20. Semakin jatuh cinta

813 54 0
                                    


Waktu tidak berperan dalam siklus mencintai. Karena cinta bisa datang kapan saja.

---

Wildan membawa Gege kerumahnya. Begitu masuk rumah, Wildan dan Gege disambut olah Bi Tin, pembantu dirumah Wildan.

Bi Tin sedikit terkejut, melihat Wildan membawa teman perempuannya datang kerumah. Selama ini yang datang kerumah hanyalah anak Basupati saja.

"Bi, bikinin dia minuman, yang enak awas aja kalau ngak enak," ancam Wildan dengan serius.

"Wil, ngak sopan," tegur Gege.

"Dia pembantu aku Ge,"

Bi Tin semakain terkejut karena Wildan berbicara begitu lembut dengan perempuan disampingnya itu.

"Tetap saja, lo harus hormati yang lebih tua," ujar Gege

"Kamu Ge, bukan lo." Ujar Wildan. "Maaf ya Bi," sambung Wildan.

Bi Tin tersenyum menahan haru, tuannya ini sangat patuh kepada perempuan itu. "Bi, minumannya harus selesai pas aku turun dari kamar,"

"Mandinya cepatan Wil," ujar Gege.

"Kamu ikut aku kekamar,"

Gege terkejut. "APA? LO GILA YAH?" teriak Gege dengan refleks.

"Aku bukan orang jahat Ge. Yakan Bi?" Wildan meminta pendapat dan mendapat anggukan dan senyum dari bi Tin.

Dengan pasra Gege mengikuti Wildan. Kamr Wildan begitu luas dengan nuansa biru navy dan abu-abu muda. Kamarnya begitu rapi. Ada satu yang menggangu penglihatan Gege, yaitu sebuah foto dirinya yang tengah tertawa. Gege ingat saat itu, ia, Tari dan Yolanda tengah membicarakan pengalaman Tari yang pipis di kloset duduk dengan berjongkok. Gege tidak sadar, jika saat itu Wildan memperhatikannya bahkan sampai memfotonya.

Perlahan, senyum Gege terbit. "Kamu tau, rasa itu udah mulai hadir. Karena terbiasa bersamamu."

Beberapa menit kemudian, Wildan keluar dari kamar mandi dengan rambut yang ia biarkan basah.

"Ayok," ajak Wildan keluar.

"Ini Non, diminum jus jeruknya." ujar bi Tin dengan ramah.

"Makasih Bi. Bibi tau aja kalau aku suka jus jeruk," kekeh Gege.

"Ge, bentar aku ambil kunci motor dulu yah." Wildan kembali naik ke kamarnya.

"Nama Non siapa?" tanya bi Tin.

"Genaya Bi, tapi panggil Gege aja,"

"Bibi yakin, Den Wildan serius sama Non," ujar bibi tiba-tiba.

"Eh? Bibi ngomong apaansih." Gege melanjutkan minumnya.

"Iya Non. Den Wildan belum pernah selembut itu kalau ngomong sama orang, terus sampai tersenyum manis, apalagi nurut dengan satu kali suruhan. Non adalah orang yang pertama Den Wildan izinkan masuk dikamarnya selain Bibi, Papa dan Mama aja Non ngak, apalagi teman, jauh Non. Bibi aja masuk buat beres-beres aja. Non juga teman cewek Den Wildan yang pertama nginjakin kaki dirumah ini," ujar Bi Tin panjang lebar. Gege jadi mengingat fotonya yang Wildan pajang dikamarnya.

"Udah? Ayok," ujar Wildan memeganh tangan Gege. "Doain Bi, semoga Gege udah mulai suka sama Wildan,"

"Pasti Den."

---

Gege tau ini jalan kemana. Hanya saja Gege terus diam takut Gege salah menebak. Hingga akhirnya motor Wildan memang berhenti dipemakaman.

"Kenapa kesini?" tanya Gege heran.

"Tunjukin makam Bunda, Arsen dan Rian ke aku,"

"Buat apa?"

"Tunjukin aja dulu," Gege yang penasaranpun segara membawa Wildan kemakan bundanya dulu.

"Assalamualaikum Bunda Acha. Perkenalkan nama saya Wildan. Calon suami Gege kelak amin." Wildan mengelus-elus makam bunda Gege.

"Makasih yah Bun. Udah ngelahirin Gege, makasih buat Tuhan yang udah ciptain Gege dan mempertemukan saya dengan Gege. Saya jatuh cinta sama anak Bunda." setelah bercerita panjang lebar dengan bunda Gege. Sekarang Gege membawa Wildan ke makam Arsen dan Rian.

"Assalamualaikum bro, lo yang namanya Rian? Yang bikin gue susah dapatin Gege karena Gege masih nyimpan rasa buat lo? Thanks yah bro. Lo usah ngasih kesempatan buat gue, kesempatan buat bersama Gege. Buat bahagiain dia."

Wildan berbalik menghadap makam Arsen. "Assalamualaikum kak, gue janji sama lo, bakalan jagain adek lo ini, kalian semua adalah orang hebat yang berada di belakang Gege, makanya Gege juga bisa sehebat ini, gue pengen ketemu sama kalian semua, tapi udah ngak bisa." Wildan berpamitan keoada Arsen san Rian. Setelah itu membawa Gege berkeliling-keliling kota.

Gege menepuk bahu Wildan. "Wil, berhenti, tolongin Kakek itu dulu," setelah motor berhenti Gege langsung berlari ke arah kakek yang mungkin korban tabrak lari.

"Wil, telpon ambulance cepat,"

Beberapa saat kemudian, ambulance datang. Gege ikut kedalam ambulance dan Wildan mengikuti ambulance dari belakang menggunakan motor cross kesayangannya itu.

Gege terlihat panik, sedari tadi mondar - mandir didepan pintu ruang pemeriksaan.

"Tenang Ge," Wildan berusaha menenangkan Wildan.

"Kasihan Kekek itu,"

"Setiap detik, rasa cintaku ke kamu bertambah satu ons. Semakin hari, cinta aku ke kamu semakin besar dan berat." Wildan membawa Gege kedalam dekapannya

Dokter keluar, memberi Gege sebuah ponsel yang dari tadi berbunyi. Gege mengangkatnya dan mengatakan kakek itu berada di rumah sakit, kakek itu menjadi korban tabrak lari. Sampai akhirnya keluarga kakek itu datang. Wildan dan Gege pamit.

"Kalau gitu saya pamit dulu yah Om, Tante," pamit Gege.

"Iya sekali lagi makasih yah, Papa saya udah tua, udah pikun, mungki tadi lupa jalan pulang, kalau ngak ada kalian, Tante ngak tau lagi,"

"Sama-sama tante, kami ikhlas kok," jawab Wildan membuat Gege tersenyum.

"Kalian pasangan yang cocok. Baik, ganteng dan cantik. Lulus SMA langsung lamaran saja, langgeng sampai maut memisahkan," ujar Tante  itu.

Gege pamit kembali, diperjakan Wildan menggenggam tangan Gege. "Banyak banget yang doain kita langgeng yah, jadi senang."

"Karena selain ucapan, keyakinan adalah doa," ujar Wildan dengan bangga. Dirinya kini mulai bijak.

---

Vote dan comen.

Wildan GenayaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang