Adri mengklakson dua kali sambil melambaikan tangan pada Larung, kemudian berlalu. Padahal aku berharap dia mampir dulu, karena aku nggak tahu apa yang akan dikatakan Larung sekarang. Setelah kupikir-pikir, sikapku tadi memang agak kekanak-kanakan. Mungkin benar kata artikel-artikel kesehatan itu bahwa olahraga bisa membantu seseorang untuk berpikir lebih jernih.
"Kamu habis dari mana?" tanya Larung, saat aku duduk di sebelahnya.
Di Indekosku ini, tamu pria hanya boleh sampai di ruang tamu. Tapi berhubung teras sedang kosong, kurasa di sini pun tak apa-apa. Aku hanya berdoa supaya nggak ada anak FH di kosan ini. Atau ... Nggak ada teman Sonia di sini.
"Bulutangkis. Terus nonton sama Adri dan Toro," jawabku sambil membenahi ikatan rambutku yang berantakan karena terkena helm.
"Dimas nggak ikut?" tanya Larung lagi.
"Nggak."
"Kenapa?"
"Karena dia nyebelin," jawabku. "Kalian berdua nyebelin!"
Larung terdiam sebentar, lalu dia tersenyum tipis.
"Boleh meluk nggak?"
"Hah?" Kali ini aku yang terkejut.
"Pengin peluk."
Aku memandang ngeri saat Larung merentangkan kedua tangannya. Lalu aku menggeleng cepat-cepat. Gila apa! Aku nggak mau digerebek penjaga kos!
"Nggak! Nggak boleh!"
Larung sontak menurunkan tangannya dengan ekspresi kecewa.
"Langsung aja. Mau bilang apa?" tanyaku, segan berbasa-basi lebih lama.
"Maaf, Bri," katanya Larung. "Aku nggak bilang-bilang Sonia kalau aku lagi nggak enak badan. Kebetulan aja dia tadi mampir. Dia emang sering mampir-mampir random gitu. Dari dulu kan kamu udah sering ketemu."
Kebetulan mampir, ulangku dalam hati. Ya iya sih, aku sudah tahu soal ini. Tapi apakah perubahan status antara aku dan Larung nggak mengubah hal itu juga?
"Maaf juga soal sikapku yang pengecut banget ini. Aku nggak bisa larang Sonia mampir. Aku nggak bisa bilang soal hubungan kita yang sebenarnya," kata Larung seolah bisa membaca pikiranku.
"Sebenarnya kenapa sih, Mas?" tanyaku nggak mengerti. "Kalau dari cerita Dimas, hubungan kalian udah selesai dua tahun lalu. Terus, kenapa dia masih aja beredar di sekitarmu?"
Pertanyaanku kali ini lebih karena rasa penasaran. Bukan sindiran penuh emosi seperti sebelumnya.
"Dimas juga bilang kalau Sonia selalu ngerjain cewek-cewek yang dekat sama kamu. Sikapnya seolah-olah kalian masih pacaran. Ini gimana sih ... Aku yang jadi nggak ngerti," keluhku.
"Emang sulit dimengerti, Bri."
"Ya makanya jelasin!" sergahku nggak habis pikir. "Kalau sepenangkapanku ya, ini kan kamu juga yang dirugiin. Tapi kamu bersikap nerima aja gitu, seolah nggak bisa ngapa-ngapain dan nggak berdaya buat ngusir dia dari hidupmu. Padahal yang udahan, harusnya udahan kan? Ya ini bukan cuma soal hubungan kita aja, lho. Siapa pun cewekmu kalau bukan aku, nggak mungkin ada yang baik-baik aja harus bersikap kayak tadi. So, sampai kapan kamu mau biarin dia bersikap kayak gitu? Kamu kan tinggal bilang dengan tegas ke Sonia kalau hubungan kalian udah selesai ..."
"I did."
"You did what?"
"Nyuruh dia berhenti bersikap posesif, menerima fakta kalau kami udah putus, move on, dan keluar dari hidupku."
Kalimat singkat Larung berhasil memutus gugusan omelan yang masih tersimpan di bibirku. Aku terdiam sebentar, mengambil waktu untuk mencerna jawaban Larung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Temu Rasa
Romance[Cerita ini akan menjadi gratis pada tanggal 15 September 2025] Brilian, seorang mahasiswa hukum berusia 20 tahun, berhasil bekerja part time di Kafe Ruang Temu Rasa, milik pria yang selama 1,5 tahun terakhir dicintainya diam-diam. Saat perasaannya...
