Sesi foto-foto untuk hidangan Ruang Temu Rasa akhirnya berhasil dilakukan. Dimas si fotografer yang ngakunya sibuk itu akhirnya bisa meluangkan satu harinya untuk mengambil gambar-gambar di RuTem. Jadi, dengan izin Larung, aku meminta Pak Ardi dan Bang Erwan membuat semua menu RuTem untuk difoto. Tak hanya itu, atas permintaanku, Dimas juga memotret sudut-sudut terbaik dari RuTem untuk menunjukkan betapa nyamannya kafe ini. Hanya saja, aku punya tujuan yang berbeda kali ini.
"Ntar habis renovasi, fotoin lagi ya," kataku pada Dimas. "Gue mau bikin before dan after gitu."
"Ogah." Dimas menjawab tanpa mengalihkan matanya dari ponsel.
Dia baru saja beristirahat setelah bekerja sejak tiga jam yang lalu. Kameranya diletakkan begitu saja di meja, di samping strawberry smoothies miliknya.
Aku mencibir. Heran, deh. Kalau RuTem berkembang kan dia juga yang diuntungkan.
"Kenapa sih lo jahat banget?" tanyaku kesal.
Baru deh Dimas mengalihkan pandangannya dari ponsel, dan menatapku dengan ekspresi heran.
"Ngapa lo? Lagi latihan drama? Ck, sebenarnya posisi lo di sini apa, sih, Bri? Jangan mau diperbudak abang gue ngerjain semua-semua. Emang sekarang di RuTem ada pertunjukan teater juga?"
"Bacot!" desisku kesal. Kuambil smoothies Dimas yang tinggal setengah, dan kuminum sampai tandas. "Lo di sini sampe malam kan?"
"Nggak," jawab Dimas pendek.
"Ish! Sampe malam aja dong plis ... " pintaku.
"Kenapa emang?"
"Bareng baliknya."
"Halah manja!"
"Kenapa sih ... Gue lagi capek banget nih, Dim. Nggak kuat jalan kaki."
"Kenapa sih lo selalu ngerepotin gue, Bri?"
"Kan emang itu job desc gue."
Aku dan Dimas saling memandang dengan kesal selama beberapa detik. Lalu tawa kami pun meledak bersama-sama. Sebenarnya aku kangen dengan teman-temanku. Dulu kami biasa nongkrong bareng sampai sore. Ngobrol ngalor-ngidul, mengerjakan tugas bersama, dan banyak hal lainnya. Tapi belakangan waktuku tersita untuk RuTem. Nongkrong dengan Dimas, Adri, dan Toro hanya di sela-sela jam kuliah. Itu pun banyak kuhabiskan untuk tidur atau mengerjakan tugas.
Setelah itu aku terpaksa meninggalkan Dimas karena ada tamu yang datang. Malam ini, pengunjung RuTem cukup ramai, meski nggak sampai penuh. Sejak kami rajin posting di IG, dan beberapa kali membuat Giveaway, aku merasa situasi RuTem jauh lebih baik. Dan aku senang karena bisa berkontribusi atas hal itu.
"Besok gue gajian nih," kataku, kembali menghampiri Dimas setelah selesai mengantarkan pesanan tamu yang baru datang. Dimas tengah membuka laptopnya, dan mentransfer file-file foto yang tadi diambilnya. "Gaji pertama uwooohh! Soooo excited!"
"Traktir dong," kata Dimas pendek. "Jangan lupa kasbon dibayar."
Sontak aku cemberut. Sepertinya gajiku langsung ludes kalau dipakai untuk membayar hutang-hutangku pada Dimas.
"Nggak bisa ntar aja kalau gue udah jadi miliuner ya bayarnya?" tanyaku.
"Bercanda kaleeuss. Baper amat sih? Karena udah terbiasa dibaperin cowok, ya, selama ini?"
Kutoyor kepala Dimas dengan kesal. Dimas hanya tergelak-gelak senang. Tak lama kemudian lonceng di pintu kembali berbunyi. Aku sudah bersiap melayani tamu, tapi ternyata Larung yang datang. Sontak wajahku memerah tanpa bisa dicegah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Temu Rasa
Romantik[Cerita ini akan menjadi gratis pada tanggal 15 September 2025] Brilian, seorang mahasiswa hukum berusia 20 tahun, berhasil bekerja part time di Kafe Ruang Temu Rasa, milik pria yang selama 1,5 tahun terakhir dicintainya diam-diam. Saat perasaannya...
