"Hai, Son! Lagi ngobrol seru, nih? Tapi gue boleh bawa Bri-nya? Kebetulan gue udah sebulan nggak ke kampus. Jadi, gue agak lupa sama jalan-jalan di kampus."
What? Alasan gila macam apa itu?
Namun, aku masih terlalu terkejut untuk merespons apa pun. Jadi, aku menyerupai kambing congek yang tidak punya daya dan pilihan saat Dimas, yang bersikap seperti penggembala, menarik tanganku. Sementara Sonia hanya melambaikan tangan dengan senyum culas yang kembali menyulut emosiku.
"Lepas!" kataku sebal, sembari mengibaskan tangan Dimas yang masih menggandeng tanganku.
Tak cukup dengan itu, aku memberi jarak di antara kami dan berjalan mendahuluinya.
"Ngapain lo?" tanya Dimas bingung. "Nggak kangen gue? Nggak happy ketemu gue?"
Dia mempercepat langkah untuk menyusulku. Aku pun menambah kecepatan langkahku.
"Lo yang ngapain? Nggak mau dijenguk, tahu-tahu muncul di kampus kayak hantu! Bukannya lo cuti kuliah dulu semester ini?"
"Iya emang."
"Terus ngapain lo di sini? Ketemu Irene?"
"Kagaklah ..."
"Terus ngapain?"
"Gue tadi ke sekret Militansi. Ketemu anak-anak yang kemarin ikut aksi. Gue pengin minta maaf dengan proper atas ketololan gue waktu itu. Gara-gara gue, pasti niat aksi tulus mereka dipertanyakan."
Aku mendengus kesal. "Ya emang! Terus? Gimana respons mereka?"
"Ya apa lagi? Gue dimaki-maki, anjir! Tapi gue terima aja. Emang gue kayak anjing, sih."
"Terus kok lo tiba-tiba udah di sini? Kata Mas Larung harusnya lo keluar tanggal 16? Lusa kan?"
"Salah doi. Tanggal 15 yang benar. Besok. Hari ini gue cuma izin sebentar. Pukul 2 harus udah balik ke RS. Tapi, Bri, ini kita lagi ngapain sih?"
Sontak aku berhenti melangkah. Dimas juga berhenti dengan sedikit terkejut. Baru kusadari bahwa kami mengobrol sambil menciptakan jarak sejauh-jauhnya. Atau tepatnya, aku melangkah secepat mungkin dan Dimas berusaha mengejarku.
"Harus banget ngobrol sambil kejar-kejaran kayak film India gini?" tanya Dimas dengan dahi berkerut. "Nggak tertarik ngobrol santai sambil makan batagor di kantin aja gitu?"
Aku tidak segera menjawab. Kutatap Dimas lekat-lekat selama beberapa detik, lalu aku menghela napas frustrasi.
"Ayo makan. Laper gue," ajakku sambil melangkah kembali. Kali ini dengan kecepatan normal.
Dimas mengikuti di sampingku. Kali ini dia nggak banyak bersuara. Sepertinya dia sudah paham kalau suasana hatiku sedang sangat buruk. Rehabilitasi pastilah sudah membuatnya lebih bijaksana. Sehingga dia memilih untuk nggak menggangguku atau menyulut emosiku.
Kurasa Dimas nggak akan terlalu nyaman berada di kampus. Karena kini orang-orang melihatnya dengan pandangan yang menghakimi. Seperti Susi yang bilang Dimas sudah rusak, aku yakin banyak yang berpikir demikian. Lagi pula, namaku di lingkungan fakultas juga sudah buruk. Aku nggak mau memberi bahan untuk para penggosip kurang kerjaan itu. Jadi, aku mengajaknya untuk makan di warung di daerah kosku yang menjual jus dan masakan chinese food.
"Iya gue tahu. Sonia udah tahu kalian pacaran, terus sekarang Sonia lagi mode balas dendam kan? Dia sengaja nyebarin gosip kan? Orang-orang mikirnya kita pacaran beneran, kan?" tanya Dimas ketika aku bercerita kenapa aku nggak bisa dekat-dekat dengannya di kampus.
"Kok lo bisa tahu?" tanyaku bingung.
"Toro ngasih tahu. Lagian itu mention-an di IG masuk ke notif gue juga kali," jawab Dimas santai, sambil mengaduk kwetiaw rebusnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Temu Rasa
Romansa[Cerita ini akan menjadi gratis pada tanggal 15 September 2025] Brilian, seorang mahasiswa hukum berusia 20 tahun, berhasil bekerja part time di Kafe Ruang Temu Rasa, milik pria yang selama 1,5 tahun terakhir dicintainya diam-diam. Saat perasaannya...
