kursi lalu menaikkan anaknya supaya bisa berdiri di kursi.

" Hanbin mengecilkan api kompor, menarik sebuah kursi lalu menaikkan anaknya supaya bisa berdiri di kursi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Heh! Mana celanamu!?" Tanya Hanbin kaget baru menyadari jika buah hatinya ternyata tidak pakai celana.

"I cana (di sana)." Junhoe menunjuk keluar dapur. "Papa, ini apa?" Balita kecil kembali menunjuk ke penggorengan.

"Omelette," jawab Hanbin sabar.

"Oyet? Oyet apa?"

"Kau mau?" Pemuda tinggi menawari dan langsung dibalas anggukan oleh anaknya.

Hanbin mengambil sedikit bagian omelette yang sudah matang dengan sumpit. Dia letakkan di atas piring lalu dikipasi menggunakan piring lain.

"Papa, enapa?" Junhoe menanyakan kenapa ayahnya harus mengipasi piring menggunakan piring.

"Omelette-nya masih panas, dikipasi begini biar dingin," jelas Hanbin.

"Anac? Huhah?" Junhoe menyamakannya dengan makanan pedas.

"Eoh, mirip." Hanbin mengiyakan begitu saja. Setelah potongan omelette mendingin, pemuda itu menyuapkannya pada Junhoe.

"Enak?" Tanya Hanbin memperhatikan bagaimana anak lelakinya mengunyah makanan hasil masakan sendiri itu.

Kening Junhoe mengerut, mulutnya terbuka dan ia memuntahkan lagi omelette yang baru separuh dikunyah.

"Wae wae wae wae?" Hanbin terkejut melihat balitanya memuntahkan makanan sebab Junhoe termasuk anak yang rakus dan gampang makan. Dengan cepat dia meraih tisu untuk membersihkan mulut serta baju Junhoe.

"Kenapa? Tidak enak?" Hanbin memotong omelette dari wajan untuk mencicipinya sendiri.

"WOAH!" Pemuda itu berseru keras ketika mengunyah hasil masakannya, bertepatan dengan Jinhwan yang berjalan masuk dapur dengan tangan memegang popok serta celana.

"Jangan kabur setelah cebok. Pakai celana dulu!" Gadis mungil mengomel sembari menepok pelan bokong Junhoe. Namun kemudian dia mengerutkan kening heran saat melihat ekspresi wajah balitanya seperti orang habis minum jamu daun pepaya dan Junhoe juga tidak berhenti mengusapkan telapak tangan ke lidah yang melet-melet.

"Kau kenapa?" Pandangan mata Jinhwan beralih pada Hanbin yang menutup mulut sambil tertawa sendiri. "Kau juga kenapa?" Ibu muda tersebut sekejab merasa cemas. Tidak mungkin 'kan ayah dan anak itu sama-sama kerasukan?

Hanbin mematikan api kompor, bicara seraya menahan tawa.

"Dia minta omelette--" Hanbin menunjuk Junhoe.

"Lalu?" Jinhwan masih belum mengerti.

"Omelette-nya keasinan." Hanbin ambruk ke lantai, tertawa miris. Menertawakan kebodohannya.

"Astaga..." Desis Jinhwan baru paham kenapa Junhoe terus mengusap lidah dan sekarang bahkan air liurnya mulai menetes membasahi baju.

Jinhwan segera menuang air putih ke gelas untuk diberikan pada Junhoe serta Hanbin.

"Minum yang banyak. Kalau tidak, kalian bisa dehidrasi," ujar Jinhwan. "Lagian, bagaimana bisa sih kau memasukkan begitu banyak garam?" Ia mengomel, ikut mencicipi omelette yang masih berada di wajan dan langsung seluruh wajah gadis itu mengerut.

"PARAH! INI PARAH!" Jinhwan memuntahkan isi mulutnya ke tempat sampah. "Kim Hanbin, jangan pernah memasak lagi!"

Hanbin yang dimarahi hanya tergelak sambil terkapar lemas di lantai.
.
.
.

Hanbin yang dimarahi hanya tergelak sambil terkapar lemas di lantai

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Young Daddy #2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang