21. Padahal Setiap Hari Ketemu

42.7K 6.9K 590
                                        

Kasus Dimas terus bergulir. Aku mendapat update-nya dari Larung. Sebenarnya ada dua kasus yang menjerat Dimas, yaitu penyalahgunaan narkoba dan pengrusakan properti orang lain. Kata Larung, yang soal Dimas merusak mobil sugar daddy itu sudah diselesaikan dengan damai. Pihak si sugar daddy sudah memaklumi jiwa muda Dimas dan memaafkan perbuatan itu, serta mencabut tuntutannya di kantor polisi.

Aku nggak polos-polos amat, sih. Kurasa, itu karena Om Bara sudah turun tangan secara langsung. Biar bagaimanapun, orangtua Dimas dan Larung juga bukanlah orang sembarangan. Dan di saat ini, apa sih yang nggak bisa dilakukan dengan uang?

Meski begitu, aku juga menduga ada kesepakatan lain di antara Sugar Daddy dan Dimas. Aku menduga demikian, karena Larung pernah bilang "Orang itu cuma minta mobilnya diganti dan Dimas berhenti mencolek-colek miliknya lagi". Well, nggak sulit untuk menebak kalau yang dimaksud 'mencolek miliknya' adalah Irene. Walau begitu, aku enggan bertanya-tanya lebih jauh lagi.

Sedang untuk kasus narkoba, semuanya masih berjalan. Aku tahu semestinya Dimas dijerat dengan pasal penyalahgunaan narkoba dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara. Harusnya Dimas juga tahu soal ini sebelum berbuat bodoh begitu. Dia kan mahasiswa hukum juga!

Setelah proses berjalan, asesmen dari BNN keluar. Asesmen ini adalah rekomendasi dari BNN untuk menentukan apakah Dimas harus dipenjara atau direhabilitasi. Mengingat status Dimas sebagai pemakai, bukan pengedar, apalagi bandar, asesmen BNN menyarankan agar Dimas direhabilitasi. Saat ini sedang menunggu surat resmi untuk memulai proses rehabilitasi.

"Macam-macam sih, tergantung kondisi Dimas juga," jawabku ketika Larung bertanya soal proses rehabilitasi biasanya. "Ada yang cuma 28 hari, ada yang 2-3 bulan. Tergantung. Tapi untungnya pas di pengadilan, mereka sepakat direhabilitasi, ya."

Larung mengerutkan dahi. "Emang ada kemungkinan lain? Kan asesmen dari BNN jelas?"

Aku mengedikkan bahu. "Kadang suka gitu, Mas. Beda. Rekomendasi BNN direhabilitasi, tapi tetep dipenjara. Jadi, untuk kasus ini, harusnya itu bocah bersyukur!"

Larung ber-oh panjang. Aku sendiri berdecak lega. Kutelungkupkan tubuhku ke atas meja.

"Mampus dah tuh anak, udah pasti telat lulus. Harus ngulang satu semester. Untung aja nggak dikeluarin!"

Larung menatapku. "Kamu mau jenguk dia?" tanyanya.

Masih menelungkup. "Nggak, deh. Ntar aja kalau udah mulai rehab di RS. Eh tapi, Mas." Aku sontak bangun. "Om Bara gimana? Dimas diapain sama Om Bara?"

Larung tertawa kecil. "Ya biasalah. Papa marah-marah. Ngomel-ngomel sampai berjam-jam. Tapi ya tetep aja, Papa kerja keras supaya Dimas bisa tetep kuliah dan selesaiin kasus sama orang itu."

"Terus? Udah gitu doang?"

Larung mengedikkan bahu. "Nggak tahu deh nanti kalau dia udah kelar rehab. Uang sakunya disunat kali, terus dia disuruh kerja ngurusin kosan kalau mau dapat uang!"

Aku tertawa kecil, membayangkan betapa kesalnya Dimas kalau sampai disuruh ngurus kos-kosan milik keluarganya itu. Aku sudah membayangkan seberapa banyak keluhan dan sumpah serapah yang bakal keluar dari mulutnya.

"Mungkin persoalan ini bisa bikin dia lebih dewasa," gumamku. "Belakangan dia bikin aku sport jantung melulu. Aku tuh ngerasa Dimas kayak bom waktu, yang akan meledak sewaktu-waktu."

Larung tidak menjawab. Dia hanya menatapku. Mungkin menungguku melanjutkan kalimat. Di sini, aku sadar bahwa mungkin kalimatku tadi terdengar salah.

"Kamu nggak salah tangkap, kan?" tanyaku buru-buru. "Maksudnya, kamu ngerti kan kenapa aku ngerasa kayak gitu sama Dimas?"

Larung tertawa kecil, lalu dia meraih tanganku, lalu menempelkannya ke pipinya. Membuat wajahku seketika blushing nggak karuan.

Ruang Temu RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang