Pagi ini, hari pertama SMK Brata Jaya terbuka, setelah libur semester satu. Semua wajah tampak ceria memasuki Gerbang sekolah.
"MINGGIR!" semua orang menoleh ke sumber suara dan memberinya jalan. Suasana yang tadinya ribut dan ceria, seketika menjadi hening.
Namanya Wildan Alamsyah Adinata, ketua geng Basupati, orang yang sangat angkuh, sombong, keras kepala dan tidak mau diatur. Meskipun begitu, wajahnya yang tampan dapat membuat siswi-siswi di SMK Brata Jaya terpikat dengannya ditambah dengan otak yang diatas rata-rata yang Wildan miliki. Namun, sayang Wildan tidak menunjukkannya.
Semua siswa dan siswi sudah berada di lapangan untuk mengikuti upacara, tetapi tidak dengan Wildan. Sekarang Wildan masih berada di dalam kelas, menyatukan kursi-kursi dan berbaring diatasnya.
Sementara di lapangan, sebagian siswa dan siswi sudah mengeluh karena matahari sangat terik.
"Oh Malaikat Allah, panas banget," keluhnya terang-terangan. Semua mata memandangnya, bagaimana tidak suaranya sedikit besar.
"Sttt, diam Ge. Lo mau abis upacara diam di tengah lapangan dulu selama 10 menit?" ujar seseorang di samping Gege.
Genaya Achandra, gadis yang akrab disapa Gege. Gadis yang hidup sederhana dengan mimpi setinggi langit. Gege bukanlah orang yang famous di SMK Brata Jaya. Tapi, Gege cukup dikenal.
Gege adalah orang yang hidup sederhana, dengan otak yang cedas. Gege juga orang yang rajin, lemah lembut, sangat baik kepada semua orang tapi, ketika dia benar-benar tidak dapat menahan amarahnya, dia akan berubah manjadi ganas. Dan ya, Gege sangat membenci orang yang kasar, sombong dan angkuh.
Menurutnya apa yang patut disombongkan? Semuanya bisa hilang kapan saja.
"Sumpah tadi gue mau pinsang tau ngak Ge," ujar Tari. Sahabat Gege dari kecil, yang berpenampilan tomboy.
"Gitu doang udah mau pingsan, malu sama penampilan Tar," ujar Gege yang sudah duduk di kursi kantin setelah membeli es teh.
"Lo juga tadi suka ngeluh," balasnya tidak terima.
"Iya tapi wajar gue kan cewek sepenuhnya,"
"Iye. Gimana liburnya? Hasilnya memuaskan ngak?" tanya Tari tiba-tiba
"Lumayan buat keperluan hari-hari, lo liburannya seru ngak?" tanya Gege
"Seru. Seandainya gue anak orang kaya, gue pasti bantuin lo, kalau lo lagi ngak ada uang," Tari sangat menyayangi Gege. Bagi Tari, Gege adalah malaikatnya. Bagaimana tidak, dulu Tari hampir ditabrak mobil, tapi ditolong oleh Gege malah Gege yang masuk rumah sakit. Gege jadi teman curhat Tari ketika orang tua Tari lagi bertrngkar dan masih banyak lagi yang Gege lakuin buat Tari.
"Santai aja kali, gue kerja karena gue ngak mau bikin Ayah kepikiran sama sekolah gue dan adik gue," balasnya.
"Gue salu ..."
"PINDAH!" suara itu memotong pembicaraan Tari.
"Wildan," ujar Tari terkejut.
"PINDAH!" ujar Wildan sekali lagi
Gege hanya diam, bukan karena takut, tapi malas berurusan dengan Wildan. Selama bersekolah di SMK Brata Jaya, Gege tidak pernah mau berusuaan dengan Wildan .
"Kalau kantin Bu Sri tutup, tempat kami makan disini," tunjuk Azriel ke meja. Azriel anggota geng Basupati yang juga pemberontak.
"Kenapa lo diam aja hah?" bentak Azriel ke Tari.
"Ngak usah ngebentak." tegur Gege
Semua mata di kantin sudah tertuju pada mereka.
"Ya allah, baru sadar ada cewek cakep disini," ujar Alki receh, salah satu anggota geng Basupati juga.
"Ya udah pergi." Wildan menatap Tari geram. Tari dan anak Basupati sudah saling kenal tetapi, Bagi anak Basupati, Tari terlalu menjengkelkan menjadi perempaun setengah laki-laki.
Wildan membuang es teh milik Tari di kaki tari. Gege tidak suka milihat tindakan kekerasan. Terlebih kepada orang yang Gege sayang.
Tidak ada yang bersuara. Mereka sudah jadi pusat perhatian, tidak ada yang membela Tari.
Gege mengambil es teh miliknya dan menyiramnya ke Wildan. "Ngak usah kasar. Tari ngak salah," belanya
Semua orang terkejut. Suara saling berbisik terdengar. Bahkan ada yang menepuk jidad dan mengatakan 'tamat riwayat lo Genaya'
"Anj*ing," Wildan menyiram sisa es teh milik Tari ke Gege
"Lo yang anj*ng. Orang sombong, angkuh datang langsung marah-marah kyak orang stress," emosi Gege meluap, lelaki dihadapannya ini sangat kurang ajar.
Gege tidak peduli mereka jadi pusat perhatian.
"Tau apa lo tentang gue hah? Miskin aja belagu. Orang tua lo yang miskin itu ngak kasihan nyekolahin anak bego kyak lo? Atau orang tua lo malu punya anak kyak lo?" tanyanya sarkas
Plak
Gege menampar Wildan begitu keras. Semua orang menutup mulutnya. Gege dalam bahaya besar.
"Brengsek." ujar Gege dengan tangis yang Gege tahan.
"Jangan bawa-bawa nama orang tua. Mereka selalu ngajarin gue hal yang positif. Dan kalau gue ngalakuin hal negatif, itu salah gue bukan mereka." mata Gege sudah berair. Sungguh, Gege tidak menyukai orang tuanya direndahkan.
"Beda sama lo yakan? Ngak pernah diajarin tata krama." Setelah mengucapkan itu Gege segera pergi.
Tangan wildan terkapal kuat-kuat "Tunggu pembalasan gue," ujarnya dengan emosi
***
AN
Hallo kawan-kawan, makasih udah melungkan waktu untuk membaca cerita ini, kalau ada yang kurang maaf yah, masih belajar.
.
Jangan lupa vote dan komen, ngasih kritik dan saran juga ngak apa-apa.
.
Jangan nilai ceritanya terlalu cepat, ikuti terus kisahnya yah Be.Salam manis
Gege

KAMU SEDANG MEMBACA
Wildan Genaya
Teen FictionJika penderitaan yang kau liat, bukankah aku sudah cukup menderita bersamamu? Bukankah penderitaanku adalah hal kebahagiaanmu? Lantas apalagi? Hatiku sudah kau genggam terlebih ragaku yang sudah menjadi milikmu. Terima kasih atas luka dan asa yang...