"Waktu itu gue ketemu Bang Theo."
Aku yang tengah menyandarkan kepala di pundak Adri mendongak sedikit. Kami berdua sedang duduk mengemper di depan ruang kelas yang belum dibuka. Di tangan kanannya, Adri memainkan botol minuman kemasan rasa jeruk. Ekspresinya terlihat cukup tenang. Tak ada lagi lingkaran hitam di bawah matanya seperti beberapa hari yang lalu. Kurasa, Adri sudah berhasil mengatasinya.
"Terus?" tanyaku, sembari kembali menyandarkan kepalaku ke pundaknya.
Semalam justru aku kurang tidur. Delira membukakan pintu kos sekitar pukul satu. Setelahnya, aku terlalu excited dengan ajakan Larung sehingga nggak bisa tidur. Baru sekitar pukul empat, kantukku datang. Padahal tiga jam kemudian aku harus sudah bangun dan bersiap ke kampus. Makanya, begitu tiba di kampus dan menemukan Adri di depan kelas, aku seperti melihat bantalku di kosan.
"Ya, gitu deh, kayak biasa. Mulutnya kotor," jawab Adri dengan nada penuh geram. "Dosa nggak sih kalau gue pengin nge-cor mulut abang gue sendiri?"
Aku tertawa kecil. "Itu yang bikin lo rajin waktu itu ya?" tanyaku.
Adri mengangguk. "Bri, emang gue kayak cewek ya?"
Tawaku menghilang. Lagi-lagi kutegakkan tubuhku untuk menatap Adri, yang juga menatapku dan menunggu jawaban. Kalau sudah begini, aku jadi ikut-ikutan ingin mengecor mulutnya Bang Theo. Aku kesal sekali karena orang itu lagi-lagi membuat Adri mengalami momen-momen sulit.
Sejak dulu, Adri punya masalah dengan penampilannya. Darah Batak dan Tionghoa yang mengalir dalam dirinya menciptakan perpaduan—yang entah bagaimana—lebih menyerupai Oppa-Oppa Korea. Kulit Adri yang putih jauh lebih mulus dibanding kulitku. Rambutnya hitam lurus, dan dipanjangkan sampai sebatas leher. Alis melingkar sempurna yang selalu bikin iri para jemaah pensil alis, hidung kecil nan mancung, bulu mata lentik, dan bibir yang merah merekah. Berkali-kali dia mencoba menumbuhkan kumis dan jenggot supaya terlihat lebih macho. Sayangnya, nggak ada tanda-tanda kumis dan jenggot itu mau tumbuh di wajahnya.
Penampilan ini juga yang membuat Adri dirundung dan disepelekan oleh Ayah dan abangnya sendiri. Karena dia dianggap menyerupai perempuan. Penampilan ini juga yang membuat Adri terjun ke klub futsal. Karena dia merasa olahraga akan membuatnya terlihat lebih macho. Yaa ... selain karena Adri memang berbakat, sih.
Padahal siapa sih yang peduli dia macho atau nggak? Adri itu tampan! Kalau dia nggak sibuk menutup diri, aku yakin dia akan sama populernya dengan Dimas si kacrut itu.
"Enggak, lo ganteng, Dri," jawabku. "Kayak Lee Min Ho."
"Ish!" sontak Adri mengedikkan pundaknya, membuat kepalaku terpental. "Gue santet juga lo!" gerutunya kesal.
"Bener, lho. Nggak bohong gue. Lo aja yang nggak tahu kalau banyak cewek yang diam-diam manggil lo 'Oppa'!"
"Brilian!"
Aku tertawa lebar. Namun, setelahnya kutepuk-tepuk Pundak Adri beberapa kali. "Gue tahu lo pasti sebal banget, deh. Gue nggak tahu Bang Theo ngomong apa, tapi gue yakin itu bikin lo marah banget, sampe bisa rajin ngerjain tugas begitu."
Adri mengangguk.
"Bodo amat sih Bang Theo mau ngomong apa. Tapi kalau lo tanya pendapat gue, nggak kok. Lo ... ya kayak lo. Ya Adri. The one and only, Adrian Purba."
"Cielah, jangan gitu. Gue jadi baper."
"Terus kalau lo tanya pendapat gue lagi nih, nggak usah peduliin omongan Abang lo. Tahu sendiri dia seberengsek apa. Jangan sampai omongan dia bikin lo rajin lagi. Ntar gue nggak ada teman yang males ngerjain tugas."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Temu Rasa
Romance[Cerita ini akan menjadi gratis pada tanggal 15 September 2025] Brilian, seorang mahasiswa hukum berusia 20 tahun, berhasil bekerja part time di Kafe Ruang Temu Rasa, milik pria yang selama 1,5 tahun terakhir dicintainya diam-diam. Saat perasaannya...
