Aku tahu ini kabar buruk saat Larung berbalik setelah berkata:
"Tante Menik kirim chat. Katanya kamu bosan dan kesepian." Larung berhenti sebentar. "Kukira juga begitu, tapi kayaknya aku salah."
Setelah mengatakan itu, Larung tersenyum lalu berbalik pergi. Setengah nyawaku masih belum menyadari apa yang terjadi. Sampai-sampai Adri memukul pundak kiriku yang sehat dan membuatku tergeragap.
"Mas!" panggilku, bergegas menyusulnya.
"Pelan-pelan, oi!"
Aku nggak lagi mendengar peringatan Adri. Tertatih-tatih aku menyusul Larung. Untung saja, dia berhenti begitu kupanggil. Larung menoleh dan memasang ekspresi menunggu, seolah tahu bergerak banyak atau berlari bisa membunuhku.
"Jangan marah ..." kataku saat sudah berada di depannya. "Adri itu ..."
"Aku nggak marah," jawab Larung. "Aku ngerti kok."
Aku menatapnya bingung. "Kamu ngerti apa?" tanyaku.
Larung nggak menjawab. Dia bahkan nggak terlihat marah sama sekali. Dia hanya ... sedih.
Sebelum salah satu dari kami bicara lagi, Adri berjalan mendekat dan menepuk pundakku.
"Gue ambil motor dan langsung cabut, ya, Bri," pamitnya. Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Adri berpaling pada Larung. "Yang sabar ya, Mas. Hidup emang nggak ketebak."
Aku mengerutkan dahi. Tapi Adri dengan bodo amatnya melenggang pergi, tanpa menjelaskan maksud kata-kata absurdnya tadi. Meninggalkan aku dan Larung yang mendadak awkward moment. Bahkan posisi kami terlihat aneh. Berdiri berhadapan di pinggir taman, tetapi, Larung menghindari tatapanku. Dia justru menatap deretan sepeda motor yang diparkir di pinggir lapangan.
Aku menghela napas panjang. Sekarang aku ingat, betapa aku benci momen-momen pertengkaran dengan Larung seperti ini.
Nggak tahan lagi, aku menggandeng tangan Larung dan mengajaknya duduk di tempat aku dan Adri duduk tadi. Larung nggak mengelak, tetapi, juga nggak bicara apa-apa.
"Kamu sering whatsapp-an sama Ibu?" tanyaku.
"Ah ..." Larung menggaruk belakang kepalanya. "Sekarang itu juga terdengar salah. Sori. Aku bukannya ngelangkahin kamu atau gimana. Aku cuma ... ya pokoknya gitulah."
"Nggak ada yang bilang kamu salah," responsku cepat. "Kalau marah, marah aja."
"Aku nggak berhak marah," jawab Larung cepat. "Aku harusnya ngerti. Aku yang udah bikin kamu kayak gini."
"Hei ..."
"Aku nggak bisa jagain kamu. Nggak bisa diandalkan. Aku cuma cowok egois yang mentingin perasaannya sendiri meski harus mengorbankan orang lain."
"Nggak git ..."
"Wajar kalau setelah ini semua kamu nggak mau ketemu aku. Nggak mau ketemu aku. Nggak mau sama aku lagi yang bisanya cuma nempatin kamu dalam bahaya. Yang cuma ..."
"Mas!" sentakku keras. "Stop! Kamu tahu ini bukan soal itu!"
Larung sontak terdiam. Dia menatapku sebentar, lalu menundukkan kepala.
"Nggak," katanya kemudian. "Kalau ini bukan soal itu, aku nggak ngerti ini semua soal apa," katanya, membuatku merasakan perih di ulu hatiku.
Bagaimana caraku mengatakan ini semua? Bagaimana caraku meninggalkan Larung tanpa membuatnya terluka? Sialan si Adri! Kenapa dia pergi sebelum memberiku tips untuk melewati ini semua?
"Ini nggak kayak yang kamu pikirin, Mas," kataku. Bahkan di telingaku, kalimat itu terdengar klise, seklise adegan-adegan cheesy di sinetron stripping.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Temu Rasa
Romance[Cerita ini akan menjadi gratis pada tanggal 15 September 2025] Brilian, seorang mahasiswa hukum berusia 20 tahun, berhasil bekerja part time di Kafe Ruang Temu Rasa, milik pria yang selama 1,5 tahun terakhir dicintainya diam-diam. Saat perasaannya...
