Kuhentikan langkahku ketika Seungwoo berhenti disebuah rak yang menyimpan sebuah guci berisi abu berukiran sebuah nama, tidak lupa juga dengan sebuah bingkai foto berisi seorang wanita cantik yang tengah tersenyum disana.
Aku sedikit menjauh, memberi Seungwoo dan istrinya waktu untuk berdua. Awalnya aku urung ikut masuk, namun Seungwoo bilang ia tak sanggup sendiri. Katanya sudah terlalu lama ia tak kesini karena terjebak terus dengan Dongpyo.
Aku tak tahu alasan logis apa yang ada dikepala Seungwoo sehingga ia menjadikan Dongpyo sebagai alasan mengapa ia sudah terlalu lama tidak mengunjungi istrinya yang nyatanya sudah tiada.
Seungwoo berlutut satu kaki, membuka lemari kaca dihadapannya, kemudian meletakkan dua tangkap mawar merah itu didalam sana dan menutupnya kembali. Ia memandangi guci berisi abu itu sangat lama hingga ia menghela nafas dengan begitu berat.
Satu tangannya ia tempelkan pada lemari kaca itu, tatapan matanya begitu sendu dan merindu. "Maaf karena nggak mengunjungimu begitu lama, Seola," lirihnya.
"Maaf," katanya lagi.
"Dongpyo tumbuh dengan baik. Dia sama sepertimu, cerewet dan hobi marah-marah. Kurasa hanya sikap keras kepalaku yang menurun padanya."
Seungwoo mulai bercerita lebih banyak, tapi aku memilih untuk pergi meninggalkannya. Tak sopan rasanya mendengarkan pembicaraannya dengan sang istri yang teramat dicintainya itu. Aku menunggu didekat pintu keluar funeral, menyandarkan tubuhku ke dinding sambil sesekali mengetuk-ngetuk kakiku.
Aku tak tahu jika istrinya telah tiada. Kupikir saat Seungwoo mengurusi pelanggan, istrinya akan sibuk membuat coklat di dapur atau mungkin sata aku berkunjung malam itu, istri Seungwoo sudah beristirahat, sehingga aku tak pernah melihatnya. Aku tak pernah berpikir bahwa keberadaan istrinya yang begitu minim disekitar Seungwoo adalah karena istrinya telah tiada.
Rasanya tak enak mengetahui luka paling menyakitkan milik orang lain, tapi aku harus bagaimana? Sudah terlanjur.
"Shia."
Aku menengok. "Udah?"
"Iya."
"Cuma sebentar?"
"Emang harus lama?"
"Nggak, maksudku ... kupikir kamu mau ngobrol lebih lama?"
"Buat apa? Aku cuma ngomong sendiri, Seola nggak akan bisa jawab."
Hatiku mencelos.
Kenapa jawaban Seungwoo begitu logis dan menyakitkan untuk dirinya sendiri?
Apa dia baik-baik saja untuk terlihat kuat seperti ini?
"Seung—"
Tangan Seungwoo sudah ada diatas kepalaku, ia tersenyum kecil. "Jangan kasihani aku. Aku benci itu."
"Bukan," kataku. "Aku hanya ingin bilang tidak apa-apa untuk bersedih sesekali."
"Hm?"
"Jadi kuat itu melelahkan bukan?" tanyaku tersenyum. "Ayo, Dongpyo takut bangun," ajakku sudah berjalan lebih dulu.
Sejujurnya sepanjang jalan, aku terus bertanya pada diriku sendiri alasan mengapa Seungwoo seakan tak ingin Dongpyo tau soal bundanya. Apa anak ini tak pernah menanyai soal bundanya? Atau Seungwoo berusaha menutupi segalanya?
"Oh, dia masih tidur. Pulas banget," ujar Seungwoo saat mengintip dari luar jendela mobilku. "Buka pintunya pelan-pelan yah, anaknya peka banget."
"Ah iya," kataku lalu membuka kunci mobilku, membuka pintu pelan-pelan, dan menutup pintu mobil perlahan-lahan namun memastikannya terkunci dengan baik.
Mobil Seungwoo melaju lebih dulu, sementara aku masih mengikutinya. Hari itu, langit sore tampak tengah menemani Seungwoo untuk bersedih.
🍫
Aku mulai kembali ke rutinitasku setelah hari Sabtuku untuk membantu bunda di tokonya dan hari Mingguku untuk tidur tanpa kenal waktu.
Dongpyo memang tidak mengangguku dihari Minggu, tapi ia kembali mengangguku dihari Senin, seakan-akan dia tau bahwa hari Minggu adalah waktuku untuk beristirahat layaknya Sleeping Beauty.
Dongpyo mulai berceloteh dichat mengenai teman-temannya dan hari-harinya di sekolah, dia juga kadang marah kalau aku membalas chatnya lama. Dia benar-benar seperti pacar yang posesif.
"Kamu punya pacar?" tanya Jihyo.
"Siapa?"
"Kamu."
"Nggak."
"Terus itu senyum-senyum terus apaan?"
"Nggak, ini anak yang sering ke perpustakaan loh."
"Kamu pacaran sama anak bau kencur??????" tanya Jihyo heboh.
Aku menepuk jidatnya. Lupa kalau Jihyo ini kelewat telmi dan suka menyimpulkan seenaknya. "Nggak. Bukan."
"Terus?"
"Anak itu kesepian, nggak ada temen ngobrol."
"Ya ampun, kamu harusnya menikah dan punya anak. Bukan ngurusin anak orang," cibir Jihyo. "Padahal kamu cantik dan keibuan, tapi kenapa nggak mau mulai cari pacar? Padahal udah kepala tiga."
"Kepalaku cuma satu."
"Ish!" Jihyo memekik kesal. "Hei, kamu tau soal event perpustakaan yang bakal diadain dua bulan depan nggak?"
"Event apa?"
"Itu loh event buat menyambut datangnya musim dingin. Buku-buku bertema musim dingin udah dikirim ke perpustakaan semua dan kita harus mendekor perpustakaan jadi serba musim dingin."
"Target tahun ini anak-anak?"
"Yap! Dan ada pembagian buku cerita bergambar gratis, masing-masing anak satu. Dan kamu tau apa yang paling repot?"
"Apa?"
"Kita harus buat buku cerita bergambar itu sendiri!!"
Aku terkejut. "Kita? Semua staff?"
"Iya! Semua staff! Bayangin! Bu Lee memang mulai nggak beres otaknya," gerutu Jihyo memegangi kepalanya, pusing sendiri. "Pokoknya besok kita bakalan rapat deh buat nentuin ketua pelaksana, wakil ketua pelaksana, sekertaris, bendahara, terus tema, dan lain-lain."
Mendengarnya saja aku sudah lemas. Memang sih Bu Lee ini kadang suka memerintah dan mencetuskan semuanya sesukanya. Walau harus kuakui berkat perintah sesuka hati Bu Lee, perpustakaan ini makin berkembang pesat dan makin ramai.
Aku lalu mengambil tasku, pamit pada Jihyo bahwa aku akan pulang karena pekerjaanku sudah selesai semua.
Baru saja aku keluar dari perpustakaan, tubuhku dihadang oleh seorang pria jangkung yang sangat aku kenali. Sementara aku membeku menatapnya, ia justru menatapku begitu sendu sambil tersenyum tipis.
"Noona..."
-tbc-
KAMU SEDANG MEMBACA
Daddyable | Han Seungwoo
Fanfiction"Aku benci coklat, tapi aku nggak benci rasanya."
