Aku mematung ketika Seungwoo dan Dongpyo sudah berada didepan pintu apartemenku. Memang sih kemarin aku memberitahu Dongpyo nomor apartemenku karena anak itu memaksa ingin tau, tapi aku tidak tau apa maksud kedatangannya pagi ini.
"Kenapa pagi-pagi kesini?" tanyaku.
Dongpyo cemberut sambil memelukku. "Ih parah banget lupa! Aku pentas seni hari ini!"
Aku langsung memejamkan mataku. Aku bahkan lupa kalau aku sudah berjanji padanya untuk datang ke pentas seni Dongpyo hari ini. Ah bagaimana yah? Aku bahkan belum meminta izin untuk cuti hari ini, ide untuk cerita buku cerita bergambar juga belum diterima sama sekali.
Aku frustasi.
"Shia," panggil Seungwoo.
"Apa?" tanyaku ketus, mengingat bagaimana perkataan menyebalkannya kemarin.
Ya, mari katakanlah aku mungkin sudah terlalu jauh mencampuri urusannya walaupun kami baru saja berteman. Tapi salahkah jika aku datang membantu Dongpyo mengurusi ayahnya yang bahkan tak bisa mengurus dirinya sendiri ketika sakit?
"Buka mulutmu."
"Hah? Buat ap—Hmph! HAN SEUNGWOO!" aku memekik ketika aku hampir saja tersedak coklat yang tiba-tiba ia masukkan ke dalam mulutku.
"Sarapan."
"Apaan sih?" kataku sebal tapi tetap memakan coklat didalam mulutku.
"Noona ayo buruan ke sekolah, nanti pentas seninya keburu mulai!"
"Pyo, noona beneran lupa. Noona belum izin ke tempat kerja, jadi—"