"Kenapa lo bilang gitu?" tanyaku, berusaha keras untuk santai.
Aku nggak boleh lengah dan lemah. Bisa saja pertanyaan Dimas ini hanya jebakan. Hanya iseng-iseng berhadiah dengan bersikap seolah-olah tahu, dengan tujuan membuatku mengaku. Jadi aku nggak akan terjebak. Tapi susah sih, karena sikapku lebih mirip maling ketangkap basah.
"Tadi gue denger obrolan lo sama dia," jawab Dimas. "Pertanyaan Mas Larung itu pertanyaan gue juga."
"Larung nggak nanya apa-apa," jawabku.
"Ck aaahhh..." Dimas mengerang sebal. "Yang tadi, yang dia bilang 'gue pikir lo suka sama gue'. Jawabannya, iya kan?"
Kali ini aku terdiam. Cukup lama. Ternyata Dimas hanya mendengar pertanyaan Larung tadi. Tapi aku bingung harus menjawab apa. Dimas bukan jenis orang yang mudah dibohongi. Tapi, kira-kira apa dampaknya kalau aku jujur? Apa Dimas akan marah? Marah karena aku si rakyat jelata ini berani-beraninya naksir anak sultan seperti dirinya dan Larung? Atau Dimas akan menuduhku pengkhianat karena, notabenenya, Larung adalah saingannya dalam keluarga? Atau Dimas akan kecewa karena bisa-bisanya aku malah naksir Larung saat aku harus membantunya dengan pura-pura kami pacaran?
"Ya elah, Bri, muka lo udah kayak lagi kelas Filsafat Hukum aja. Pucet!" ledek Dimas. "Nggak usah dijawab lagi, gue udah tahu jawabannya."
"Tapi Dim ..."
"CIYEEEEEEEE! BRILIAN AKHIRNYA JATUH CINTA!! CIYEEEEEEE UTUK UTUK ... UHUK MUKA LO MERAH ... ANJIIRRR! GUE NGGAK MENYANGKA BISA LIHAT MUKA LO YANG BEGINI, BRI!"
Dasar teman laknat. Bagaimana kalau Larung mendengar teriakan Dimas yang heboh ini dari kamarnya? Ya memang kamar Larung ada jauh di bagian belakang sih, sejajar dengan kamarku, sedangkan aku dan Dimas ada di teras. Tapi mungkin saja suara Dimas terbawa angin sampai ke sana!
"Jangan berisik, anjeng!" makiku, sambil menendang tulang keringnya.
"AOOOWW!"
"Dibilangin jangan teriak-teriak! Nanti gue diusir dari kosan!" kataku panik.
Dimas refleks menutup mulutnya. Lalu tanpa dipersilakan terlebih dahulu, Dimas masuk ke halaman kos dan duduk di kursi rotan yang ada di teras. Padahal seingatku, aku nggak menyuruhnya mampir.
"Dari kapan lo naksir dia?" tanya Dimas masih dengan nada isengnya.
Meski malas luar biasa, aku ikut duduk di sebelahnya.
"Nggak penting banget pertanyaan lo," jawabku kesal.
"Ya pentinglah! Eh bentar!" Dimas menyipitkan mata. "Jangan-jangan alasan lo sering ke perpustakaan belakangan ini karena ..."
"Ahelah! Udah deeeeh ..." potongku. "Nggak usah dibahas. Malu gue ..."
Dimas lagi-lagi tergelak mendengar kata-kataku. "Pake bilang malu lagi ... Kek sama siapa aja lo. Tapi kenapa lo nggak bilang dari dulu-dulu sih? Kan gue bisa bantuin."
"Maleslah gue. Mulut lo kan lemes. Ntar Adri sama Toro tahu. Terus ntar sekampus tahu. Abang lo tahu juga ntar."
"Lah, orang dia udah tahu gitu."
Aku terdiam sebentar, lalu menggeleng. "Bercanda nggak sih dia soal yang tadi itu?"
Dimas mengedikkan bahu. "Mungkin. Tapi tenang aja, ntar gue bantuin biar lo bisa PDKT sama dia."
Kali ini aku menatap Dimas dengan bola mata nyaris memutar. Kok bisa-bisanya dia bilang begitu?
"Hello, bangsat. Lo lupa? Sekarang kan status gue pacar lo! Gimana ceritanya lo bantuin pacar lo PDKT sama saingan lo? Tolong dong, pikirannya dipake!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Temu Rasa
Romance[Cerita ini akan menjadi gratis pada tanggal 15 September 2025] Brilian, seorang mahasiswa hukum berusia 20 tahun, berhasil bekerja part time di Kafe Ruang Temu Rasa, milik pria yang selama 1,5 tahun terakhir dicintainya diam-diam. Saat perasaannya...
