Renovasi Ruang Temu Rasa sudah mendekati tahap akhir. Pembukaan Ruang Temu rasa baru sudah di depan mata. Aku nggak pernah sesibuk ini seumur hidupku.
Dua minggu yang lalu, RuTem full team mengadakan meeting, tentang apa saja yang bisa ditingkatkan untuk RuTem rasa baru. Di sini, aku tahu bahwa Larung memang punya leadership yang bagus. Caranya menanyai dan menghargai pendapat semua orang benar-benar patut diteladani. Dengan begitu, Larung juga menumbuhkan rasa kepemilikan yang jauh lebih besar dari masing-masing tim, bukan sekadar karyawan dan perusahaan.
Aku dan Larung juga bergerilya menyusun rencana launching RuTem. Rencananya, kami akan mengajak beberapa distro kaus lokal dan toko buku-buku indie untuk bekerja sama, yang rencananya akan diberi tempat di sayap kanan. Aku sudah menemui beberapa vendor yang akan ikut serta. Lalu, Larung juga memboyong koleksi bukunya untuk ditempatkan di lantai dua yang sekaligus menjadi reading room.
Sementara Larung berusaha mencari music performer untuk launching nanti, aku juga sudah membuat postingan berkala di IG RuTem. Kadang kami bagi-bagi kopi gratis atau buku-buku gratis. Lumayan, untuk menarik masa. Sekarang followers RuTem sudah sampai di angka 9K, dan aku benar-benar bangga dengan diriku sendiri. Aku sudah merencanakan IG RuTem bukan sekadar instagram warung kopi yang isinya cuma foto-foto makanan dan kopi. Melainkan semacam akun multimedia dengan konten-konten yang bisa dinikmati.
Semua kesibukan itu membuatku nggak banyak pacaran dengan Larung. Kami hanya ketemu di RuTem, ngobrol sampai malam setelah pusing menyusun acara untuk launching. Kalaupun aku ada waktu luang setelah kuliah, aku punya kesibukan lain: mengintili Dimas.
"Masih kuliah, Brilian?"
Sembari membereskan diktat-diktat dan alat tulis, aku berusaha mengepit ponsel di antara pundak dan telinga.
"Nggak, Mas. Baru aja kelar nih. Kenapa?"
"Makan siang bareng yuk? Aku juga udahan bimbingannya."
"Umm ..." Kulirik teman-temanku yang lain. Sama sepertiku, Dimas, Adri, dan Toro juga tengah membereskan peralatannya. Setelah Filsafat Hukum ini kami sudah nggak ada kelas lagi.
"Tapi yang jauhan aja. Jangan di sekitar kampus." Aku bisa membayangkan di seberang sana Larung sedang nyengir kecut. "Di ... Penvil, maybe?"
"Buset, jauh banget!" decakku. "Tapi aku kayaknya nggak bisa deh, Mas. Habis ini ada kegiatan jurusan gitu."
Di sini, aku merasa Dimas, Toro, dan Adri sontak menoleh padaku.
Larung berdecak kecewa. "Ya udah deh. Kelar jam berapa nanti?"
"Nggak tahu sih, tapi ntar aku kabarin ya. Kamu ke mana habis ini?" Aku balas bertanya.
"Aku janjian ketemu sama Benji Kelas Malam, tapi masih ntar malam."
"Buat performer pas launching?" tanyaku.
"Kalau deal, iya."
"Kenapa malam-malam sih? Kan aku pengin ikut. Terus sekarang kamu mau ke mana dulu?"
"Palingan balik dulu atau nggak ke RuTem. Lagi malas lama-lama di kampus. Pacarku sibuk pula," jawab Larung.
Aku tertawa kecil. "Ya udah, nanti aku mampir pas pulang."
Larung setuju, lalu dia mengakhiri pembicaraan. Saat itu, ketiga temanku sudah menatapku ingin tahu. Tapi nggak satu pun dari mereka yang bertanya.
"Dim, lo mau ke mana habis ini?" tanyaku.
Sambil memakai jaketnya, Dimas menyipitkan mata. "Mau ke Pusgiwa. Ketemu anak-anak Militansi," jawabnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Temu Rasa
Jugendliteratur[Cerita ini akan menjadi gratis pada tanggal 15 September 2025] Brilian, seorang mahasiswa hukum berusia 20 tahun, berhasil bekerja part time di Kafe Ruang Temu Rasa, milik pria yang selama 1,5 tahun terakhir dicintainya diam-diam. Saat perasaannya...
