Kadang, kita butuh penghianat agar tau rasanya setia.
---
Malam minggu, anak Basupati berkumpul dirumah Wildan yang besar dan Megah itu. Dirumahnya ada banyak ruangan. Sekarang, mereka kumpul ruangan khusus untuk Basupati.
"Lumayan buat hebat paket gue," ujar Alki saat ditatap dengan Wildan
"Lu kalau natap santai dong, kyak mau nikam kita aja," protes Aldo saat melihat Wildan yang masih menatap mereka dingin
"Elah, palingan nahan boker dia, sok tegar ngak mau niggalin kita, ke wc gih malu kalau ada yang keluar," kata Gara. Bukannya Wildan akan berhanti menatap mereka, malah Wildan menatap merek tajam
"Tuh kan ada yang bau, lu nahan boker Dan? Serius?" Alki kini meletakkan hpnya, bau busuk itu sangat mengganggu indra penciumnya
"Percuma ngomong sama tembok," keluh Alki
"WOY YANG KENTUT SIAPA ANJIR?" azriel yang dari tadi diam kini langsung ngegas.
"Gu ... Gue ..." kata Fariz pelan.
"Alah, lu takut masuk kamar mandi gara-gara gue ceritain mbak Juminten Riz?" Aldo menepuk jidad
"Kentut lo bau telur tau ngak, telur busuk." hina Azriel
"Eh kecebong, kalau kentut keluar, bikin fitnah aja," jelas saja tadi, Gara menuduh Wildan secara tidak langsung.
"Berisik." Wildan bersuara. "Lo, ke wc jangan nahan, entar naik lagi ngak jadi keluar." yang lain tertawa mendengar ucapan Wildan.
"Lo pengalaman yah Dan nahan boker?" tanya Riqiz serius
"Iya kan dulu pernah itu mau banget, eh disuruh sama Pak 1 2 3," jalas Alki tertawa. Pak 1 2 3 yang Alki maksud sudah jelas guru matematikanya, pak Aljabar
"Udah, Ki, udah. Wildan masih diam belum ngamuk." Gibran memperingati
Setelah Fariz balik dari wc, ia kemudian duduk bersebelahan dengan Wildan. "Kenapa? Lo mikirin Gege? " tanyanya tiba-tiba.
Wildan menoleh ke arah Fariz, yang lain juga. Mereka mendekat kearah Wildan dan Fariz.
"Bilang aja, lo itu gugup abis diliatin Wildan gara-gara kentut lo bau telur busuk," cerosos Alki yang ikut duduk.
"Yah, yang gue liat beberapa minggu ini, lo keterlaluan sama dia Dan," Azriel membuka suara
"Hm, lo ngak liat dia, tiap hari nangis saat lo mempermalukan dia, saat lo bully, saat lo ngelakuim kekerasan sama dia, nyuruh dia beli pake duit dia, sementara lo tau dia ngak punya duit, lo selalu melibatkan orang tua dia. Lo tau kelemahan dia," ucapan Alki tidak sepenuhnya salah, Alki memang sering melihat Gege manangis.
"Gue ngak ngebela dia. Dia cantik, munafik kalau kalian bilang dia ngak cantik. Kalau gue liat dia baik, kita semua pernah liat dia-kan, dia ngebantu anak-anak jualan hari itu?" Bagas masih mengingat saat mereka melihat Gege memabantu seorang anak menjual.
"Gue kasih lo tantangan semacam taruhan lah," Fariz menatap Wildan. Begitu juga sebaliknya.
"Lo selalu mikirkan dalam hati, kenapa dia berani sama lo? Kenapa dia ngak luluh sama ketampanan lo? Kekayaan lo?" tanya Fariz dan langsung dapat anggukan dari Wildan.
"Lo benci sama dia kan?" pertanyaan Fariz dapat anggukan dari Wildan.
"Lo mau liat dia menderita?" lagi-lagi pertanyaan Fariz mendapat anggukan.
"Lo tau, membunuh tanpa menyentuh?" pertanyaan Fariz membuat Wildan menatapnya dengan bingung.
"Buat dia jatuh cinta,lalu menghilang." semua orang terkejut dengan perkataan Fariz tetapi tidak sampai mengeluarkan suara.
"Seperti yang gue bilang, gue kasih lo tantangan samacam pertaruhan. Buat dia luluh sama lo. Lo pacarin dia sampai 3 bulan, terus lo putusin dia." Fariz sungguh serius
"Jangan kotori nama Basupati, dengan sikap lo yang terus-terusan kyak gitu, bisa mencemerkan nama baik Basupati, lo ngak mau-kan Basupati dapat julukan Raja pembully? Lo ketua harusnya mikir, bukan buat diri lo sendiri tapi seluruh yang berkaitan dengan Basupati. Gue sebagai Wakil, ngak mau Basupati dicap kejam-lah, pembully-lah dan sebaginya." Fariz menatap satu-persatu temannya.
"Gue setuju. Dan kalau lo kalah, gue minta lo beliin gue motor metic, buat emak gue. Biar ngak make motor gue terus," ujar Alki menatap Wildan.
"Gue minta semua anak Basupati lo traktir selama sebulan penuh," ujar Gibran bersamangat
"Gue yakin Dan, lo ngal bakalan nolak. Lo sukakan tantangan?" tanya Azriel
"Oleh karena itu, gue minta lo pinjamin gue motor kesayangan lo seminggu," Azriel tidak main-main. Wildan melotot, permintaan macam apaan ini.
"Gue sih ngak aneh-aneh yah, bantu gue dekat sama gebeten aja udah cukup," ujar Riziq bersama dengan kekehannya.
Wildan tampan memikir sejenak. "Oke, deal." ujar Wildan akhirnya.
"Gue harap, lo yang luluh ke Gege Dan, biar ngak ada yang tersakiti," Fariz menepuk bahu Wildan.
---
Hai, hai, hai, jangan lupa tinggalin jejak yah.
Salam manis dari Gebbi

KAMU SEDANG MEMBACA
Wildan Genaya
Teen FictionJika penderitaan yang kau liat, bukankah aku sudah cukup menderita bersamamu? Bukankah penderitaanku adalah hal kebahagiaanmu? Lantas apalagi? Hatiku sudah kau genggam terlebih ragaku yang sudah menjadi milikmu. Terima kasih atas luka dan asa yang...