27. Bagaimana Jika

34K 5.5K 461
                                        

Seharusnya aku bisa merespons dengan lebih elegan lagi. Namun, setengah karena terkejut dan setengah karena sudah bisa menebak juga, membuatku hanya bisa mengerjapkan mata dan bergumam, "Gimana?"

Namun, berbeda dengan sikap fisikku, pikiranku terkesiap. Tentu saja. Inilah rasa janggal dan sesuatu yang luput dari pikiran yang membuatku gelisah semalaman. Tujuan Sonia bukan menghancurkan namaku di depan Larung, melainkan mendapatkan sebuah kartu AS untuk menghancurkan aku dan Larung. Yang kemarin itu hanya permulaan. Hanya pemanasan. Sekarang, rencana besar yang sesungguhnya baru dijalankan.

Aku bahkan nggak kaget ketika Sonia dengan tawa puas menunjukkan foto-foto di ponselnya. Pertama, foto aku menabrak meja dan menumpahkan air dari jambangan kaca. Entah bagaimana, wajahku yang terekam kamera menunjukkan ekspresi dingin, kesal, dan percaya diri di saat yang sama, sehingga membuatku terlihat jadi sosok yang bengis. Kedua, foto meja coffee bar yang ditinggalkan begitu saja dengan gelas-gelas minuman yang baru setengah berjalan prosesnya. Foto ketiga, aku menunduk menuang espresso dalam gelas dengan rambut yang tergerai bebas. Foto keempat, gumpalan rambut yang berenang-renang mengerikan di gelas Caramel Machiato milik Sonia.

"Punya saran judul yang cocok?" tanya Sonia. "Gimana kalau 'Harga Mahasiswa Bukan Berarti Standar Pelayanannya Suka-suka'? Ah gue tahu! Mungkin begini 'Rambut dalam Minuman dan Hal-hal yang Akan Kamu Temukan di Kafe Ruang Temu Rasa'. Aih, sip! Gila, keren juga gue jadi jurnalis."

Mataku menyipit melihat Sonia yang terlihat sangat berpuas diri. Hasrat untuk melawannya menguap. Aku hanya merasa pembicaraan ini sia-sia dan aku sangat lelah. Jadi, aku memilih untuk bungkam dan mendengarkan apa tepatnya yang Sonia inginkan.

"Ayo kita buat lebih simpel dan jelas. Kalau lo nggak mau ninggalin Larung, gue akan kerahkan semua teman-teman food blogger dan selebgram gue untuk blow up berita ini. Bukan berita bohong kok, karena ini pengalaman pribadi. Real."

Sonia tersenyum. Sementara aku masih memilih untuk diam. Mendengarkan ancaman Sonia sampai akhir mungkin termasuk masokisme jenis baru. Tapi rasanya ini pilihan terbijak yang kupunya saat ini.

"Mestinya lo tahu, kan, Bri, seberapa cepat sebuah review buruk bisa membunuh nama baik? Dan gue bisa menghancurkan RuTem yang lo cintai itu dengan mudah. Pilihan ada di tangan lo sekarang," kata Sonia sembari menyelipkan rambut ke belakang telinga. "Tenang aja, gue nggak buru-buru. Pikirkan baik-baik, dan ambil keputusan dengan bijak. Biar nggak nyesel, oke?"

Kurasa Sonia sudah mengatakan semua yang ingin dia katakan. Namun, aku nggak kunjung tahu apa yang harusnya kukatakan. Menyangkal bahwa hal itu fitnah? Aku nggak yakin itu fitnah. Mencacinya dengan kata-kata paling kasar yang kutahu? Itu nggak mengubah keadaan. Alih-alih, aku menghela napas panjang-panjang sebanyak dua kali.

"Itu semua emang lo rencanain kan? Rambut itu lo yang bawa dan taruh sendiri, kan?" Dari semua hal, aku memilih melontarkan pertanyaan yang paling jelas. Kurasa aku tahu seberapa bodohnya diriku sekarang.

Sonia mengedikkan bahu. "Gue bisa aja bilang nggak dan itu murni berasal dari kebodohan lo sendiri, tapi, itu nggak mengubah apa-apa kan? Gue punya bukti, dan gue bisa menggunakan bukti ini kapan aja."

Kali ini aku tertawa pendek. Aku yakin kedengarannya seperti tawa putus asa. "Gue heran, Kak, apa sih yang lo harapkan dari semua ini?"

"Lo putus sama Larung, of course. Bukankah udah jelas?"

"Lalu? Kalaupun kami putus, bukan berarti Larung bakal lari ke pelukan lo lagi, kan?"

Kali ini Sonia tersenyum. Bukan senyum licik ataupun senyum kepuasan. Dia hanya tersenyum. Itu saja.

"Lo nggak akan pernah paham, Bri. Kalau gue nggak bisa sama Larung, orang lain juga nggak bisa. Ngerti?"

***

Ruang Temu RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang