Napasku seketika melonggar begitu aku keluar dari pintu ganda yang berat itu. Rasanya aku ingin melonjak dan berteriak sekuat-kuatnya. Setelah berbulan-bulan perjalanan yang melelahkan ini, akhirnya karierku ada titik terang. Setelah penantian yang panjang dengan segala kecemasan dan kepanikan, akhirnya hidupku melangkah maju.
Well, setidaknya itu semua sudah berlalu. Aku berhasil diterima sebagai advokat magang di firma hukum Robert Hutagaol & Partners. Ini lebih dari yang kubayangkan, karena firma hukum RH ini cukup populer di kalangan praktisi. Aku lega. Sangat-sangat lega, tetapi, kelegaan ini masih harus disalurkan dengan semestinya.
Oke, itu bisa nanti-nanti. Setidaknya aku perlu mengabari Ibu bahwa aku berhasil lolos kali ini.
Kurogoh saku blazerku untuk mengeluarkan ponsel. Saat menyala, layar ponselku langsung menampilkan aplikasi Instagram yang terakhir kubuka. Foto itu kembali tertangkap mataku. Foto yang sederhana. Dua orang berdiri berdampingan membelakangi kamera dan saling menatap satu sama lain sambil tersenyum dengan latar belakang Bradenburg Gate yang megah. Foto Larung. Dengan seorang cewek berhijab, yang kupikir adalah pacar barunya.
Hatiku terasa seperti dicubit, tapi nggak separah sebelumnya saat kali pertama aku melihat foto ini. Mungkin karena euforia diterima magang ini terlalu meluap-luap sampai aku nggak bisa memikirkan hal lain. Atau bisa juga ... aku sudah menerima fakta yang kulihat. Yang mana pun, kuhela napas panjang sekali lagi, lalu senyumku kembali melebar. Kututup halaman Instagram itu, dan segera kubuka aplikasi WhatsApp untuk mengirim kabar pada Ibu.
Dengan langkah-langkah riang, aku menyusuri koridor kantor RH & Partners menuju pintu keluar. Aku baru mulai masuk kerja minggu depan. Di lobi kantor yang serba putih dengan ornamen Scandinavian itu, Adri menungguku. Kecemasan dan penasaran menghiasi wajahnya. Dia segera berdiri saat aku muncul.
"Gimana?" tanyanya cepat-cepat. "Berhasil?"
Awalnya aku memasang ekspresi sedih dan putus asa untuk mengerjai Adri. Tapi nggak bisa lama-lama karena aku payah dalam berakting. Tinggal lima langkah lagi, dan aku malah nggak sanggup menahan cengiranku.
"Dapet?" seru Adri dengan penuh semangat.
Aku mengangguk.
"Yes!"
Adri sontak memiting leherku dengan pelukan. Aku tertawa kecil. Kami membuat sedikit kehebohan di lobi, tapi kurasa semua orang sudah paham apa makna kehebohan di kantor seperti ini.
"Kudu dirayain!" kata Adri. "Lo tunggu di depan ya. Gue ambil motor di parkiran."
"Hah? Serius? Lo nggak kerja emang?" tanyaku bingung.
"Gue udah izin kok," jawab Adri. "Gue musti ikut Pak Robert ke pengadilan pukul 3 sore nanti. Jadi kita masih punya beberapa jam. Sana, tunggu gue di depan!"
Adri berjalan cepat menuju lift. Mungkin dia hendak mengambil tas terlebih dahulu. Aku pun keluar kantor RH dengan cengiran yang nggak hilang-hilang. Ya, aku memang selega dan segembira itu. Aku sudah tahu bahwa jalan menjadi advokat itu sulit. Tapi aku baru tahu bahwa itu akan sesulit ini.
Selepas wisuda, dengan uang yang kukumpulkan mati-matian dengan part time, aku langsung mendaftar ke Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA). Setelah tiga bulan pendidikan, aku langsung ikut UPA, dan keberuntunganku besar karena berhasil lulus di percobaan pertama. Sayangnya, keberuntunganku hanya berhenti di situ. Setelah lulus UPA dan mendapat sertifikat, seharusnya aku mencari kantor untuk menjalani magang selama dua tahun sebelum resmi menjadi advokat. Dan tahap inilah, yang ternyata jauh lebih sulit dari yang kupikirkan.
Aku menghabiskan waktu lebih dari 6 bulan setelah lulus UPA untuk mengirim lamaran magang ke sana kemari. Menemui senior-senior alumni hanya untuk mencari informasi tentang lowongan magang. Berkelana dari ujung kota ke ujung yang lain untuk mencari firma hukum yang kira-kira memenuhi syarat untuk menjadi tempat magang, sekaligus membuka lowongan. Namun, dari puluhan surat lamaran yang kumasukkan, paling hanya 25% yang berlanjut ke panggilan wawancara. Stres jangan lagi ditanya. Selama lebih enam bulan karier hukumku stuck. Pekerjaan yang kupunya hanya part time di berbagai kafe dan restoran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Temu Rasa
Romance[Cerita ini akan menjadi gratis pada tanggal 15 September 2025] Brilian, seorang mahasiswa hukum berusia 20 tahun, berhasil bekerja part time di Kafe Ruang Temu Rasa, milik pria yang selama 1,5 tahun terakhir dicintainya diam-diam. Saat perasaannya...
