Saat Larung menawariku makan dulu sebelum pulang, sebenarnya aku berekspektasi kami akan makan di Warnastek yang biasa. Lagi pula, ini kan sudah pukul 22.30, memangnya mau makan di mana? Tapi ternyata, Larung membawaku ke tempat yang agak jauh, keluar dari lingkungan kampus.
Tadi dia bertanya aku mau makan apa. Lalu aku hanya menjawab "Yang penting jangan mahal-mahal, soalnya gajian juga belum." Larung hanya tertawa, dan tiba-tiba saja kami sudah berhenti di sebuah rumah makan sajian serba kerang.
"Nggak apa-apa, kan?" tanya Larung lagi, sembari menolehkan kepalanya sedikit dan membuka helmnya.
Well, sebenarnya agak mengkhawatirkan dompetku. Tapi sesekali, apalagi bersama Larung, nggak apa-apalah.
"Yep," jawabku dan melompat turun dari boncengan.
Karena hari sudah cukup malam, restoran yang cukup besar itu terlihat sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang mungkin makan malam terlambat seperti kami. Larung sedikit celingukan ketika memasuki restoran, lalu dia berjalan cepat menuju salah satu meja yang berada di balik tiang.
"Pesan aja, gue yang traktir," katanya.
"Hah?" Aku terkejut. "Eh, enggak! Enggak! Kemarin kan udah dibayarin."
"Nggak apa-apa, Bri."
"Nggak mau, Mas." Aku ngotot. "Gue bayar sendiri aja."
"Ya udah, okee," jawab Larung mengalah. "Bebas deh."
Aku meringis. Salah satu kemiripan Larung dengan Dimas adalah hobinya mentraktir. Ya, setidaknya kalau Dimas sedang punya duit.
"Btw, gimana RuTem? Lo betah kan?" Dia mengubah topik.
Aku mengangguk bersemangat. "Betah banget! Gue belajar banyak hal. Malahan gue ngerasa keren gitu karena udah bisa bikin kopi enak," jawabku sambil nyengir.
Larung tertawa. "Iya, enak kok kopi bikinan lo kemarin. Bang Erwan itu tutor yang hebat, ya. Apa kita buka kelas meracik kopi aja, ya, Bri? Lumayan kan buat tambahan pemasukan."
"Wah, bener banget tuh, Mas. Sekarang kan kedai kopi lagi hits banget nih. Di mana-mana orang bikin kedai kopi. Pasti banyak yang mau kursus." Aku menimpali dengan antusias. "Kalau ini berhasil, RuTem bisa bikin kelas-kelas lain di luar perkopian. Kelas masak sama Pak Ardi kek. Atau kelas apa gitu."
"Lah, bener juga lo, Bri." Larung berdecak kagum. "Nggak salah gue hire lo buat RuTem," pujinya yang membuatku seketika merona. "Oke, gue bakal masukin itu ke to-do list. By the way, gue udah bikin rancangan renovasi dan beberapa program yang kemarin lo usulkan. Lagi gue propose ke bokap sih. Tapi kayaknya Papa bakal oke-oke aja selama emang bisa ngasih dampak positif. Mau lihat?"
Aku mengangguk. Lalu Larung mengeluarkan notes dari dalam tasnya, dan menunjukkannya padaku. Di sana tercantum program-program yang akan dikembangkan untuk RuTem. Beberapa sesuai dengan obrolan kami kemarin-kemarin. Nggak hanya itu, Larung juga membuat sketsa sederhana untuk desain interior RuTem yang baru.
"Ini dibantuin sama temen gue anak arsitektur," terangnya saat menjelaskan tentang desain itu.
Kurasa aku sedikit terlalu bahagia saat tadi Larung mengajakku makan malam. Memangnya apa lagi yang bisa kami obrolkan selain soal pekerjaan? Untuk itu juga aku berada di RuTem, elaaah. Bri ... Bri ... Kenapa sih gampang banget terdistraksi oleh hal-hal nggak penting?
"Gue rencanain awal bulan udah mulai tahap renovasi. Selama renovasi itu, kita tetap buka, tapi buat take away aja. Nanti tolong bikinin pengumumannya di IG, ya," kata Larung.
"Oke sip."
"Gue juga rencanain outing nih. Ke mana ya kira-kira yang deket-deket aja, tapi oke gitu? Ada ide nggak?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Temu Rasa
Teen Fiction[Cerita ini akan menjadi gratis pada tanggal 15 September 2025] Brilian, seorang mahasiswa hukum berusia 20 tahun, berhasil bekerja part time di Kafe Ruang Temu Rasa, milik pria yang selama 1,5 tahun terakhir dicintainya diam-diam. Saat perasaannya...
