8. Feeling Special

44.7K 6.1K 224
                                        

Aku pernah kena apes di kelas Filsafat Hukum. Prof. Yuni bertanya hukum berasal dari rasio manusia itu termasuk paradigma apa. Sebenarnya ini pertanyaan yang sangat simpel. Ada tiga pilihan jawaban yang tersedia: post-positivisme, critical theory, dan konstruktivisme. Tapi otakku mendadak lemot dan nggak mampu memproses data. Akhirnya Dimas menginjak kakiku, dan aku menyebutkan pilihan mana pun yang muncul di pikiranku.

Apa yang terjadi saat ini pun sama. Pertanyaan Larung sangat sederhana dan dilontarkan dalam bahasa Indonesia. Pilihannya ada dua: ya atau tidak. Tapi otakku lagi-lagi nge-blank. Sayangnya, kali ini nggak ada Dimas yang menginjak kakiku.

Jadi selama lima detik, aku hanya menatap Larung dengan ekspresi blank. Sampai dia mengangkat tangannya dan menggerakkannya di depan wajahku. Kesadaranku seketika pulih.

"Oh! Anu ..." Aku panik. Harus kujawab apa coba? "Anu ... Yaa ... Beneran, kok. Eh, aduh, kenapa nanya begitu sih, Mas? Btw, ini gue jadi mulai kerja dari mana?"

Larung menatapku dengan sorot mata geli. "Ya udah sana, lo ke bawah, bantuin Neera. Perhatiin gimana cara dia bekerja. Perhatiin juga Bang Erwan. Kalau lagi nggak ada tamu, lo bisa sempurnain content plan lo ini. Jadi media sosial kita bisa jalan. Sore ini gue bisa dapat rencana konten sampai akhir bulan?"

"Bisa!" sahutku cepat. "Bisa kok. Oke deh. Gue kerja dulu, ya. Thanks, Mas."

Aku buru-buru ngibrit turun ke lantai satu. Tujuan utamaku hanya menjauh sejauh-jauhnya dari Larung, sih. Huh, kenapa dia tiba-tiba bertanya begitu sih? Apa dia masih belum terima soal hasil taruhan ini dan mencurigai kecurangan Dimas? Ya elah, mereka berdua yang bertaruh, kenapa jadi aku yang ribet sih?

"Siap, Bri?" Neera menyambutku dengan senyum, ekspresi lega menghiasi wajahnya. "Ini tolong diantar ke meja 7 ya. Yang dekat pintu. Wah, heran gue. Hari ini kenapa tumben rame, ya?"

Aku memperhatikan sekitar. Memang tumben-tumbenan RuTem banyak pengunjung hari ini. Lalu aku melihat pintu kaca, ternyata di luar sedang hujan.

"Bri bawa peruntungan bagus kali," celetuk Bang Erwan.

Aku tertawa. "Bisa jadi sih, Bang. Oke siap, Mbak. Aku anterin, ya."

Namun, ramainya pengunjung itu ternyata hanya satu hari. Dugaanku sih benar karena hujan jadi banyak yang datang untuk berteduh. Keesokan harinya, lagi-lagi RuTem sepi. Karenanya, aku bisa mengisi waktu dengan membuat desain-desain postingan di Canva, sesuai content plan yang sudah disetujui oleh Larung. Aku juga sudah mengunggah beberapa. Memang masih sepi likes dan comment. Tapi semuanya butuh proses, bukan?

Menjelang malam, ada tamu rusuh yang datang. Tiga cowok-cowok bertampang predator yang muncul dengan suara keras. Ya, siapa lagi kalau bukan Dimas, Toro, dan Adri?

"Katanya pada mau nonton lomba dance?" tanyaku.

Kutaruh piring berisi camilan mix—kentang goreng, sosis goreng, nugget, nacos, hingga onion rings—itu dengan sedikit kasar. Aku pasti langsung dipelototin Neera jika ketahuan melayani tamu dengan nggak sopan begini. Tapi berhubung tamu ini adalah "pacarku" dan dua orang temannya, buat apa aku sopan-sopan?

"Eh, Bebeeeb...."

Tuh kan? Toh, mereka ke sini juga cuma mau merecokiku bekerja. Lagi pula, hey, secara darah, Dimas kan juga anak pemilik tempat ini. Buat apa aku bersopan-sopan padanya?

"Ngapain pada ke sini sih?" tanyaku.

"Kangen kamu, Sayang..." jawab Dimas sembari mengedipkan mata. Membuatku ingin menimpuknya dengan nampan. Tepatnya, itulah yang kulakukan.

Ruang Temu RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang