Minho menyernyit ketika ia melihat mobil mewah yang terparkir di depan rumah Bunda. Setelah dekat, ia langsung memarkir motornya dan masuk ke dalam rumah. Jantungnya berdetak cepat. Bayangan kejadian bertahun tahun yang lalu berputar di benaknya.
Minho membuka pintu sambil terengah.
"Papa?!"
Minho kaget melihat Papa nya yang sedang duduk bersebrangan di sofa dengan Bundanya.
"Sini sayang." Bundanya memanggil Minho.
Minho tidak merespon. Hanya kakinya yang melangkah mendekati Bunda. Ia tidak ingin Bunda pergi lagi. Minho ingin melindungi Bundanya.
"Apa yang Papa mau? Kenapa Papa kesini lagi?" Tanya Minho dingin. Sedangkan tangannya memegang tangan Bunda erat.
"Minho, maafin Papa. Papa janji akan tetap mempertahankan kalian. Kamu dan Bunda." Papa terlihat sangat bersungguh sungguh. Minho juga tersentuh karena cairan bening yang sudah berkumpul di pelupuk mata Papa.
"Minho.." Bunda membelai rambut hitam Minho. Minho menoleh.
"Maafin Bunda juga yang waktu itu pergi ninggalin kamu, sama Papa. Kita terlalu egois sampai ga mikirin kamu Ho."
Minho hanya berusaha keras menahan tangisnya dan mengangguk.
"Papa juga minta maaf gabisa nahan Bunda waktu itu dan selalu ngerasin kamu. Maafkan Papa Ho."
Hati Minho menghangat. Merasakan darahnya yang menghangat. Keluarganya kembali utuh pada hari ini. Akhirnya cairan bening lolos dari matanya. Ia langsung memeluk Bunda, dan Papa yang memeluk mereka.
Baru saja HwaYoung ingin mematikan lampu dan ingin tidur. Hp nya berdering.
"Halo Ho, tumben malem gini nelpon, ada apa?"
'Young, gue di depan. Sorry malem banget hehe, bisa keluar sebentar ga?'
HwaYoung membelalakkan matanya.
"Heh kebiasaan! Tunggu bentar Ho."
'Hehe iya.'
HwaYoung langsung mengambil jaketnya dan keluar rumah.
Minho sudah turun dari motornya.
"Ho, ada apa?" Tanya HwaYoung penasaran.
"Sorry malem malem Young. Hmm, gue mau bilang aja sih kalo gue sama Bunda pulang ke rumah yang dulu."
"Hah gimana? Rumah Papa lo? Hmm maksudnya rumah keluarga lo?"
"Iya. Tadi Papa dateng dan ya, semuanya balik kayak semula Young. Gue bahagia." Minho tersenyum.
HwaYoung sangat lega mendengarnya.
HwaYoung melangkahkan kakinya mendekati Minho dan memeluknya.
"You just doing great Minho."
Minho yang kaget atas perlakuan HwaYoung tersadar dan memeluk HwaYoung balik.
"Thanks udah nemenin gue selama ini. Selalu ada buat gue. Makasih Young." Kata Minho tulus.
"Sama sama Ho. Gue juga makasih lo tetep ada buat gue." Jawab HwaYoung.
Mereka melepaskan pelukan mereka.
"Gue cuma mau nyampein itu aja sih. Oh ya dan gausah khawatir. Walau besok sekolah udah libur dan gue ga di deket sini lagi tapi gue akan tetep nyamperin lo kok hehe telpon aja ya kalo kangen sama gue." Jelas Minho panjang lebar.
"Lo kali yang bakal kangen sama gue?" Balas HwaYoung.
"Ngga tuh."
"Yaudah awas lo Ho kalo kangen sama gue."
"Hahaha iya iya. Yaudah kalo gitu gue pamit ya. Sana masuk ke dalem. Hush." Minho menggerakkan tangannya seperti mengusir HwaYoung.
"Ih ngusir, paldahal tadi nyuruh keluar." HwaYoung cemberut.
"Hahaha bodooo sana masuk. Jangan lupa cuci kaki sebelum tidur."
"Iya iyaaaa. Lo hati hati ya Hoooo."
"Siap." Minho mengacungkan jempolnya.
Setelah memastikan HwaYoung sudah masuk rumah, Minho memakai helm dan menyalakan mesin motornya.
"Young, gue harus gimana?"
Ucap Minho dalam hati. Setelah itu ia melaju dengan motornya.
😽😽😽😽😽
Hello readersku tersayaaang, sorry banget aku jarang update yaaaa soalnya lagi sibuk tugas akhir hehe.. makasih buat kalian yang udah baca cerita ini dan vote cerita ini 😸
-Devina-
KAMU SEDANG MEMBACA
Last Dance [Lee Know] ✓
Fanfiction"Ya lo pake otak lah." Minho "Ya mana gue tau kalo ada tangga disitu." HwaYoung Yang satu dingin, yang satu aneh, apa mereka bisa berdamai? Atau akan selalu mengibarkan bendera perang? Ayo kita baca aja supaya tau cerita mereka 😉
![Last Dance [Lee Know] ✓](https://img.wattpad.com/cover/207483987-64-k336747.jpg)