19. Rumput Saudara Lebih Indah

36.7K 6.4K 686
                                        

Kurasa Larung benar-benar marah padaku. Dia benar-benar hening sejak kemarin. Hening maksudku adalah dia nggak banyak bicara seperti biasanya. Padahal aku sudah mulai terbiasa dengan sikap cerewet dan recehnya yang baru kutahu itu. Tapi sejak mengantarkanku ke indekos hari itu dan pergi entah ke mana setelahnya, dia hanya menjawab pesanku seadanya.

Kemarin, seharian aku menunggunya di RuTem tapi dia nggak muncul. Saat aku bertanya, katanya dia sedang ada kegiatan di kampus. Tapi kurasa itu hanya alasan saja karena dia nggak mau bertemu denganku. Dia bahkan nggak memberitahuku lewat japri soal Kelas Malam yang sudah fix akan tampil di acara launching nanti, melainkan woro-woro lewat grup WA RuTem.

Ini jelas-jelas nggak bisa dibiarkan. Nggak bisa dong kalau hanya mendiamkanku tanpa kata begini. Kalau memang marah, dia harus mengungkapkannya.

Sepulang dari kampus, aku langsung menuju rumah Dimas. Tadi aku sempat bertanya pada Larung tentang di mana posisinya saat ini dan apa rencananya hari ini. Dia hanya menjawab pendek: Di rmh, gak mau ke mn2.

Tante Renata sedang kedatangan tamu saat aku tiba. Ibu-ibu sosialita itu bergerombol dan ngobrol seru di teras. Aku menyapa seperlunya.

"Lho, Bri, Dimas belum pulang," kata Tante Renata tanpa diminta.

Aku mengangguk. Aku tahu kok. Dimas sedang aksi massa hari ini di depan gedung DPR bersama aliansi militansi dan mahasiswa lainnya.

"Kalau Mas Larung ada kan, Tante?" tanyaku.

"Ada kalau Larung. Lagi mager kayaknya anak itu hari ini. Masuk aja, Bri. Cari aja di atas apa di kamarnya. Mau ngomongin soal RuTem ya?"

Aku mengangguk, cepat-cepat mengiakan sebelum ditanya-tanya lebih jauh. Soalnya ibu-ibu itu sudah mulai memasang tampang kepo yang menyeramkan.

Setelah mendapat izin Tante Renata, aku bergegas masuk dan langsung naik ke lantai dua. Rumah yang besar itu terasa lengang setiap kali suara cerewet Andari absen. Pukul segini, mungkin Andari masih sibuk les ini itu. Hal ini terkadang membuatku heran. Kurasa jadi anak orang kaya juga nggak seindah yang terlihat. Usia Andari belum separuh umurku, tapi lesnya jauh lebih banyak dariku.

Biasanya dari tangga, aku langsung berbelok ke kanan, ke kamar Dimas. Tapi kali ini aku berbelok ke kiri. Pintu kamar Larung menunjukkan kamar cowok pada umumnya. Banyak hiasan dan stiker mulai dari mobil, bola, pemantik, dan lain sebagainya. Pintu itu tertutup, tapi nggak sempurna. Ada celah sedikit yang menyelipkan cahaya. Berbeda dengan Dimas yang suka gelap-gelapan di kamar, Larung sepertinya lebih suka terang.

Aku mengetuk dua kali tapi nggak ada respons. Haruskah aku menerobos masuk? Tapi ini kan bukan kamar Dimas? Eh tapi kan ini kamar pacarku? Jadi, seharusnya nggak apa-apa kan?

Aku mengetuk sekali lagi, dan memutuskan untuk masuk. Sebenarnya ini kali pertama aku masuk kamar tidur Larung. Kesan pertama yang kudapatkan di kamar itu adalah: berantakan. Kesan kedua: super berantakan. Kamar Dimas berantakan, tapi kamar ini jauh lebih berantakan.

Buku-buku yang sudah nggak muat lagi di lemari, berserakan di lantai. Bercampur dengan kertas-kertas yang nggak jelas mana yang berguna dan mana yang harus dibuang. Baju-baju kotor menumpuk di sudut ruangan. Lalu di meja belajarnya ada cangkir-cangkir kopi dan bungkus camilan. Gila! Kapan terakhir kali kamar ini dibersihkan?

Si pemilik kamar yang seharusnya menjawab pertanyaan itu, sedang tidur di kasur dengan buku tebal yang terbuka di atas dadanya. Dasar kutubuku. Tidur juga dia bawa buku.

Aku tak sanggup melihat pemandangan ini. Jadi, kutaruh tas di kursi belajar Larung, lalu aku mulai beberes. Mulai dari memasukkan baju-baju kotor ke tempatnya yang sebenarnya sudah tersedia di dekat pintu. Lalu aku merapikan tumpukan buku-buku di lantai. Meski nggak di rak, setidaknya kalau rapi kan bagus.

Ruang Temu RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang