20

1K 133 3
                                        

"Udah Ho, sini es batu nya." HwaYoung menyuruh Minho melepaskan es batu yang masih ia tempelkan di pipinya.

HwaYoung menaruh kantong es batu itu, lalu kembali lagi duduk di depan Minho.

"Sakit ya Ho?" Tanya HwaYoung khawatir saat melihat luka lebam keunguan di pipi Minho.

Minho hanya menggeleng.

HwaYoung menyernyit aneh. "Masa ga sakit?" Lalu HwaYoung sedikit menekan lebam di pipi Minho itu.

"Ssss aw." Minho meringis dan menjauhkan wajahnya.

"Sakit kan? jujur aja susah banget sih." Kata HwaYoung smabil terkekeh.

Minho menatap HwaYoung sengit.

"Haha yaudah sini sini, sorry." HwaYoung meminta maaf.

Minho mendekatkan wajahnya lagi.

HwaYoung perlahan mengoleskan salep lebam di pipi Minho, mukanya berubah sangat serius seakan akan pipi minho mudah rapuh.

"Si Vernon itu maunya apa sih? Ko sampe nonjok gitu?" Tanya HwaYoung.

"Banyak yang gasuka sama gue. Mungkin lo juga kan?" Tanya Minho. Pandangan matanya meredup.

HwaYoung yang sudah selesai mengobati Minho lansung menatap Minho.

"Sok tau dasar. Gaboleh gitu Ho, lo itu orang baik." Ucap HwaYoung sambil tersenyum.

"Cih sok tau." Minho membuang muka.

"Kalo lo jahat, mungkin lo gaakan nyamperin gue saat gue sedih dulu. Buktinya lo nyamperin gue dan ngajak gue ke salah satu tempat kesukaan lo kan?" Jelas HwaYoung.

"Itu kebetulan." Jawab Minho singkat.

"Gue ga peduli." Kata HwaYoung savage.

Minho menatap HwaYoung.

"Apa? Terpesona lo sama gue?" HwaYoung menaikkan alisnya.

"Ga." Jawab Minho cuek. Sebenarnya hatinya sudah berdebar.

"Hih, yaudah biasa aja mukanya." Omel HwaYoung.

Minho terkekeh melihat HwaYoung yang cemberut. "Iya iya."

Hati HwaYoung selalu berdesir kalau melihat Minho tertawa atau tersenyum.

"Hehe gitu dong. Jangan kebanyakan galak galak dan kurang kurangin berantemnya ya. Yuk ah keluar." Ajak HwaYoung.

Minho menahan tangan HwaYoung.

"Gue bisa ramah, tapi cuma sama lo doang, dan saat cuma ada lo sama gue doang." Kata Minho lalu ia tersenyum.

"Kesambet lo Ho?" HwaYoung malah takut dengan Minho.

"Gajadi." Minho kembali dingin dan jalan duluan.

"Iiiiiiih gue bercanda Hooooo." Oceh HwaYoung.

"Biarin." Minho tetap berjalan.

"Ngeselin ih." HwaYoung menyusul Minho untuk kembali ke kelas.
















"Udah ngobatinnya? Ngobatin atau pdkt nih? lama bener." Tanya Yena saat HwaYoung sudah duduk di sebelahnya di dalam kelas.

"Yee mana ada gue pdkt sama Minho? Berantem mah iya." Omel HwaYoung.

"Masa siiih? Pipi lo kok kayaknya merah ya? Anget lagi." Yena memegang pipi HwaYoung.

"I..iya, ini nih gara gara gue lari tadi Yen, kan takutnya udah ada guru." HwaYoung mencoba meyakinkan sahabatnya itu.

"Percaya deeeeeh, kalo ada yang mau diceritain, ceritain aja yaaa." Yena masih menggoda HwaYoung.

"Iyaa ih bawel banget gue punya sahabat." Kata HwaYoung sambil mencubit pipi Yena.

"Sakit aw." Yena memegang pipinya.

"Mau lagi?" HwaYoung sudah bersiap siap unyuk mencubit lagi.

Yena hanya menggeleng geleng. "Ngga, hehe."
















HwaYoung berjalan riang menuju rumahnya. Masih mengingat perkataan Minho di UKS siang tadi.

HwaYoung berhenti saat melihat toko roti kecil.

"Eh perasaan kemarin kemarin gaada." Kata HwaYoung. Lalu ia melangkahkan kakinya masuk ke toko roti itu.

"Selamat sore." Sambut bibi yang sepertinya pemilik toko itu

"Sore Bi." HwaYoung mengangguk ramah.

Setelah melihat lihat, HwaYoung memilih beberapa roti untuknya dan Jeongin.

"Baru pulang sekolah nak?" Tanya bibi tu ramah sambil mengemasi roti.

"Iya bi. Ah, apa toko roti ini baru buka? Aku baru melihatnya." Tanya HwaYoung.

"Bibi baru pindah kesini seminggu yang lalu, lalu membuka toko roti ini." Jelas bibi penjual roti.

HwaYoung hanya mengangguk mengerti karena toko ini sepertinya langsung menyambung ke rumah.

"Ini bibi berikan satu cinamon roll untukmu, sering seringlah mampir." Bibi penjual roti tersenyum ramah dan memberikan belanjaan HwaYoung.

"Terimakasih bi. Tenang saja, aku menyukai roti, pasti aku akan sering sering mampir." Kata HwaYoung ceria.

"Baiklah, hati hati dijalan nak." Kata Bibi itu.

HwaYoung melambai sebelum keluar toko.







"Wah rotinya enak, kakak beli dimana kak?" Tanya Jeongin yang memakan rotinya.

"jalan aja ke arah halte bus Jeong, nanti juga nemu. Kan cuma satu toko roti sekitar sini." Jelas HwaYoung.

"Hmm gatau ah. Ini buat Jeongin semua ya kak, kan kakak tau tokonya yang mana." Jeongin membawa semua rotinya.

"JEONG KAKAK JUGA MASIH MAU." HwaYoung berlari mengejar Jeongin.

Terjadilah perang untuk memperebutkan roti.


😽😽😽😽😽

Last Dance [Lee Know] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang