Aku nggak tahu apakah Sonia mengenal gestur dan raut wajah Larung sebaik aku mengenalnya. Namun, mengamatinya dari jauh selama setahun lebih, membuatku mudah mengenali masing-masing ekspresi Larung. Aku tahu kapan kerutan di dahinya menandakan rasa nggak suka. Aku tahu kapan dia menyibak rambutnya ke belakang dan itu menandakan dia sedang gelisah atau salah tingkah. Aku tahu kapan ekspresi datarnya sedang menyembunyikan tawa geli yang nggak pantas ditunjukkan. Ya, aku memahami Larung sebanyak itu.
Tapi kali ini, aku nggak bisa membaca ekspresinya. Tiga detik setelah keterkejutannya karena aku datang tadi, wajahnya berubah drastis. Datar yang sebenar-benarnya datar. Dia bahkan menyandarkan kepala ke belakang, dan memejamkan mata saat aku bertanya apakah Dimas ada.
"Ada kayaknya. Masuk aja, Bri," katanya tanpa membuka mata.
Sikapnya seolah-olah terlalu sakit untuk duduk di sana. Nggak heran kalau Sonia jadi khawatir. Cewek itu memegang dahi Larung dengan lembut.
"Demam, Rung. Mau ke dokter aja apa?"
Seriously? Larung diam saja Sonia melakukan itu? SERIOUSLY?
Nggak sanggup menahan diri dan takut malah bilang yang aneh-aneh, aku ngeloyor masuk ke dalam. Begitu sudah di balik pintu, kuhela napas panjang-panjang. Aku merasa bodoh karena tadi aku buru-buru ke sini. Aku merasa tolol karena aku harus bersikap sepengecut ini. Maksudku ... kenapa aku yang harus pura-pura nggak apa-apa dan nggak ada hubungan apa-apa?
Tunggu, mungkin bukan aku yang pengecut. Tapi Larung! Kok bisa-bisanya dia membiarkan Sonia datang ke sini? Kok bisa dia membiarkan Sonia menyentuhnya begitu? Kok bisa dia membiarkan Sonia tetap beredar di sekelilingnya kalau hubungan mereka sudah selesai? Kok bisa dia membiarkan Sonia bersikap seenaknya dan merisak cewek-cewek yang dekat dengannya? Semua itu nggak perlu ada, kalau Larung mau bersikap tegas kan! Lalu, bila nggak ada yang berbeda dengan relasi Larung - Sonia, kenapa Larung mengajakku pacaran? Maksudku, kemarin dia menjadikan Sonia sebagai alasan baru berani mengajakku jalan sekarang. Kalau situasinya masih sama, kenapa dia bersikap seorang ada perubahan?
Astaga. Aku benci diriku yang seperti ini. Aku benci kepalaku yang berisi begitu banyak asumsi dan prasangka. Apa mencintai itu selalu begini? Semelelahkan ini?
"Kak Bri!"
Untung saja kewarasanku kembali begitu panggilan imut itu terdengar. Ah, Andari memang guardian angel-ku. Nggak heran nama kami mirip begini.
Kali ini si kecil tengah menjajal sebuah kostum menjadi putri raja dari China. Andari memakai gaun merah dengan kerah sanghai yang memanjang sampai mata kaki. Rambutnya digelung dan dikunci dengan sumpit merah.
"Wiiih cantik banget!" decakku kagum, sembari menghampirinya yang berada di ruang tamu. "Andari mau pentas?"
Andari yang sekarang kelas 2 SD itu mengangguk semangat. "Aku jadi Putri Hwang Zhu!"
Putri Hwang Zhu? Siapa pula itu?
"Cocok nggak, Kak Bri? Mama yang pilihin."
"Nggak yakin dia, Bri." Tante Renata muncul dari arah dapur, membawa sepatu balet warna hitam. "Katanya dia mau jadi Elsa aja. Padahal bagusan kalau beda sama teman-temannya yang lain. Tapi cantik kan?"
"Banget!" Aku mengangguk lekas-lekas. "Udah itu aja, Ri. Udah cantik. Tinggal pake sepatu, sama bawa kipas. Mantul!" Kuacungkan dua jempolku, dan Andari terlihat mempercayai itu.
"Lho, kamu dari kampus, Bri?" tanya Tante Renata.
Aku mengangguk.
"Nggak libur?"
Aku menggeleng. "Emang Dimas bilang libur, Tan?" tanyaku bingung.
"Nggak sih. Tapi dia masih tidur, kirain Tante emang libur."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Temu Rasa
Romansa[Cerita ini akan menjadi gratis pada tanggal 15 September 2025] Brilian, seorang mahasiswa hukum berusia 20 tahun, berhasil bekerja part time di Kafe Ruang Temu Rasa, milik pria yang selama 1,5 tahun terakhir dicintainya diam-diam. Saat perasaannya...
