Suara apa yang paling membuatmu tenang?
Dulu, Ayahku sangat terobsesi dengan olahraga. Setiap pagi, setiap pukul 5, Ayah akan membangunkan kami dan menyuruh kami untuk olahraga. Entah itu jogging, bersepeda, atau sekadar jalan santai di sekitar rumah. Apakah kami—aku dan Titi—menurut? Jelas nggak. Kami terlalu ngantuk, dan waktu sepuluh hingga lima belas menit di pagi hari itu sangat berharga untuk melanjutkan tidur sebentar sebelum siap-siap ke sekolah. Namun, Ayah punya cara jitu. Tepatnya, weker yang jitu. Bunyinya seperti sirene ambulans, dan saat itu, suara ambulans terdengar sangat mengerikan. Ayah akan membunyikan jam weker itu sampai kami bangun dan memakai sepatu olahraga.
Dulu suara itu memang menyebalkan, karena itu tandanya mimpiku nggak lagi bisa dilanjutkan. Namun, lama kelamaan, setelah Ayah tiada, suara itu justru menjadi sebuah tembang kerinduan. Aku menyukai bunyi ambulans. Aku ingin Ayah membangunkanku setiap pagi lagi dan memaksa kami olahraga. Setiap nadanya membuatku ingin berlama-lama terlelap. Sebab dalam dunia mimpi, nggak ada yang mustahil. Termasuk Ayah yang membangunkanku setiap pagi dengan weker ambulans.
Suara yang kali ini berbeda. Bukan suara ambulans berisik yang kudengar. Bukan hiruk pikuk jalanan yang terbelah oleh laju yang tergesa-gesa. Justru keheningan yang terdengar begitu memekakkan telinga. Detik jam, jarum berjatuhan, dan desau napas perlahan terdengar begitu berisik. Keheningan tanpa harmoni. Hanya melelahkan dan membuatku mengantuk.
Lalu sebuah suara terdengar dari jauh.
"Brilian?"
Suaranya terdengar familier dan entah bagaimana menenangkan. Aku ingin menjawab dan membuka mata, tetapi, kantuk ini seperti pusaran ombak yang menyeretku tanpa ampun.
"Bri?"
Suara itu memanggil-manggilku, berusaha mencegahku terlelap.
"Bisa dengar ...?"
Aku dengar, aku dengar. Tapi sungguh aku mengantuk. Apa aku nggak boleh tidur sebentar saja dan bangun lagi kemudian?
"Bri, bangun!"
Aku tersentak. Guncangan lembut di tanganku membuat aku sontak membuka mata. Si pemilik suara terlihat jelas di depanku. Suara yang menenangkan itu. Suara yang memanggil-manggilku dan melarangku terlelap itu. Penampilannya berantakan. Rambutnya telihat kusut dan raut wajahnya super khawatir. Aku ingin tersenyum, tapi sakit kepala hebat menyerangku. Perutku seperti diaduk. Lalu aku muntah sejadi-jadinya.
***
Kepalaku masih sakit, tetapi, sudah nggak separah tadi. Dengung di telingaku sudah hilang, dan mual di perutku juga sudah reda. Namun, saat aku terbangun, seluruh tubuhku terasa sakit. Rasanya seperti kaku. Nggak bisa bergerak. Bahkan mengambil napas pun terasa sulit. Seolah-olah oksigen di sekitarku menipis. Dan aku seperti ikan gurame yang kehabisan air.
"Hai! Udah bangun?"
Sebuah suara menyapaku. Aku berusaha untuk membuka pupil mataku lebar-lebar. Lalu kulihat Adri duduk di samping ranjang.
"Jangan banyak gerak dulu," katanya.
"Gue ... gue ..." aku berusaha meraih sesuatu. Entah apa. "Napas ... nggak bisa napas!"
Rasa panik menyelubungiku. Bagaimana mungkin aku nggak bisa bernapas?
"Bisa, bisa," Adri bangkit, dan dia menggenggam tanganku. "Tenang dulu, Bri, tenang. Jangan panik, nanti malah makin sesak. Calm down ... coba, napas pelan-pelan ..."
Aku mengikuti saran Adri. Sebisa mungkin kutenangkan diriku, lalu kubuka paru-paruku perlahan. Udara mulai mengalir masuk. Aku nggak lagi tersengal. Namun, rasa nyeri masih terasa. Terutama di sisi bagian kanan tubuhku, seluruh tubuh bagian kananku. Aku berusaha bergerak, tetapi, tangan kananku terasa kaku dan bengkak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Temu Rasa
Romance[Cerita ini akan menjadi gratis pada tanggal 15 September 2025] Brilian, seorang mahasiswa hukum berusia 20 tahun, berhasil bekerja part time di Kafe Ruang Temu Rasa, milik pria yang selama 1,5 tahun terakhir dicintainya diam-diam. Saat perasaannya...
