23. How Other People Thinking About Us

35.6K 6.2K 598
                                        

Meski mereka mau-mau saja membantuku, aku yakin sebenarnya Adri, Toro, dan juga Dimas membodoh-bodohkan aku dalam pikirannya. Maksudku, cuma cewek bego yang mau-mau saja menjalani hubungan semacam hubunganku dengan Larung ini kan? Harus jauh-jauh kalau ingin kencan. Pun bila ketahuan Sonia, aku yang harus mengalah dan menyingkir dengan mudah.

Kadangkala, aku lebih merasa seperti selingkuhan dibanding pacar betulan. Yang paling menyedihkan, aku tidak tahu sampai kapan situasi ini terjadi. Kalau menilik kata-kata Larung dulu, sampai Sonia jatuh cinta pada orang lain, itu bisa saja membutuhkan waktu sampai seratus tahun.

Entah kapan mulainya, aku sudah belajar untuk nggak berharap muluk-muluk tentang Larung. Aku selalu berusaha selow saja dan menjalani semuanya dengan santai. Aku belajar akting untuk mengontrol emosi sekaligus belajar untuk nggak gampang baper. Ya meski seringnya nggak terhindarkan sih.

Jadi, ketika dihadapkan pada kemunculan Sonia yang tiba-tiba di toko buku ini, wajahku seperti sudah ter-default untuk berubah ekspresi. Tak ada lagi cengiran bahagia karena Larung mengajakku nonton berdua saja. Tak ada lagi ekspresi tersipu karena Larung menggandeng tanganku. Aku hanya tersenyum lebar dan menyapa, "Eh, halo, Kak Son!"

Seperti yang kuduga, Sonia nggak termakan dengan sapaan ramahku. Dia masih saja menatapku dengan curiga. Jadi kuteruskan saja aktingku.

"Iya nih, aku mau nitip komik buat Dimas. Kasihan dia pasti bosan di rumah sakit."

"Dimas masih di tempat rehab?" tanya Sonia.

Aku mengangguk, "Tadi nggak sengaja ketemu Mas Larung di bawah. Katanya dia mau ke tempat Dimas. Ya udah aku seret aja ke sini, biar langsung bisa kutitipin komik buat Dimas."

"Oh ... kok lo nggak ke sana sendiri?" tanya Sonia, masih penuh kecurigaan.

Aku nyengir kecut, "Aku nggak sempat. Lagi penuh banget tugas kampus. Dan habis kuliah kan harus ke RuTem."

Sonia mengangguk-angguk. Sampai di tahap ini, kurasa semuanya masih aman terkendali. Aku menoleh pada Larung. Dia juga sedang menatapku dengan ekspresi aneh. Ekspresi yang entah bagaimana, aku nggak suka. Rasanya ekspresi itu mengandung bahaya.

"Hmm ... ya udah deh. Moga-moga Dimas bisa segera keluar, ya, Bri," kata Sonia. Dengan tawa kecil dia menghampiri Larung dan menggelendot di lengannya. "Kalau gitu, sekalian temenin aku nyari buku referensi buat materi debat ya, Rung? Yuk!"

Aku nggak suka dengan apa yang kulihat. Aku benci dan aku nggak mau melihatnya.

"Kalau gitu gue cari komiknya dulu, ya, Mas. Bentar aja," pamitku buru-buru ingin menghilang dari tempatku saat ini.

"Brilian."

Baru dua langkah aku berjalan, Larung memanggilku. Aku berbalik dan menatapnya penuh tanya. Mataku sontak melebar ketika melihat Larung melepaskan tangan Sonia dari lengannya. Lalu dia berlahan menghampiriku. Setiap langkahnya terasa seperti adegan film horor di mataku. Apalagi saat kemudian dia meraih tanganku. Semua itu seolah terjadi dalam efek slow motion di kepalaku. Ruang di sekitar kami mendadak hening saat genggaman Larung terasa hangat di tanganku. Aku tahu riwayatku tamat ketika Larung menarikku, hingga begitu dekat di sisinya.

"Sori, Son. Gue sama Brilian," kata Larung tenang, tetapi terdengar seperti efek petir di sinetron-sinetron aneh yang tayang tujuh hari seminggu itu.

Sontak aku mendongak dengan mulut ternganga. Namun, Larung tidak sedang melihatku. Dia menatap Sonia lurus-lurus, sedangkan yang ditatap mulai mengernyitkan dahi. Tak lama kemudian, Larung mengambil buku di tanganku, dan menaruhnya di sembarang tumpukan di dekat kami. Matanya seolah mau bilang kalau kami harus mencari buku di tempat lain. Namun, sebelum aku dan Larung pergi, Sonia memanggilnya.

Ruang Temu RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang