14. Buru-Buru yang Nggak Perlu

37.7K 6.3K 542
                                        

Apakah pacaran dengan Larung berarti bisa menjalani hari-hari penuh bunga seperti yang kubayangkan sebelumnya? Nope. Apakah kami bisa gandengan tangan saat main ke mal? Nope. Apakah kami bisa janjian makan siang bareng di Kantin Teknik, atau saling menemani sambil kalau ada jeda kelas? Nope. Apakah kami bisa berangkat dan pulang bareng setiap hari? Jelas, nope nope nope.

Aku dan Larung praktis nggak pernah bersama di kampus. Bila nggak sengaja bertemu, kami hanya akan menyapa secara kasual seolah dia semata-mata hanya abangnya sahabatku. Yaa ... Walau sesekali aku menyeret Dimas untuk makan siang di Kantin Teknik bersamanya. Atau Larung yang bergabung untuk makan siang bersama kami.

Aku dan Larung bisa bersikap seperti pasangan ketika kami hanya berdua. Menghabiskan waktu di RuTem pada hari Rabu dan Sabtu, di atas pukul 18.00, setelah rekan kerja satu shift-ku dan pekerja renovasi sudah pulang. Menyedihkan banget nggak sih? Aku nggak pernah membayangkan akan mengalami pacaran backstreet seperti ini. Maksudku, astaga, backstreet di tahun segini? Hai, halooo?

"Kamu mau pake sayur nggak?" tanya Larung dari balik dapur RuTem.

Aku yang duduk di balik coffee bar mendongak sedikit. Aku sedang menjawabi pertanyaan Titi di WhatsApp. Adikku yang kelas 3 SMA itu sedang mengerjakan essay pelajaran Kewarganegaraan. Ternyata pelajaran anak sekolah makin lama makin sulit. Masa Titi diminta mencari cara untuk mengatasi konflik toleransi keagamaan yang makin terkikis. Hah, yang benar saja, dia masih SMA. Sementara orang-orang tua di pemerintahan sana saja nggak bisa menyelesaikan permasalahan ini.

Di luar sedang hujan deras. Larung berinisiatif memasak mi instan rebus karena kami kelaparan. Memang hanya itu yang bisa dia lakukan di dapur. Well, meskipun bertanggung jawab atas RuTem, Larung sebenarnya nggak tahu apa-apa soal kuliner. Ah, jangankan kuliner. Aku nggak yakin Larung bisa bikin telur dadar.

"Kalau sayurnya wortel, nggak mau," jawabku. "Selain itu, okeee."

"Kenapa sih? Kan enak," protes Larung. "Dan sehat."

"Aku trauma sama wortel."

Nggak menunggu lama, Larung menghampiriku dengan sendok sayur di tangannya. Dia menyandarkan punggungnya ke coffee bar, dan menatapku dari samping.

"Trauma ... sama ... wortel?" tanyanya heran. "Aku baru dengar ada trauma semacam itu."

Aku tertawa kecil. "Jadi waktu kecil dulu aku sering dipaksa minum jus wortel, Mas. Bener-bener dipaksa. Dan itu bukan jus wortel yang enak kayak di tukang jus. Kayaknya itu dibikin jamu gitu. Nggak tahu ditambahin dedaunan apa. Kental dan pahit. Nggak enak. Huek! Tapi kalau belum diminum, aku nggak boleh keluar rumah."

Bahkan sampai sekarang aku masih bisa mengingat rasanya dengan baik. Jamu itu harus kuminum setiap hari, setiap pagi.

"Biar apa?" tanya Larung.

"Biar sehat," jawabku. "Nggak tahu tuh. Bapak dapat resep jamu dari mana. Yang jelas, habis itu aku jadi nggak doyan jus wortel. Nggak doyan wortel bahkan." Aku tertawa kecil. "Ironis, karena sekarang kadang aku malah kangen dicekokin jamu sama Bapak."

Kepergian Bapak waktu itu mendadak. Aku tak benar-benar siap saat menerima telepon dari rumah mengabarkan bahwa bapak sudah tiada. Padahal, dua hari sebelumnya kami masih ngobrol panjang di telepon dan aku berjanji pulang akhir pekan itu. Sayangnya, belum sampai akhir pekan, Bapak sudah "pulang" terlebih dahulu.

Larung mengusap kepalaku sekilas. "I know how you feel, walau mungkin aku nggak benar-benar tahu," katanya. "Waktu Mama dan Papa cerai, itu aja sakitnya bukan main. Padahal aku masih bisa ketemu Mama kapan pun. Padahal, waktu itu Papa udah berkali-kali ngasih pengertian ke kami sebelumnya, tentang kemungkinan terburuk itu. Supaya kami nggak kaget. Tapi ya tetep aja rasanya sakit. Jadi, ya wajar kalau kamu masih kangen sama Bapak. Apalagi Bapak perginya juga tiba-tiba."

Ruang Temu RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang