"Coba bilang, kenapa gue harus ada di sini."
Aku yang tengah membalas pesan Larung mendongak ketika mendengar pertanyaan Adri. Sahabatku itu sedang menatapku dengan ekspresi menuntut, dan jemarinya mengetuk permukaan meja dengan irama konstan.
"Karena lo harus balas budi setelah nyuruh gue nge-print-in dan ngejilid tugas individu Hukum Acara," jawabku enteng.
"Kalau gue?" tanya Toro, yang duduk di sebelahku sembari ngemil kuaci. "Tadi gue nge-print tugas sendiri."
Sontak aku tersenyum dan memiringkan tubuhku sedikit. "Karena Toro adalah orang yang baik hati dan nggak cerewet. Toro selalu mau membantu temannya yang kesulitan. Be like Toro."
Toro mengumpat, tapi aku nggak peduli. Kuteruskan kegiatanku membalas pesan Larung, yang seharusnya sudah ada di sini sekarang. Tapi dia masih terjebak di ruang konsultasi dengan dosen pembimbingnya.
"Gue kangen Dimas," kata Adri tiba-tiba. "Kalau Dimas ada di sini, kita nggak harus terjebak dalam situasi kayak gini, Tor. Biasanya Dimas tuh yang dia seret-seret kalau mau ketemu Larung. Kita bisa mengerjakan hal-hal lain yang lebih berguna bagi nusa dan bangsa."
Kali ini kutaruh ponselku di atas meja, dan kutatap dua sahabatku itu bergantian. Sejak kuajak—sedikit kupaksa—untuk makan siang di KanTek, dua cowok ini terus-terusan mengeluh. Heran. Padahal aku mau-mau saja kalau mereka menyuruhku ini itu. Memang dasar teman tak tahu balas budi mereka itu. Padahal aku hanya mengajaknya makan di kantin fakultas lain, bukannya ikut SBMPTN lagi dan mendaftar di Fakultas Teknik.
"Ntar pas ada pertandingan futsal, awas kalau sampai lo seret-seret gue buat nonton, ya, Dri," ancamku. "Nggak bakal mau gue! Awas juga kalau ntar lo ditinggalin temen-temen badminton lo itu terus ngajakin gue main. Nggak bakal peduli gue!"
Adri sontak nyengir, dan meraih tanganku.
"Iya deh, ampun ... ampun," katanya sambil cengengesan. "Ya tapi perbandingan lo nggak setara, Mafren. Nonton futsal kan bentuk dukungan buat tim futsal kampus lo. Lha, nonton lo pacaran? Lo berniat banget nyiksa jomlo macam gue sama Toro ya?"
Toro tergelak. Tapi sahabatku yang satu ini memang lebih kalem. Toro lebih mudah pasrah dan menikmati kuacinya dibanding Adri yang dari tadi mengomel terus menerus.
"Keberadaan lo di sini juga bentuk dukungan lo atas kisah cinta sahabat lo ini, Dri!"
"Seterah elo aja deh!" sahut Adri putus asa. Dia pun beranjak dan mulai berkeliling melihat-lihat konter-konter makanan di KanTek.
Kutatap kepergiannya dengan pandangan nanar. Lalu kualihkan mataku kepada Toro yang masih asyik mengunyah kuaci.
"Gue juga kangen Dimas," kataku jujur. "Dia beneran nggak mau disamperin, ya?"
Toro menggeleng. "Nggak usah katanya. Toh, dia di sana cuma sebentar."
"Ya iya sih. Dua puluh delapan hari doang. Tapi kan gue pengin tahu keadaannya, Tor," kataku nelangsa.
Sudah hampir tiga minggu Dimas menjalani rehabilitasi di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Cibubur. Sudah lebih dari sebulan sejak kali terakhir melihatnya di kantor polisi dulu. Tadinya, aku, Toro, dan Adri ingin menjenguknya segera setelah dia pindah ke RSKO. Tapi Dimas malah melarang, karena katanya dia cuma sebentar di sana. Berasa orang sakit parah aja pake dijenguk-jenguk, katanya.
Dimas akan menjalani rehabilitasi di RSKO selama 28 hari. Selanjutnya, proses rehabilitasi akan dilakukan dengan rawat jalan sampai 6 bulan ke depan. Selama itu, Dimas bisa pulang ke rumah dan beraktivitas seperti biasa. Namun, dia harus tetap kontrol dan menjalani terapi di RSKO dengan jadwal yang sudah diberikan. Aku nggak yakin Dimas bisa langsung kembali kuliah. Tapi aku tetap berharap dia segera keluar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Temu Rasa
Teen Fiction[Cerita ini akan menjadi gratis pada tanggal 15 September 2025] Brilian, seorang mahasiswa hukum berusia 20 tahun, berhasil bekerja part time di Kafe Ruang Temu Rasa, milik pria yang selama 1,5 tahun terakhir dicintainya diam-diam. Saat perasaannya...
